Franz Magnis-Suseno, SJ (kiri) berfoto bersama penggemar setelaah menandatangani buku terbarunya Demokrasi, Ateisme, Seksualitas: Catatan tentang Goncangan-Goncangan Budaya di Abad Ke-21. (sumber gambar: Hypebis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Romo Magnis Rilis Buku ke-47, Soroti Demokrasi hingga Ateisme

15 December 2025   |   20:30 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Franz Magnis-Suseno, SJ kembali menunjukkan konsistensinya sebagai salah satu pemikir publik terpenting di Indonesia. Melalui buku terbarunya berjudul Demokrasi, Ateisme, Seksualitas: Catatan tentang Goncangan-Goncangan Budaya di Abad Ke-21, Romo Magnis kembali mengajak publik membaca kegelisahan zaman.

Dalam diskusi sekaligus peluncuran buku yang dipandu Andi Tarigan, Romo Magnis membedah isu-isu yang kerap menjadi perbincangan luas, namun jarang dikupas secara jernih dan mendalam. Dia menyoroti memudarnya optimisme reformasi, menguatnya intoleransi, serta maraknya misinformasi politik yang membentuk wajah demokrasi Indonesia hari ini.

Baca juga: Peluncuran Buku Sejarah Indonesia Versi Termutakhir Tandai Penetapan Hari Sejarah 15 Desember

Sebagai karya ke-47, buku tersebut, papar Romo, lahir dari rasa ingin tahu dan kecintaan pada manusia Indonesia serta dinamika sosial-politiknya. Romo berambut perak ini mengaku masih ingin terus berkontribusi lewat perenungan kritis atas situasi di Tanah Air.

“Banyak orang seumur saya sudah meninggal. Saya merasa beruntung masih hidup. Selama saya masih diberi tenaga, saya ingin tetap menulis. Sebab menulis membuat saya tetap terhubung dengan dunia, dengan persoalan-persoalan yang saya anggap penting,” katanya pda Jumat, (13/12/25) di Gramedia Jalma, Jakarta.

Romo Magnis menilai Indonesia sedang mengalami perubahan sosial yang bergerak cepat. Intoleransi meningkat, misinformasi politik meluas, dan perdebatan mengenai sains, ateisme, serta kebebasan berkeyakinan menjadi semakin kompleks.

Salah satu yang dia sorot adalah pemaknaan demokrasi yang kerap dipersempit hanya sebagai prosedur. Pemilu memang berjalan, namun substansi demokrasi, baik partisipasi yang bermakna, keadilan sosial, dan etika jabatan kerap diabaikan oleh para pemangku kekuasaan.

Diskusi peluncuran juga menyoroti tiga subtopik utama dalam buku. Pertama, masa depan demokrasi dan bertahannya semangat Reformasi. Kedua, pergeseran peran Tuhan di era sains dan sikap terhadap ateisme. Ketiga, dinamika seksualitas serta tantangan mewujudkan kesetaraan sosial.

Pada bagian sains dan ateisme, Romo Magnis mengingatkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan tidak otomatis menghapus kebutuhan manusia akan spiritualitas. Konflik antara sains dan agama, ujarnya, kerap muncul karena ketidakpahaman kedua belah pihak terhadap ruangnya masing-masing.

Topik seksualitas dan hak asasi manusia juga menjadi sorotan. Romo menilai isu ini berkembang cepat seiring meningkatnya tuntutan publik akan penghormatan terhadap perbedaan. “Kita hidup di tengah perubahan besar yang tidak selalu kita pahami arah dan dampaknya,” imbuhnya.

Andi Tarigan, editor sekaligus moderator diskusi, menilai tiga bagian itu saling terkait dan merangkum denyut zaman yang dihadapi publik Indonesia. Dia menyebut tulisan Romo Magnis sebagai cermin moral yang mengajak pembacanya berdialog secara jujur tanpa romantisasi.

Buku ini, lanjut Andi, hadir bukan untuk memberikan jawaban final, melainkan membuka ruang pemikiran yang lebih luas bagi masyarakat. Kekuatan Romo Magnis, katanya, terletak pada kejernihan dan keteguhan sikapnya, yang selalu berangkat dari kemanusiaan.

“Pendekatan itu membuat pembaca tidak hanya memahami persoalan, tetapi juga diajak merenungkan kembali posisi dirinya sebagai warga negara,” ujar Andi.

Romo Magnis dikenal luas lewat karya-karyanya tentang etika politik, demokrasi, Pancasila, pluralisme, dan kemanusiaan. Gagasan penulis asal Jerman yang menjadi WNI pada 1977 itu, juga kerap menjadi rujukan lintas agama, akademisi, hingga aktivis pro-demokrasi.

Hingga usianya yang menginjak 89 tahun, Romo Magnis telah menulis lebih dari 40 buku, termasuk Etika Jawa, Filsafat Moral, dan Pijar-Pijar Filsafat. Dia juga aktif dalam dialog antarumat beragama serta advokasi hak asasi manusia, menjadikannya sebagai salah satu pemikir penting Tanah Air.
 

SEBELUMNYA

Lakon Buku Kredit, Teater tentang Hidup yang Terus Dicicil

BERIKUTNYA

Daftar Aktivis Berpengaruh yang Kritis Terhadap Isu Lingkungan

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga