Menikmati Pendar Air & Cahaya Karya Condro Priyoaji di Ara Contemporary
09 December 2025 |
19:30 WIB
Suasana di ara contemporary seketika menjadi senyap begitu pengunjung melangkah ke Main Gallery. Ruang utama galeri seni di Jakarta Selatan itu tampil tidak seperti biasanya. Bukan berupa white cube yang lapang, melainkan rangkaian lorong sempit yang terasa enigmatik.
Di belokan pertama, pengunjung langsung disambut cahaya yang merembes dari celah-celah instalasi berbahan resin. Wujudnya menyerupai blok kaca, dengan semburat cahaya yang memantul lembut ke dinding, seolah menyiapkan mata untuk memasuki dunia yang ditawarkan Condro Priyoaji.
Baca juga: Drama Cinta & Sihir ‘Dream’ Hangatkan BUDAmFEST 2025
Sepintas, cahaya yang dipantulkan dari karya itu tampak membeku. Namun saat didekati, dia membentuk gelombang dan pola lembut di dinding yang bergerak pelan laiknya riak air. Cahaya ini mengalir dari pusat ke tepi, lalu kembali lagi, menghasilkan ilusi optik yang subtil.
Inilah salah satu karya Condro Priyoaji bertajuk Patterned Refraction (2025) dalam pameran tunggalnya, The Stillness of Becoming. Berlangsung hingga 21 Desember a2025, Condro mengajak pengunjung mempertanyakan lagi makna cahaya sekaligus persepsi visual.
Refleksi lain juga hadir dalam karya bertajuk Reflection Eternal. Terdiri dari 16 seri, lukisan-lukisan ini menangkap gerakan cahaya yang memantul dari riak air dalam akuarium, kemudian diproyeksikan ke kanvas melalui goresan akrilik monokrom yang menyerupai urat-urat petir di angkasa.
Hasilnya pun menggugah. Dalam Reflection Eternal #15, misalnya, tampak permukaan monokromatik yang terasa hidup, seolah cahaya masih bergerak di dalamnya. Berdimensi 80 x 90 sentimeter, lukisan ini juga dipenuhi cat semprot putih yang acak, tanpa bentuk figuratif yang jelas.
Lewat karya-karya ini, Condro seperti sedang mempertemukan ketidakteraturan alam dan upaya manusia mengabadikan momen yang terus berubah. Pengalaman sederhana melihat objek “melengkung” ketika berada di air juga menjadi pemicu eksplorasinya pada cahaya yang dipersepsikan oleh mata.
“Saya ingin mempertanyakan realitas saja, yang masuk ke mata kita itu sebenarnya cuma komposisi warna yang dipantulkan cahaya atau bukan,” ucapnya.
Namun berbeda dengan Reflection Eternal, seri Patterned Refraction justru menawarkan eksplorasi yang lebih sistematis. Dalam seri ini, Condro membentuk tekstur medium resin dengan tangan, alih-alih memakai mesin atau 3D print, demi memastikan karya tetap menyimpan jejak sentuhan manusia.
Proses tersebut, paparnya, membutuhkan keberanian karena dia tidak pernah benar-benar tahu bagaimana bentuk cahaya yang akan muncul dari medium resin. Ketidakpastian inilah yang membuat eksplorasinya terasa lebih hidup karena hasil guratan cahaya tak selalu sama dengan yang dia bayangkan.
Ketertarikan Condro pada cahaya tidak lahir di studio atau ruang pamer, tetapi di ruang yang lebih sunyi, sebuah halaman, sebuah bayangan dari kursi yang disinari cahaya, dan sebersit rasa penasaran. Dari sanalah jalur estetiknya perlahan terbentuk.
Sejak saat itu, cahaya dan bayangan menjadi pintu masuk bagi cara pandangnya terhadap realitas. Dia mulai menyadari bahwa warna tidak pernah berdiri sendiri, tetapi lahir dari pertemuan pigmen dan cahaya, serta bagaimana waktu dan ruang mengubah keduanya.
Gallery Manager ara contemporary, Citra Utami, mengatakan sejak awal praktik Condro selalu berpusat pada upaya menangkap dan mentransformasikan keadaan alam menjadi kebalikannya, yakni mengubah yang fana menjadi abadi, dan yang bergerak menjadi statis.
“Proses kerjanya membutuhkan pengamatan atas hal-hal yang sekilas dan terus berubah hingga akhirnya lenyap, seperti interaksi cahaya dan bayangan dengan ruang sekitarnya atau lanskap,” katanya.
Jika pada pameran tunggal sebelumnya sang seniman banyak bermain dengan cahaya alam, kali ini dia beralih ke pertemuan cahaya dengan elemen buatan manusia seperti cermin, riak air, hingga cahaya lampu yang ditembakkan ke medium resin.
Salah satu teknik melukisnya adalah menempatkan cermin di dasar akuarium berisi air jernih lalu menggerakkan airnya. Cahaya yang diarahkan ke cermin itu memantulkan bayangan beriak yang terlihat di permukaan, lalu dipotret dan dipindahkan ke kanvas.
Melalui seri ini, Condro menelaah bagaimana air, meski tampak diam, tetap membelokkan cahaya sedemikian rupa sehingga memberi bentuk sekaligus gerak. Rangkaian visual inilah yang kemudian mengubah cara kita memandang benda dan dunia sekitar.
Kolaborasi dengan arsitek FFFAAARRR dalam penataan ruang juga memperkuat pengalaman tersebut. Ruangan enigmatik berbentuk lintasan lorong dengan tata cahaya terarah membuat penonton fokus pada satu karya dalam satu waktu, membuat pengalaman menjadi lebih intim.
