kerumunan masyarakat Jepang (sumber: unsplash/Hoang Dang)

Kemampuan Bahasa Inggris Jepang Merosot ke Titik Terendah Global

17 December 2025   |   16:00 WIB
Image
Bianca Wanda Zakia Mahasiswa Universitas Bina Nusantara

Jepang selama ini dikenal sebagai salah satu negara maju dengan pengaruh besar di bidang ekonomi, teknologi, dan budaya pop global. Namun di balik citra modern tersebut, kemampuan bahasa Inggris masyarakatnya justru menghadapi tantangan serius.

Di tengah dunia yang semakin terhubung secara global, penguasaan bahasa internasional menjadi keterampilan penting, terutama bagi negara yang memiliki peran besar dalam perdagangan dan diplomasi internasional.

Melansir dari South China Morning Post, kemampuan bahasa Inggris Jepang tercatat mengalami penurunan signifikan dan kini berada di posisi terendah dalam sejarah pemeringkatan global.

Baca juga: Rahasia Panjang Umur Warga Jepang Ternyata Hanya dengan Hidup Seimbang & Bersyukur

Dalam laporan terbaru yang mengukur kecakapan bahasa Inggris sebagai bahasa asing, Jepang justru tertinggal dari sejumlah negara Asia Tenggara seperti Laos dan Vietnam. Hasil ini memicu diskusi luas di dalam negeri mengenai sistem pendidikan, budaya kerja, serta pendekatan Jepang terhadap komunikasi global.

Penilaian tersebut berasal dari indeks internasional yang mengukur kemampuan bahasa Inggris orang dewasa non penutur asli melalui tes standar. Jepang kini berada di kategori kemampuan rendah, jauh dari negara tetangga seperti Singapura, Filipina, dan bahkan Vietnam yang dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan peningkatan konsisten. Laos, yang secara ekonomi masih berkembang, juga berhasil mencatat skor lebih baik dibanding Jepang.

Para pengamat pendidikan menilai penurunan ini tidak terjadi secara tiba tiba. Sistem pembelajaran bahasa Inggris di Jepang selama puluhan tahun dinilai terlalu berfokus pada tata bahasa dan ujian tertulis, bukan pada keterampilan berbicara dan komunikasi praktis.

Banyak siswa menghabiskan waktu bertahun tahun mempelajari struktur kalimat dan menghafal kosakata, namun jarang diberi kesempatan untuk menggunakan bahasa Inggris secara aktif dalam percakapan sehari hari.

Selain faktor pendidikan, budaya juga disebut memainkan peran penting. Di Jepang, kesalahan dalam berbicara sering dianggap memalukan, sehingga banyak orang enggan mencoba menggunakan bahasa asing di depan umum. Rasa takut salah ucap membuat pelajar dan pekerja lebih memilih diam daripada berlatih.

Hal ini berbeda dengan negara seperti Vietnam, di mana penggunaan bahasa Inggris sering dianggap sebagai alat untuk mobilitas sosial dan peluang kerja global.

Lingkungan kerja Jepang juga turut berkontribusi. Banyak perusahaan domestik masih menggunakan bahasa Jepang sebagai bahasa utama, bahkan ketika beroperasi secara internasional. Akibatnya, karyawan jarang terdorong untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris mereka. Berbeda dengan perusahaan multinasional di negara lain yang secara aktif menuntut komunikasi lintas bahasa, kebutuhan tersebut di Jepang sering kali dianggap tidak mendesak.

Pemerintah Jepang sebenarnya telah mencoba berbagai reformasi. Bahasa Inggris diperkenalkan lebih awal di sekolah dasar, kurikulum diubah agar lebih komunikatif, dan guru asing direkrut untuk meningkatkan eksposur siswa terhadap bahasa Inggris lisan. Namun hasilnya belum terlihat signifikan. Para ahli menilai perubahan kurikulum saja tidak cukup jika tidak dibarengi perubahan cara mengajar dan budaya belajar di kelas.

Sebaliknya, Vietnam dan Laos menunjukkan pendekatan yang lebih pragmatis. Bahasa Inggris diposisikan sebagai keterampilan ekonomi yang konkret, bukan sekadar mata pelajaran akademik. Banyak pelajar di negara tersebut melihat bahasa Inggris sebagai pintu masuk ke pendidikan luar negeri, pekerjaan di perusahaan asing, atau industri pariwisata yang berkembang pesat. Motivasi ini membuat pembelajaran terasa lebih relevan dan aplikatif.

Dampak dari rendahnya kemampuan bahasa Inggris ini berpotensi besar bagi Jepang. Dalam konteks pariwisata, investasi asing, dan kerja sama internasional, keterbatasan komunikasi dapat menjadi hambatan. Jepang memang masih menarik secara budaya dan ekonomi, tetapi ketergantungan pada penerjemah dan sistem internal dapat memperlambat adaptasi terhadap dinamika global yang semakin cepat.

Laporan ini juga memunculkan kekhawatiran tentang daya saing generasi muda Jepang di pasar kerja internasional. Ketika negara lain di Asia semakin agresif mempersiapkan sumber daya manusia yang bilingual atau bahkan multibahasa, Jepang berisiko tertinggal jika tidak melakukan perubahan mendasar dalam cara memandang pembelajaran bahasa asing.

Meski demikian, sejumlah pakar menilai situasi ini masih bisa diperbaiki. Perubahan mindset menjadi kunci utama. Bahasa Inggris perlu dipahami sebagai alat komunikasi, bukan simbol kesempurnaan akademik. Kesalahan seharusnya dilihat sebagai bagian dari proses belajar, bukan sesuatu yang harus dihindari. Tanpa perubahan budaya ini, reformasi kebijakan kemungkinan besar akan terus menghadapi jalan buntu.

Penurunan kemampuan bahasa Inggris Jepang menjadi pengingat bahwa kemajuan ekonomi dan teknologi tidak selalu berjalan seiring dengan keterbukaan linguistik. Di era globalisasi, kemampuan berkomunikasi lintas bahasa menjadi modal penting, bukan hanya bagi individu, tetapi juga bagi daya saing sebuah negara. Jepang kini dihadapkan pada pilihan untuk berbenah atau terus tertinggal dalam percakapan global.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

5 K-Drama dengan Kisah Kesempatan Kedua yang Paling Menyakitkan

BERIKUTNYA

Seberapa Lama Kucing Bisa Mengingat Pemiliknya? Ini Penjelasan Ahli

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga