Pangan lokal (Sumber Foto: Freepik/stockking)

Menggali Potensi Pangan Lokal Bergizi dan Mudah Dibudidayakan

22 December 2025   |   19:41 WIB
Image
Kintan Nabila Jurnalis Hypeabis.id

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan keberagaman pangan lokal terbesar. Hampir setiap daerah memiliki bahan pangan alami yang kaya nutrisi dan nilai budaya. Namun, perubahan gaya hidup dan pola konsumsi membuat pangan lokal perlahan tersisih oleh produk olahan, instan, dan impor yang dianggap lebih praktis.

Hilangnya kedekatan masyarakat dengan pangan lokal ini dinilai tidak hanya mengurangi keragaman konsumsi, tetapi juga berpotensi melemahkan pola makan berimbang sekaligus memudarkan pengetahuan dan praktik tradisional yang selama ini diwariskan lintas generasi.

Baca juga: Resep Konservasi Laut agar Pangan Tak Menyusut

Padahal, di balik pangan lokal tersimpan praktik pengolahan, nilai sosial, hingga pengetahuan ekologis yang selama berabad-abad menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan budaya makan Nusantara.

Repa Kustipia, Research Director Center for Study Indonesian Food Anthropology (CS-IFA), menekankan bahwa pangan lokal tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang kehidupan masyarakat Nusantara. Pangan lokal merupakan hasil trajektori sejarah, mulai dari masa pemburu-peramu, pertanian awal, sistem agraris kerajaan, hingga masuknya sistem pangan kolonial dan industri modern. 

"Setiap fase tersebut membentuk cara masyarakat mengenal, mengolah, dan memaknai makanan dalam kehidupan sehari-hari," katanya dalam sesi talkshow bertajuk Melacak Jejak Pangan Nusantara yang digelar oleh Kompasiana.

Kepala Riset Hortikultura dan Perkebunan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dwinita Wikan Utami menyayangkan banyak masyarakat yang kurang tertarik dengan pangan lokal padahal komoditas ini sangat unggul dari segi gizi dan pembudidayaannya.

Berbagai pangan lokal di antaranya seperti Kelompok Serealia seperti Jagung lokal, Padi Berpigmen, Hanjeli, Sorgum, Milet. Kacang-kacangan seperti Kacang Tunggak, Koro Pedang, Komak, Kacang Merah. Umbi-umbian seperti Singkong, Talas, Gembilii, Ganyong, Porang. Buah-buahan seperti Pisang, Sukun dan kelompok palma seperti Sagu.

Pangan lokal kaya nutrisi mikro, memiliki indeks glikemik lebih rendah, serta mengandung protein dan vitamin penting. Selain itu, juga selaras dengan budaya makan masyarakat, sehingga relevan, mudah diterima, dan berkelanjutan.

Sementara itu, dari segi budidaya juga unggul karena lebih adaptif terhadap iklim dan kondisi alam Indonesia, sehingga memiliki ketahanan tinggi. Kebutuhan seperti pupuk, air, dan pestisida juga relatif rendah, membuatnya lebih ramah lingkungan. 

Menurut Dwinita pengembangan pangan lokal, hanya dapat berjalan optimal jika peneliti, pemerintah daerah, dan masyarakat bekerja bersama, sehingga temuan riset tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat diterjemahkan menjadi praktik yang bermanfaat.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Rintrik dan Imajinasi Gelap Danarto di Panggung Festival Teater Indonesia

BERIKUTNYA

TMII Gelar Konser Sorak Sorai Festival 2.0 Jelang Nataru, Ada Slank sampai Barasuara

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga