Lee Man Fong, Menggores Karya Tak Lekang Zaman
20 December 2025 |
10:00 WIB
Suasana lelang malam Asia Abad 20 dan Seni Kontemporer di Christie’s Hong Kong berlangsung semarak dan menyita perhatian kolektor internasional. Lukisan Bali Life karya Lee Man Fong sukses terjual US$4,66 juta atau sekitar Rp54,8 miliar, jauh melampaui estimasi awal.
Lukisan yang dibuat Man Fong sekitar 1962-1964 ini menggunakan medium minyak pada papan mosonite. Lukisan cat minyak berukuran besar yakni 100x243 cm tersebut dilengkapi dengan tandatangan menggunakan huruf China.
Peristiwa petang itu, tepatnya Minggu 24 November 2013, masuk dalam lembaran sejarah seni rupa dan dijadikan sebagai hari besar bagi pelelangan karya seniman Asia Tenggara. Bali Life menjadi lukisan termahal pertama dalam lini masa transaksi penjualan lukisan Indonesia dan kawasan Asia Tenggara.
Baca Juga: Mengapa Karya Seni Affandi Masih Diburu?
Bagi manajemen Christie's, penjualan yang cukup fantastis tersebut menjadi sumbangan yang cukup besar untuk total penjualan musim semi 2013 yang mencapai US$14,5 juta atau Rp160 miliar. Penjualan Bali Life ini menambah panjang daftar penjualan lukisan Lee Man Fong yang terjual dengan nilai tinggi. Sebelumnya, lukisannya yang berjudul Fortune and Longevity (1951) terjual pada 2012 sebesar US$4,42 juta.
Pada 2017, lukisan Man Fong berjudul Balinese Procession kembali terjual senilai US$2 juta. Angka penjualan tersebut memang lebih rendah dibandingkan dengan nilai penjualan sebelumnya. Namun, sejatinya, transaksi Balinese Procession menjadi luar biasa di mata para pencinta seni karena berbarengan dengan momentum kebangkitan pasar karya seni rupa global, setelah sepanjang 2015-2016 sangat lesu.
Hingga 2 dasawarsa berselang, karya Lee Man Fong selalu menjadi buah bibir para pencinta seni. Namanya bahkan disejajarkan dengan maestro seni rupa a.l. S. Sudjojono, Hendra Gunawan, dan Affandi. Jumlah lukisan Man Fong yang terbatas membuat banyak pencinta seni mulai dari kolektor, galeri, connoisseur, hingga penjual seni amatiran berebut untuk mendapatkannya.
Bakat melukis pria kelahiran Guangzhou, China, 14 November 1913 ini sudah terlihat sejak berusia 4 tahun. Teknik lukis China yang dikenal memiliki tiga tema besar, yakni pemandangan alam, flora fauna, dan manusia tak luput dari perhatiannya.
Ketiga tema besar ini membuat Man Fong menguasai tiga teknik lukis China klasik. Pertama, Gongbi. Teknik yang diaplikasikan ketika melukis flora fauna, dan manusia. Ciri khasnya adalah sapuan kuas yang teratur. Kedua, Xieyi. Teknik yang lebih mementingkan ekspresi dan ketegasan bentuk. Teknik ini biasa digunakan ketika melukis pemandangan alam. Ketiga, teknis campuran antara Gongbi dan Xieyi.
Lukisan China klasik yang dibuatnya banyak menggunakan warna temaram yang cenderung sephia. Penggarapan bentuk diselaraskan dengan tarikan garis yang kuat, tebal, dan berkarakter. Ciri khas Man Fong dalam berkarya mulai berubah ketika dia mendapatkan beasiswa Malino dari Gubernur Jendral Van Mook untuk memperdalam ilmu seni rupa di Belanda pada 1949. Di Belanda, dia mempelajari teknik melukis Barat yang digunakan oleh Rembrandt van Rijn dan Vincent van Gogh.
Oleh Man Fong, dua teknik lukis yang dikuasainya tersebut digabungkan dan dituangkan dalam karya. Hasilnya, lukisan yang dibuat pada periode 1950- an tampak elok dan memadukan antara teknik lukis China Klasik dan Barat.
Harmonisasi dari sapuan cat dominan warna sephia yang tebal khas Barat dan guratan tipis cenderung transparan ala teknik China. Namun, dalam periode ini, objek lukisannya terlihat bervolume dan hidup karena juga diselaraskan dengan teknik pencahayaan yang lebih mumpuni.
Ketika kembali ke Tanah Air pada akhir 1952, Lee Man Fong mulai membuka studio seni. Dari studio ini lah dia berkenalan dengan Presiden Soekarno. Kekaguman Putra Sang Fajar melampaui perihal teknik lukis yang dikuasai Man Fong. Penguasa Orde Lama ini menilai narasi atas objek karya berdasarkan realitas keseharian yang mampu menjadi penyejuk hati di tengah keriuhan revolusi pada masa itu.
Pada 1961, Presiden Soekarno mengangkat Lee Man Fong menjadi pelukis istana atas rekomendasi pelukis Dullah. Soekarno juga memberikannya kewarganegaraan Indonesia. Selama berada di istana, Man Fong menguratori benda-benda seni koleksi Soekarno. Pada 1964, dia mendapatkan tugas dari Presiden untuk mendokumentasikan karya seni koleksinya dalam bentuk buku.
Tugas itu diselesaikan Man Fong dengan menerbitkan 5 jilid buku berjudul Lukisan-Lukisan dan Patung Koleksi Presiden Soekarno dari Republik Indonesia. Kondisi Man Fong menjadi serba sulit ketika Presiden Soekarno lengser dari jabatannya. Man Fong dan keluarganya pun mengungsi ke Singapura agar terhindar dari Gerakan 30 September.
Di Singapura dia menetap cukup lama. Dia dan keluarga mendapatkan kewarganegaraan Singapura sekaligus diangkat sebagai tokoh besar negara itu. Meskipun demikian, kecintaannya terhadap Indonesia membuatnya kembali ke negeri ini pada 1985. Selama sisa hidupnya, Lee Man Fong menetap di Bogor dan tutup usia pada 1988 karena sakit.
Buktinya, dari berbagai ajang lelang mulai dari Indonesia, Singapura, Hong Kong, hingga Amsterdam Belanda, lukisan Man Fong sukses menghabiskan isi kocek. Bayangkan saja, harga lukisannya yang awalnya berada dikisaran Rp300 juta, kini melonjak hingga ratusan miliar.
Man Fong memang layak disebut sebagai ikon sejarah seni rupa Indonesia. Dia tidak pernah berambisi untuk menciptakan konsep artistik yang eksplosif. Namun, sikap konsisten itulah yang justru menjadikan karyanya dikenang oleh para pencinta seni, dan sosoknya dihormati di kalangan pelaku seni rupa karena dinilai mampu menggoyang konvensi visual berkelindan dengan ciri khas warna Asia yang sedemikian kental.
Berbicara nominal menyoal lukisan Man Fong, bukannya tak ada relevansinya. Justru melalui pengejawantahan angka-angka tersebut nama dan karyanya kian matang. Contohnya saja, pernah muncul rencana dari sekelompok kolektor untuk membuat museum pribadi yang memacak karya Man Fong sebagai simbol status.
Karya Man Fong memang temasuk yang abadi dan tak tergilas roda zaman. Di tengah kerangka ekonomi baru berbasis digital yang dibangun oleh manajemen seni rupa untuk merespons perubahan global akibat badai virus Corona, karya Man Fong tetap berada dalam daftar buruan dengan harga tinggi. Artinya, karya Man Fong jauh melampaui gunjingan dunia profan yang tidak perlu selalu diterima dengan balasan yang sinikal.
Melalui narasi yang berbobot disertai dengan nilai ekonomi yang konkret pada karya Lee Man Fong, memunculkan apresiasi yang abadi tak serupa panas setahun disapu hujan sehari.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Lukisan yang dibuat Man Fong sekitar 1962-1964 ini menggunakan medium minyak pada papan mosonite. Lukisan cat minyak berukuran besar yakni 100x243 cm tersebut dilengkapi dengan tandatangan menggunakan huruf China.
Peristiwa petang itu, tepatnya Minggu 24 November 2013, masuk dalam lembaran sejarah seni rupa dan dijadikan sebagai hari besar bagi pelelangan karya seniman Asia Tenggara. Bali Life menjadi lukisan termahal pertama dalam lini masa transaksi penjualan lukisan Indonesia dan kawasan Asia Tenggara.
Baca Juga: Mengapa Karya Seni Affandi Masih Diburu?
Bagi manajemen Christie's, penjualan yang cukup fantastis tersebut menjadi sumbangan yang cukup besar untuk total penjualan musim semi 2013 yang mencapai US$14,5 juta atau Rp160 miliar. Penjualan Bali Life ini menambah panjang daftar penjualan lukisan Lee Man Fong yang terjual dengan nilai tinggi. Sebelumnya, lukisannya yang berjudul Fortune and Longevity (1951) terjual pada 2012 sebesar US$4,42 juta.
Pada 2017, lukisan Man Fong berjudul Balinese Procession kembali terjual senilai US$2 juta. Angka penjualan tersebut memang lebih rendah dibandingkan dengan nilai penjualan sebelumnya. Namun, sejatinya, transaksi Balinese Procession menjadi luar biasa di mata para pencinta seni karena berbarengan dengan momentum kebangkitan pasar karya seni rupa global, setelah sepanjang 2015-2016 sangat lesu.
Hingga 2 dasawarsa berselang, karya Lee Man Fong selalu menjadi buah bibir para pencinta seni. Namanya bahkan disejajarkan dengan maestro seni rupa a.l. S. Sudjojono, Hendra Gunawan, dan Affandi. Jumlah lukisan Man Fong yang terbatas membuat banyak pencinta seni mulai dari kolektor, galeri, connoisseur, hingga penjual seni amatiran berebut untuk mendapatkannya.
Bakat melukis pria kelahiran Guangzhou, China, 14 November 1913 ini sudah terlihat sejak berusia 4 tahun. Teknik lukis China yang dikenal memiliki tiga tema besar, yakni pemandangan alam, flora fauna, dan manusia tak luput dari perhatiannya.
Ketiga tema besar ini membuat Man Fong menguasai tiga teknik lukis China klasik. Pertama, Gongbi. Teknik yang diaplikasikan ketika melukis flora fauna, dan manusia. Ciri khasnya adalah sapuan kuas yang teratur. Kedua, Xieyi. Teknik yang lebih mementingkan ekspresi dan ketegasan bentuk. Teknik ini biasa digunakan ketika melukis pemandangan alam. Ketiga, teknis campuran antara Gongbi dan Xieyi.
Lukisan China klasik yang dibuatnya banyak menggunakan warna temaram yang cenderung sephia. Penggarapan bentuk diselaraskan dengan tarikan garis yang kuat, tebal, dan berkarakter. Ciri khas Man Fong dalam berkarya mulai berubah ketika dia mendapatkan beasiswa Malino dari Gubernur Jendral Van Mook untuk memperdalam ilmu seni rupa di Belanda pada 1949. Di Belanda, dia mempelajari teknik melukis Barat yang digunakan oleh Rembrandt van Rijn dan Vincent van Gogh.
Oleh Man Fong, dua teknik lukis yang dikuasainya tersebut digabungkan dan dituangkan dalam karya. Hasilnya, lukisan yang dibuat pada periode 1950- an tampak elok dan memadukan antara teknik lukis China Klasik dan Barat.
Harmonisasi dari sapuan cat dominan warna sephia yang tebal khas Barat dan guratan tipis cenderung transparan ala teknik China. Namun, dalam periode ini, objek lukisannya terlihat bervolume dan hidup karena juga diselaraskan dengan teknik pencahayaan yang lebih mumpuni.
Ketika kembali ke Tanah Air pada akhir 1952, Lee Man Fong mulai membuka studio seni. Dari studio ini lah dia berkenalan dengan Presiden Soekarno. Kekaguman Putra Sang Fajar melampaui perihal teknik lukis yang dikuasai Man Fong. Penguasa Orde Lama ini menilai narasi atas objek karya berdasarkan realitas keseharian yang mampu menjadi penyejuk hati di tengah keriuhan revolusi pada masa itu.
Pada 1961, Presiden Soekarno mengangkat Lee Man Fong menjadi pelukis istana atas rekomendasi pelukis Dullah. Soekarno juga memberikannya kewarganegaraan Indonesia. Selama berada di istana, Man Fong menguratori benda-benda seni koleksi Soekarno. Pada 1964, dia mendapatkan tugas dari Presiden untuk mendokumentasikan karya seni koleksinya dalam bentuk buku.
Tugas itu diselesaikan Man Fong dengan menerbitkan 5 jilid buku berjudul Lukisan-Lukisan dan Patung Koleksi Presiden Soekarno dari Republik Indonesia. Kondisi Man Fong menjadi serba sulit ketika Presiden Soekarno lengser dari jabatannya. Man Fong dan keluarganya pun mengungsi ke Singapura agar terhindar dari Gerakan 30 September.
Di Singapura dia menetap cukup lama. Dia dan keluarga mendapatkan kewarganegaraan Singapura sekaligus diangkat sebagai tokoh besar negara itu. Meskipun demikian, kecintaannya terhadap Indonesia membuatnya kembali ke negeri ini pada 1985. Selama sisa hidupnya, Lee Man Fong menetap di Bogor dan tutup usia pada 1988 karena sakit.
Ikon Seni Rupa
Sejarah singkat kehidupan Lee Man Fong itu sudah barang tentu menjadi narasi penting yang tidak dapat dipisahkan ketika membicarakan karya lukisnya. Narasi yang begitu kaya ini membuat harga lukisannya terus melambung, dan terus diburu utamanya oleh masyarakat yang gemar komodifikasi seni rupa.Buktinya, dari berbagai ajang lelang mulai dari Indonesia, Singapura, Hong Kong, hingga Amsterdam Belanda, lukisan Man Fong sukses menghabiskan isi kocek. Bayangkan saja, harga lukisannya yang awalnya berada dikisaran Rp300 juta, kini melonjak hingga ratusan miliar.
Man Fong memang layak disebut sebagai ikon sejarah seni rupa Indonesia. Dia tidak pernah berambisi untuk menciptakan konsep artistik yang eksplosif. Namun, sikap konsisten itulah yang justru menjadikan karyanya dikenang oleh para pencinta seni, dan sosoknya dihormati di kalangan pelaku seni rupa karena dinilai mampu menggoyang konvensi visual berkelindan dengan ciri khas warna Asia yang sedemikian kental.
Berbicara nominal menyoal lukisan Man Fong, bukannya tak ada relevansinya. Justru melalui pengejawantahan angka-angka tersebut nama dan karyanya kian matang. Contohnya saja, pernah muncul rencana dari sekelompok kolektor untuk membuat museum pribadi yang memacak karya Man Fong sebagai simbol status.
Karya Man Fong memang temasuk yang abadi dan tak tergilas roda zaman. Di tengah kerangka ekonomi baru berbasis digital yang dibangun oleh manajemen seni rupa untuk merespons perubahan global akibat badai virus Corona, karya Man Fong tetap berada dalam daftar buruan dengan harga tinggi. Artinya, karya Man Fong jauh melampaui gunjingan dunia profan yang tidak perlu selalu diterima dengan balasan yang sinikal.
Melalui narasi yang berbobot disertai dengan nilai ekonomi yang konkret pada karya Lee Man Fong, memunculkan apresiasi yang abadi tak serupa panas setahun disapu hujan sehari.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.