Aktor Jamaluddin Latif, saat mementaskan lakon Buku Kredit, di Buka Dapur Mini Festival (BUDAmFEST 2025) (sumber gambar: BUDAmFEST)

Lakon Buku Kredit, Teater tentang Hidup yang Terus Dicicil

15 December 2025   |   18:25 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Lelaki berkaus merah lusuh itu muncul di panggung arena dengan langkah cepat serta sedikit tergesa. Celana kargo, sandal jepit, tas selempang di pinggang, dan topi rimba tanpa tali membingkai sosoknya yang tampak asing di ruang pertunjukan. Belum genap berdiri, dia meminta penonton memindai sebuah barcode.  

Dari sana, penonton diarahkan menuju laman presentasi berisi tata cara menikmati dan terlibat dalam sebuah pertunjukan yang lain dari biasanya. Inilah performance lecture Buku Kredit. Disutradarai Jamaluddin Latif, seniman asal Yogyakarta itu menutup hari terakhir Buka Dapur Mini Festival (BUDAmFEST 2025) di Aula Stovia, Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta,  Kamis (11/12/25).

Baca juga: Review Pentas Teater Koma: Saat Kemanusiaan Kian Samar, Dunia Butuh Semar

Jamal sedang memerankan masyarakat urban yang terlilit utang. Kisahnya mengikuti seorang laki-laki yang mimpinya kandas karena keterbatasan ekonomi. Kepulangannya ke kampung halaman membawanya pada penemuan buku kredit milik keluarga.

Dalam buku tersebut tercatat utang yang menjadi simbol beban lintas generasi. Melalui pertemuan dengan orang-orang di masa lalunya, karakter utama menelusuri kembali kenangan, harapan, impian, sekaligus rasa frustasi atas tanggung jawab yang tidak pernah dia pilih.

Dimainkan dengan intens, Buku Kredit menawarkan pengalaman menonton yang berbeda dari monolog konvensional. Berdurasi satu jam, penonton tidak hanya mengamati, tetapi ikut terlibat dalam membentuk alur dramaturgi panggung, bahkan ikut mengomentari pertunjukan.

Menonton aksi Jamal, kita seperti diajak berjumpa dengan kaum urban atau kelas menengah di kota-kota besar. Hidup di gang sempit, akrab dengan suara bising kendaraan, sambil sesekali menikmati semangkuk cuanki saat perut keroncongan di tengah beban kerja yang menumpuk.
 

ahah

Aktor Jamaluddin Latif, saat mementaskan lakon Buku Kredit, di Buka Dapur Mini Festival (BUDAmFEST 2025) (sumber gambar: BUDAmFEST) 


Dari sana, kita juga memasuki ruang-ruang privat lewat properti seperti WC umum, pikulan bakso cuanki, hingga kegelisahan sang narator. Tentang hubungannya dengan keluarga yang berantakan, kegagalannya sebagai mahasiswa hukum, hingga setumpuk masalah keluarga yang menghimpit.

Tema utang yang menjadi inti pementasan bergerak dari level personal, keluarga, hingga negara. Buku Kredit tanpa tedeng aling-aling menunjukkan bagaimana beban tersebut muncul di ruang-ruang paling privat, di mana penonton diajak asyik masuk dalam drama sekaligus berjarak darinya.

“Dalam metode akting, saya memang ulang-alik menggunakan gaya Stanislavsky dan Brechtian. Ada in-out sehingga penonton tidak larut dalam cerita, tetapi menyadari dan turut menganalisis isu dari naskah ini,” kata Jamal.


Proses Pertunjukan

Buku Kredit merupakan karya Panca Lintang Dyah Paramitha dalam Antologi Kota: Ingatan dan Ancaman. Terdiri dari sembilan naskah, antologi ini ditulis sejumlah penulis dalam residensi di Makassar yang diampu seorang sutradara asal Jepang pada 2025.

Dari segi cerita, naskah ini cukup menantang. Struktur teksnya berbeda dari naskah konvensional: terdiri atas kolom-kolom pendek dan fragmen yang menyerupai catatan harian. Hal inilah yang membuat Jamal tertarik mementaskannya.

Awalnya, Jamal tidak membayangkan bagaimana naskah ini harus tampil. Namun setelah melakukan riset, dia menemukan bentuk teatrikalnya. Penulis naskah bahkan mengatakan karya tersebut “cukup dibaca saja” tanpa imaji panggung atau dramatika.

Salah satu penemuan penting adalah penggunaan Mentimeter. Aplikasi yang lazim dipakai di ruang akademik itu memfasilitasi komentar penonton secara langsung. Mereka menilai, menjawab, atau mengomentari fragmen naskah yang muncul di layar sehingga pertunjukan berlangsung sebagai peristiwa bersama.

“Saya sudah mencoba berbagai metode akting, tapi gagal. Dari situ saya ketemu Mentimeter. Ini aplikasi presentasi interaktif, sering dipakai di TEDx atau kampus supaya audiens terlibat,” papar Jamal.

 

hah

Aktor Jamaluddin Latif, saat mementaskan lakon Buku Kredit, di Buka Dapur Mini Festival (BUDAmFEST 2025) (sumber gambar: BUDAmFEST) 


Pilihan untuk melibatkan penonton juga bukan sekadar gimmick. Setelah memindai barcode, penonton menerima ‘Cara Menonton Buku Kredit’. Di sana, Jamal memberi instruksi untuk mengisi nilai Rupiah dari potongan teks yang dibacakan penonton lain melalui gawai secara langsung.

Tak ayal, pertunjukan ini menjerat penonton dalam membangun percakapan lebih jujur tentang tema utang. Aktor juga tidak hanya berbicara kepada penonton, tetapi merekrut mereka untuk membaca subteks naskah, termasuk menilai komentar mereka sendiri di kolom yang muncul di layar.

“Saya juga mengembangkan pementasan dengan konsep CCTV. Banyak orang tidak sadar apa yang terjadi di balik CCTV. Di luar seseorang tampak ceria, tetapi di toilet mungkin dia stres memikirkan utang,” tambah Jamal.

Namun pementasan ini bukan tanpa cela. Teknik partisipatif kadang memberi patahan alur. Permainan visual di BUDAmFEST 2025 juga tidak maksimal karena keterbatasan proyektor, meski gagasan di baliknya tetap terasa di mana layar bukan sekadar latar, melainkan gambar yang berbicara dari naskah.

Pada situasi hari ini, Buku Kredit juga sangat relevan. Isu utang adalah isu yang dialami semua lapisan masyarakat hingga negara. Momen inilah yang membuat naskah ini terasa dekat, khususnya metafora tentang beban utang yang diwariskan dari relasi individu dengan negara.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat utang pinjaman online masyarakat Indonesia per Oktober 2025 menembus Rp92,92 triliun, dengan pertumbuhan 23,86 persen secara tahunan—melonjak dibandingkan bulan sebelumnya, yaitu 22,16 persen year on year.

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) mencatat posisi utang luar negeri (ULN) per Oktober 2025 senilai 423,93 miliar dolar Amerika Serikat (AS), atau sebesar Rp7.066,26 triliun (kurs Rp16.669/dolar AS). Sebagaimana kita tahu, pembayaran utang ini juga diambil dari pajak warga.
 

SEBELUMNYA

10 Film Natal Klasik yang Selalu Hangat Ditonton dari Masa ke Masa

BERIKUTNYA

Romo Magnis Rilis Buku ke-47, Soroti Demokrasi hingga Ateisme

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga