Mengungkit Kebahagiaan Melalui Seni
21 December 2025 |
10:00 WIB
Mungkinkah sebuah karya seni menjadi azimat bertuah yang kemudian menjadi layak untuk dikeramatkan? Sementara, dalam pandangan sebagian orang, mengeramatkan karya seni-apapun mediumnya-dinilai tidak masuk akal, atau bahkan tabu.
Bagaimana mungkin patung, atau lukisan yang fungsinya terbatas sebagai elemen dekoratif 'naik kasta' karena disakralkan? Apalagi dengan alasan itu, art dealer seakan berkuasa menyematkan harga jual yang tinggi sehingga karya seni yang dinilai bertuah tersebut menjadi makin tak masuk akal.
Pada kenyataannya, masalah keramat mengeramatkan karya seni menjadi bagian dari upaya pencinta seni untuk memuaskan dan membahagiakan diri di tengah keterbatasan pergerakan manusia, seperti pada masa pandemi Covid-19.
Baca Juga: Film Dokumenter Adalah...
Seluruh narasi ini seiring dengan kredo maestro seni rupa Jeihan Sukmantoro. Dalam satu kesempatan, Jeihan menuturkan selagi ada seniman gila, pada saat yang sama bakal muncul kolektor yang gila.
Gila yang dimaksud oleh seniman berjuluk Si Mata Hitam ini adalah keberanian seniman untuk membuat karya yang out of the box, sekaligus percaya diri untuk memasang harga yang mampu membelalakkan mata. Tentu saja cara mematok harga tidak berkutat pada pertimbangan historis dan teknis karya semata.
Contoh kegilaan yang dimaksud Jeihan terlihat pada peristiwa menghebohkan di medan seni rupa dunia yang terjadi pada waktu yang belum lama berselang. Seniman kontemporer asal Italia, Salvatore Garau, berhasil melelang patung immaterial buatannya senilai Rp262 juta.
Keberhasilannya menjual karya immaterial berjudul I Am ini sudah barang tentu menambah panjang daftar transaksi gila yang pernah terjadi di jagat seni rupa. Ditilik dari nilainya, karya Salvatore Garau ibarat bumi dan langit jika dibandingkan dengan penjualan lukisan Salvator Mundi besutan Leonardo Da Vinci. Karya yang bertarikh 1500 tersebut, terjual Rp6,5 triliun di balai lelang Christie's New York, Amerika Serikat.
Namun, dari sisi kegilaan, patung I Am tentu saja lebih unggul melampaui Salvator Mundi.
Apa sebab? I Am adalah patung tak kasat mata. Sesuai dengan namanya, karya ini tidak dapat dilihat apalagi dirasa atau dipegang. Kolektor seni yang rela merogoh kocek hingga ratusan juta untuk membeli karya ini hanya dapat membawa pulang sertifikat keaslian karya yang uniknya dilengkapi dengan instruksi cara memajang karya.
Gaduh sudah jagat seni rupa dunia.
Kritikus seni kontemporer ramai-ramai menuding karya Garau sekadar menebar sensasi, minim nilai apalagi substansi. Garau menangkis tudingan itu dengan cerdas. Menurutnya, transaksi karya yang tak kasat mata itu menjadi bukti bahwa karyanya bernilai. Karya tak kasat mata merupakan wujud ruang kosong yang penuh energi.
Keputusannya untuk memperlihatkan patung tak kasat mata dalam ruang tertentu akan dipercaya membuat patung I Am akan 'terlihat' dalam bentuk yang bervariasi tergantung pada imajinasi siapa saja yang 'melihat'. Energi yang terpancar dari karya tak kasat mata memberikan kebahagiaan pada pencinta seni.
Kebahagiaan dari kacamata seniman berusia 67 tahun ini barangkali secara harfiah adalah rasa puas yang tak berkesudahan dan tidak terhubung dengan energi. Namun, di balik segala yang harfiah tersebut, justru menjadi tempat persemayaman energi. Terlebih lagi ketika rasa yang diantarkan oleh getaran energi dapat 'dibaca' dengan jelas oleh hati yang menjadi saripati terciptanya karya seni.
Pendek kata, seluruh rasa, urusannya dengan hati. Asal hati marem, tak lagi menjadi soal kendati mendapatkan kritik pedas yang memerahkan telinga. Kritik dan nilai nominal yang disematkan dalam karya sudah tak lagi menjadi ukuran.
Dalam ruang inilah Garau ingin menggedor kesadaran siapa saja yang terlibat di dunia seni rupa bahwa penilaian karya apalagi aliran kontemporer tidak terbelenggu pada masalah teknis, historis, dan filosofi.
Sebagai seniman, Salvatore Garau memang dikenal dengan karya seni yang nyeleneh alias tak lazim. Rekam jejak seni rupanya yang membuat geger dimulai pada medio 2006 ketika membuat kolam besar di dalam gereja yang berlokasi di Sardinia Oristano, Italia. Kolam besar yang dibuat di lantai tiga gereja ini diisi dengan ikan yang ditangkap dari danau.
Eksperimennya di aliran kontemporer berlanjut dengan membuat patung tak kasat mata perdana yang diberi judul Buddha in Contemplation. Patung ini ditempatkan sekitar 25 meter dari pintu masuk Gallerie d'Italia. Seri patung tak kasat mata lainnya juga pernah dipamerkan di New York.
Melalui hal tersebut, seni yang paling absurd sekalipun akan mempu memperlihatkan dimensi transenden, sekaligus spiritual. Sebaliknya, seni yang dinilai paling mapan sekalipun jika tidak tanggap terhadap persoalan mendasar dunia manusia, akan kehilangan maknanya. Atau paling banter hanya dianggap sebagai seni dekoratif atau hiburan semata.
Apakah karya-karya seni kontemporer yang absurd dan membuat riuh di jagat seni rupa itulah yang layak dilestarikan atau ditinggalkan? Semua itu kembali lagi pada imajinasi yang membentuk persepsi di alam pikiran kolektor dan para pencinta seni.
Menikmati karya seni entah diperlakukan seperti azimat atau dibiarkan menggantung sebagai ornamen dekorasi pengisi kekosongan dinding, tergantung pada alam rasa dari para kolektor, pencinta seni, dan seniman itu sendiri.
Karya seni yang dapat menggetarkan batin manusia menjadi elemen penting ketika memandang suatu karya. Pendek kata, stempel kebahagiaan yang muncul dalam hati siapa saja yang tengah menikmati karya seni jauh lebih hakiki dari pada sekadar berkutat dalam perdebatan estetik.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Bagaimana mungkin patung, atau lukisan yang fungsinya terbatas sebagai elemen dekoratif 'naik kasta' karena disakralkan? Apalagi dengan alasan itu, art dealer seakan berkuasa menyematkan harga jual yang tinggi sehingga karya seni yang dinilai bertuah tersebut menjadi makin tak masuk akal.
Pada kenyataannya, masalah keramat mengeramatkan karya seni menjadi bagian dari upaya pencinta seni untuk memuaskan dan membahagiakan diri di tengah keterbatasan pergerakan manusia, seperti pada masa pandemi Covid-19.
Baca Juga: Film Dokumenter Adalah...
Seluruh narasi ini seiring dengan kredo maestro seni rupa Jeihan Sukmantoro. Dalam satu kesempatan, Jeihan menuturkan selagi ada seniman gila, pada saat yang sama bakal muncul kolektor yang gila.
Gila yang dimaksud oleh seniman berjuluk Si Mata Hitam ini adalah keberanian seniman untuk membuat karya yang out of the box, sekaligus percaya diri untuk memasang harga yang mampu membelalakkan mata. Tentu saja cara mematok harga tidak berkutat pada pertimbangan historis dan teknis karya semata.
Contoh kegilaan yang dimaksud Jeihan terlihat pada peristiwa menghebohkan di medan seni rupa dunia yang terjadi pada waktu yang belum lama berselang. Seniman kontemporer asal Italia, Salvatore Garau, berhasil melelang patung immaterial buatannya senilai Rp262 juta.
Keberhasilannya menjual karya immaterial berjudul I Am ini sudah barang tentu menambah panjang daftar transaksi gila yang pernah terjadi di jagat seni rupa. Ditilik dari nilainya, karya Salvatore Garau ibarat bumi dan langit jika dibandingkan dengan penjualan lukisan Salvator Mundi besutan Leonardo Da Vinci. Karya yang bertarikh 1500 tersebut, terjual Rp6,5 triliun di balai lelang Christie's New York, Amerika Serikat.
Namun, dari sisi kegilaan, patung I Am tentu saja lebih unggul melampaui Salvator Mundi.
