Rintrik dan Imajinasi Gelap Danarto di Panggung Festival Teater Indonesia
22 December 2025 |
17:19 WIB
Pohon-pohon gundul berdiri tegak dengan batang bergelantungan di langit panggung. Di latar tengah, seorang perempuan buta berdiri di atas batu. Rambutnya terurai memutih, tubuhnya kurus dengan pakaian compang-camping. Suara angin mendesau kian kencang, menarik pakaian perempuan itu hingga berkibar.
Matanya yang cekung sesekali menerawang dalam gelap, menandai tubuh yang terasing sekaligus sakral. Penduduk desa di dekat lembah itu memanggilnya Rintrik yang Buta.
Adegan tersebut ditampilkan Teater Kubur pada Selasa, 16 Desember 2025, di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pementasan ini menutup Festival Teater Indonesia (FTI) Jakarta 2025, yang berlangsung pada 14–16 Desember 2025.
Baca juga: Rayakan Sastra, FTI Jakarta Dibuka Adaptasi Y.B. Mangunwijaya, Ditutup Adaptasi Danarto
Berjudul Rintrik, pementasan ini berangkat dari salah satu cerpen Danarto dalam kumpulan Godlob (1967). Judulnya nonverbal, berupa simbol hati tertusuk panah, menegaskan kecenderungan karya Danarto pada wilayah makna yang tak sepenuhnya bisa dijinakkan oleh bahasa, apalagi panggung.
Rintrik adalah tokoh utamanya, seorang perempuan tua yang tinggal di sebuah lembah yang permai. Namun, tempat itu menjadi nista karena banyak bayi yang dibuang di situ. Syahdan, Rintrik datang ke tempat tersebut dan menguburkan orok yang dibuang tanpa menagih upah.
Dalam cerpen, Rintrik juga selalu memainkan piano setelah memakamkan janin. Seperti karya Danarto lain, Rintrik bergerak dalam wilayah surealisme dengan citraan filmis dan refleksi ketuhanan yang intens, menghadirkan simbol-simbol yang tidak menawarkan tafsir tunggal.
Teater Kubur menerjemahkan teks ini dengan menitikberatkan kekuatan visual. Latar panggung yang chaotic dengan warna neon berhasil membangun suasana dunia Danarto. Hadirnya simbol visual, seperti pohon yang merunduk dan ranting terbawa angin, semakin memperkuat atmosfer pementasan.
Replika piano di atas panggung menjadi salah satu elemen kunci. Adegan puluhan orok yang melayang—digerakkan aktor dengan teknik teater boneka—menjadi momen paling kuat secara visual, meskipun cukup berisiko karena menuntut kesiapan estetik penonton untuk membaca simbol yang berlapis.
Dindon W.S. mengatakan, sebelum dipentaskan di FTI 2025, Rintrik pernah dimainkan pada 1987 di Gelanggang Remaja Jakarta Selatan. Sejumlah pemainnya bahkan masih ikut dalam pertunjukan kali ini bersama anak mereka, meskipun dari segi artistik, penafsiran, dan panggung berubah, dari arena ke proscenium.
“Sebetulnya karya ini sudah lama saya pelajari. Waktu itu umur saya masih di bawah 20. Kami mencoba melatih keterampilan menghidupkan teks yang sangat dalam oleh anak muda dengan pengalaman batin yang masih terbatas,” katanya.
Menurut Dindon, generasi muda saat ini memang lebih luwes dalam menerjemahkan teks berat Danarto. Bahkan, dia juga memberi ruang eksplorasi untuk mengintervensi aspek teknis bila perlu. Aktor juga dapat membawa proses ke kehidupan sehari-hari.
Namun, yang ditekankan pada aktor adalah pentingnya menafsir “teks tak tertulis” dari cerpen agar dorongan batin mereka dapat menggerakkan kausalitas permainan. Teknik inilah, papar Dindon, yang dapat menjadi fondasi akting para aktor untuk bermain realis maupun non realis.
Zazila, sebagai Rintrik, tampil meyakinkan dalam menjaga keseimbangan antara teks dan gestur. Dia berhasil menghindari nada khotbah, meski dialognya sarat nilai spiritual. Ahmad Dimyati, sebagai Pemburu, juga memberi kontras dramatik, dengan karakternya yang lebih berfungsi sebagai simbol ketimbang figur psikologis.
“Tokoh Rintrik ini menarik buat saya. Karena tahun 1987 itu saya belum ikut main," ujar Zazila. Dia juga berhasil mengolah teks cerpen yang panjang, menjadikannya dialog yang bernas, penuh dengan renungan antara hubungan manusia dengan sesama, dan Pencipta.
Di akhir pertunjukan misalnya, saat Rintrik disalib oleh Pemburu dan dua anak buahnya. Keinginan terakhirnya sebelum mati justru memilih syahwat yang besar untuk melihat wajah Tuhan. Maka gegerlah seluruh lembah tersebut, dan Rintrik yang buta terkulai, sambil tersenyum.
Dalam hal ini, Rintrik tak hanya “menerjemahkan” sastra ke panggung, melainkan memindahkan imajinasi tekstual ke realitas spasial dan temporal. Dari teks yang hidup di kepala pembaca, karya ini berhasil meruang dan mewaktu lewat tubuh aktor, tata artistik, bunyi, dan ritme panggung yang puitis.
Menariknya, Dindon juga berhasil menafsir cerpen dengan tidak melulu terjebak pada konsep spiritual. Salah satunya lewat adegan sogok-menyogok saat dua perempuan muda membuang bayi mereka ke lembah tersebut. Hal yang semula dilarang kemudian dapat berjalan mulus setelah aparat mendapat segepok uang.
Sapardi Djoko Damono (1940–2020), dalam pengantarnya untuk kumpulan cerpen Godlob, menyebut bahwa hampir seluruh cerpen Danarto dalam buku ini menyindir berbagai persoalan sosial, politik, dan moral dengan balutan mistis. Namun, tokoh Rintrik dianggap yang paling ganjil, karena pada bagian akhir dia justru memilih perjumpaan langsung dengan Tuhan.
“Kehidupan seorang mistik pada hakikatnya adalah kerinduan yang semakin lama semakin memuncak pada Sang Kekasih, yang tak lain adalah Penciptanya sendiri,” tulis Sapardi.
Berdurasi 70 menit, Rintrik bukan sekadar alih wahana cerpen, melainkan tafsir kreatif yang menyerap roh Godlob dan pengalaman sosial-spiritual di luar teks. Dia menjadi dialog lintas waktu antara Danarto, sutradara, aktor, dan penonton, meski tidak sepenuhnya ramah bagi semua khalayak.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Matanya yang cekung sesekali menerawang dalam gelap, menandai tubuh yang terasing sekaligus sakral. Penduduk desa di dekat lembah itu memanggilnya Rintrik yang Buta.
Adegan tersebut ditampilkan Teater Kubur pada Selasa, 16 Desember 2025, di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pementasan ini menutup Festival Teater Indonesia (FTI) Jakarta 2025, yang berlangsung pada 14–16 Desember 2025.
Baca juga: Rayakan Sastra, FTI Jakarta Dibuka Adaptasi Y.B. Mangunwijaya, Ditutup Adaptasi Danarto
Berjudul Rintrik, pementasan ini berangkat dari salah satu cerpen Danarto dalam kumpulan Godlob (1967). Judulnya nonverbal, berupa simbol hati tertusuk panah, menegaskan kecenderungan karya Danarto pada wilayah makna yang tak sepenuhnya bisa dijinakkan oleh bahasa, apalagi panggung.
Rintrik adalah tokoh utamanya, seorang perempuan tua yang tinggal di sebuah lembah yang permai. Namun, tempat itu menjadi nista karena banyak bayi yang dibuang di situ. Syahdan, Rintrik datang ke tempat tersebut dan menguburkan orok yang dibuang tanpa menagih upah.
_crop.jpg)
Pemain Teater Kubur mementaskan lakon Rintrik, pada penutupan Festival Teater Indonesia (FTI) Jakarta 2025, di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa, (16/12/25). (sumber gambar: FTI 2025)
Teater Kubur menerjemahkan teks ini dengan menitikberatkan kekuatan visual. Latar panggung yang chaotic dengan warna neon berhasil membangun suasana dunia Danarto. Hadirnya simbol visual, seperti pohon yang merunduk dan ranting terbawa angin, semakin memperkuat atmosfer pementasan.
Replika piano di atas panggung menjadi salah satu elemen kunci. Adegan puluhan orok yang melayang—digerakkan aktor dengan teknik teater boneka—menjadi momen paling kuat secara visual, meskipun cukup berisiko karena menuntut kesiapan estetik penonton untuk membaca simbol yang berlapis.
Dindon W.S. mengatakan, sebelum dipentaskan di FTI 2025, Rintrik pernah dimainkan pada 1987 di Gelanggang Remaja Jakarta Selatan. Sejumlah pemainnya bahkan masih ikut dalam pertunjukan kali ini bersama anak mereka, meskipun dari segi artistik, penafsiran, dan panggung berubah, dari arena ke proscenium.
“Sebetulnya karya ini sudah lama saya pelajari. Waktu itu umur saya masih di bawah 20. Kami mencoba melatih keterampilan menghidupkan teks yang sangat dalam oleh anak muda dengan pengalaman batin yang masih terbatas,” katanya.
Menurut Dindon, generasi muda saat ini memang lebih luwes dalam menerjemahkan teks berat Danarto. Bahkan, dia juga memberi ruang eksplorasi untuk mengintervensi aspek teknis bila perlu. Aktor juga dapat membawa proses ke kehidupan sehari-hari.
Namun, yang ditekankan pada aktor adalah pentingnya menafsir “teks tak tertulis” dari cerpen agar dorongan batin mereka dapat menggerakkan kausalitas permainan. Teknik inilah, papar Dindon, yang dapat menjadi fondasi akting para aktor untuk bermain realis maupun non realis.

Pemain Teater Kubur mementaskan lakon Rintrik, pada penutupan Festival Teater Indonesia (FTI) Jakarta 2025, di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa, (16/12/25). (sumber gambar: FTI 2025)
“Tokoh Rintrik ini menarik buat saya. Karena tahun 1987 itu saya belum ikut main," ujar Zazila. Dia juga berhasil mengolah teks cerpen yang panjang, menjadikannya dialog yang bernas, penuh dengan renungan antara hubungan manusia dengan sesama, dan Pencipta.
Di akhir pertunjukan misalnya, saat Rintrik disalib oleh Pemburu dan dua anak buahnya. Keinginan terakhirnya sebelum mati justru memilih syahwat yang besar untuk melihat wajah Tuhan. Maka gegerlah seluruh lembah tersebut, dan Rintrik yang buta terkulai, sambil tersenyum.
Dalam hal ini, Rintrik tak hanya “menerjemahkan” sastra ke panggung, melainkan memindahkan imajinasi tekstual ke realitas spasial dan temporal. Dari teks yang hidup di kepala pembaca, karya ini berhasil meruang dan mewaktu lewat tubuh aktor, tata artistik, bunyi, dan ritme panggung yang puitis.
Menariknya, Dindon juga berhasil menafsir cerpen dengan tidak melulu terjebak pada konsep spiritual. Salah satunya lewat adegan sogok-menyogok saat dua perempuan muda membuang bayi mereka ke lembah tersebut. Hal yang semula dilarang kemudian dapat berjalan mulus setelah aparat mendapat segepok uang.
Sapardi Djoko Damono (1940–2020), dalam pengantarnya untuk kumpulan cerpen Godlob, menyebut bahwa hampir seluruh cerpen Danarto dalam buku ini menyindir berbagai persoalan sosial, politik, dan moral dengan balutan mistis. Namun, tokoh Rintrik dianggap yang paling ganjil, karena pada bagian akhir dia justru memilih perjumpaan langsung dengan Tuhan.
“Kehidupan seorang mistik pada hakikatnya adalah kerinduan yang semakin lama semakin memuncak pada Sang Kekasih, yang tak lain adalah Penciptanya sendiri,” tulis Sapardi.
Berdurasi 70 menit, Rintrik bukan sekadar alih wahana cerpen, melainkan tafsir kreatif yang menyerap roh Godlob dan pengalaman sosial-spiritual di luar teks. Dia menjadi dialog lintas waktu antara Danarto, sutradara, aktor, dan penonton, meski tidak sepenuhnya ramah bagi semua khalayak.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.