Apa sebab? I Am adalah patung tak kasat mata. Sesuai dengan namanya, karya ini tidak dapat dilihat apalagi dirasa atau dipegang. Kolektor seni yang rela merogoh kocek hingga ratusan juta untuk membeli karya ini hanya dapat membawa pulang sertifikat keaslian karya yang uniknya dilengkapi dengan instruksi cara memajang karya.
Gaduh sudah jagat seni rupa dunia.
Kritikus seni kontemporer ramai-ramai menuding karya Garau sekadar menebar sensasi, minim nilai apalagi substansi. Garau menangkis tudingan itu dengan cerdas. Menurutnya, transaksi karya yang tak kasat mata itu menjadi bukti bahwa karyanya bernilai. Karya tak kasat mata merupakan wujud ruang kosong yang penuh energi.
Keputusannya untuk memperlihatkan patung tak kasat mata dalam ruang tertentu akan dipercaya membuat patung I Am akan 'terlihat' dalam bentuk yang bervariasi tergantung pada imajinasi siapa saja yang 'melihat'. Energi yang terpancar dari karya tak kasat mata memberikan kebahagiaan pada pencinta seni.
Kebahagiaan dari kacamata seniman berusia 67 tahun ini barangkali secara harfiah adalah rasa puas yang tak berkesudahan dan tidak terhubung dengan energi. Namun, di balik segala yang harfiah tersebut, justru menjadi tempat persemayaman energi. Terlebih lagi ketika rasa yang diantarkan oleh getaran energi dapat 'dibaca' dengan jelas oleh hati yang menjadi saripati terciptanya karya seni.
Pendek kata, seluruh rasa, urusannya dengan hati. Asal hati marem, tak lagi menjadi soal kendati mendapatkan kritik pedas yang memerahkan telinga. Kritik dan nilai nominal yang disematkan dalam karya sudah tak lagi menjadi ukuran.
Dalam ruang inilah Garau ingin menggedor kesadaran siapa saja yang terlibat di dunia seni rupa bahwa penilaian karya apalagi aliran kontemporer tidak terbelenggu pada masalah teknis, historis, dan filosofi.
Sebagai seniman, Salvatore Garau memang dikenal dengan karya seni yang nyeleneh alias tak lazim. Rekam jejak seni rupanya yang membuat geger dimulai pada medio 2006 ketika membuat kolam besar di dalam gereja yang berlokasi di Sardinia Oristano, Italia. Kolam besar yang dibuat di lantai tiga gereja ini diisi dengan ikan yang ditangkap dari danau.
Eksperimennya di aliran kontemporer berlanjut dengan membuat patung tak kasat mata perdana yang diberi judul Buddha in Contemplation. Patung ini ditempatkan sekitar 25 meter dari pintu masuk Gallerie d'Italia. Seri patung tak kasat mata lainnya juga pernah dipamerkan di New York.
Pascamodern
Dalam situasi seperti ini, seni dapat berperan merayakan kesadaran atas dimensi terdalam di balik jatuh bangunnya manusia. Sekaligus turut mengomunikasikan dengan cara menyentuh batin dan harapan utopis yang tersembunyi di dalam relung sunyi hati manusia.Melalui hal tersebut, seni yang paling absurd sekalipun akan mempu memperlihatkan dimensi transenden, sekaligus spiritual. Sebaliknya, seni yang dinilai paling mapan sekalipun jika tidak tanggap terhadap persoalan mendasar dunia manusia, akan kehilangan maknanya. Atau paling banter hanya dianggap sebagai seni dekoratif atau hiburan semata.
Apakah karya-karya seni kontemporer yang absurd dan membuat riuh di jagat seni rupa itulah yang layak dilestarikan atau ditinggalkan? Semua itu kembali lagi pada imajinasi yang membentuk persepsi di alam pikiran kolektor dan para pencinta seni.
Menikmati karya seni entah diperlakukan seperti azimat atau dibiarkan menggantung sebagai ornamen dekorasi pengisi kekosongan dinding, tergantung pada alam rasa dari para kolektor, pencinta seni, dan seniman itu sendiri.
Karya seni yang dapat menggetarkan batin manusia menjadi elemen penting ketika memandang suatu karya. Pendek kata, stempel kebahagiaan yang muncul dalam hati siapa saja yang tengah menikmati karya seni jauh lebih hakiki dari pada sekadar berkutat dalam perdebatan estetik.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.