Namun, bagi Condro, pameran ini tidak ingin mengundang tafsir berat. Justru dia ingin membawa penonton kembali pada kesadaran kecil yang sering terlewat. “Kita itu habis bangun tidur ngeliat warna, tapi sering nggak nyadar,” ujarnya. Pameran ini, katanya, adalah ajakan untuk “sejenak diam” dan memperhatikan hal-hal akrab yang kerap terlupakan.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Di belokan pertama, pengunjung langsung disambut cahaya yang merembes dari celah-celah instalasi berbahan resin. Wujudnya menyerupai blok kaca, dengan semburat cahaya yang memantul lembut ke dinding, seolah menyiapkan mata untuk memasuki dunia yang ditawarkan Condro Priyoaji.
Baca juga: Drama Cinta & Sihir ‘Dream’ Hangatkan BUDAmFEST 2025
Sepintas, cahaya yang dipantulkan dari karya itu tampak membeku. Namun saat didekati, dia membentuk gelombang dan pola lembut di dinding yang bergerak pelan laiknya riak air. Cahaya ini mengalir dari pusat ke tepi, lalu kembali lagi, menghasilkan ilusi optik yang subtil.
Inilah salah satu karya Condro Priyoaji bertajuk Patterned Refraction (2025) dalam pameran tunggalnya, The Stillness of Becoming. Berlangsung hingga 21 Desember a2025, Condro mengajak pengunjung mempertanyakan lagi makna cahaya sekaligus persepsi visual.
Refleksi lain juga hadir dalam karya bertajuk Reflection Eternal. Terdiri dari 16 seri, lukisan-lukisan ini menangkap gerakan cahaya yang memantul dari riak air dalam akuarium, kemudian diproyeksikan ke kanvas melalui goresan akrilik monokrom yang menyerupai urat-urat petir di angkasa.
Hasilnya pun menggugah. Dalam Reflection Eternal #15, misalnya, tampak permukaan monokromatik yang terasa hidup, seolah cahaya masih bergerak di dalamnya. Berdimensi 80 x 90 sentimeter, lukisan ini juga dipenuhi cat semprot putih yang acak, tanpa bentuk figuratif yang jelas.
_crop.jpg)
Senarai karya Condro Priyoaji, dalam pameran The Stillness of Becoming di Ara Contemporary. (sumber gambar: Ara Contemporary)
“Saya ingin mempertanyakan realitas saja, yang masuk ke mata kita itu sebenarnya cuma komposisi warna yang dipantulkan cahaya atau bukan,” ucapnya.
Namun berbeda dengan Reflection Eternal, seri Patterned Refraction justru menawarkan eksplorasi yang lebih sistematis. Dalam seri ini, Condro membentuk tekstur medium resin dengan tangan, alih-alih memakai mesin atau 3D print, demi memastikan karya tetap menyimpan jejak sentuhan manusia.
Proses tersebut, paparnya, membutuhkan keberanian karena dia tidak pernah benar-benar tahu bagaimana bentuk cahaya yang akan muncul dari medium resin. Ketidakpastian inilah yang membuat eksplorasinya terasa lebih hidup karena hasil guratan cahaya tak selalu sama dengan yang dia bayangkan.
Benih Eksplorasi
Ketertarikan Condro pada cahaya tidak lahir di studio atau ruang pamer, tetapi di ruang yang lebih sunyi, sebuah halaman, sebuah bayangan dari kursi yang disinari cahaya, dan sebersit rasa penasaran. Dari sanalah jalur estetiknya perlahan terbentuk.Sejak saat itu, cahaya dan bayangan menjadi pintu masuk bagi cara pandangnya terhadap realitas. Dia mulai menyadari bahwa warna tidak pernah berdiri sendiri, tetapi lahir dari pertemuan pigmen dan cahaya, serta bagaimana waktu dan ruang mengubah keduanya.
Gallery Manager ara contemporary, Citra Utami, mengatakan sejak awal praktik Condro selalu berpusat pada upaya menangkap dan mentransformasikan keadaan alam menjadi kebalikannya, yakni mengubah yang fana menjadi abadi, dan yang bergerak menjadi statis.
“Proses kerjanya membutuhkan pengamatan atas hal-hal yang sekilas dan terus berubah hingga akhirnya lenyap, seperti interaksi cahaya dan bayangan dengan ruang sekitarnya atau lanskap,” katanya.
_crop.jpg)
Seri karya Reflection Eternal karya Condro Priyoaji, dalam pameran The Stillness of Becoming di Ara Contemporary. (sumber gambar: Ara Contemporary)
Jika pada pameran tunggal sebelumnya sang seniman banyak bermain dengan cahaya alam, kali ini dia beralih ke pertemuan cahaya dengan elemen buatan manusia seperti cermin, riak air, hingga cahaya lampu yang ditembakkan ke medium resin.
Salah satu teknik melukisnya adalah menempatkan cermin di dasar akuarium berisi air jernih lalu menggerakkan airnya. Cahaya yang diarahkan ke cermin itu memantulkan bayangan beriak yang terlihat di permukaan, lalu dipotret dan dipindahkan ke kanvas.
Melalui seri ini, Condro menelaah bagaimana air, meski tampak diam, tetap membelokkan cahaya sedemikian rupa sehingga memberi bentuk sekaligus gerak. Rangkaian visual inilah yang kemudian mengubah cara kita memandang benda dan dunia sekitar.
Kolaborasi dengan arsitek FFFAAARRR dalam penataan ruang juga memperkuat pengalaman tersebut. Ruangan enigmatik berbentuk lintasan lorong dengan tata cahaya terarah membuat penonton fokus pada satu karya dalam satu waktu, membuat pengalaman menjadi lebih intim.
Namun, bagi Condro, pameran ini tidak ingin mengundang tafsir berat. Justru dia ingin membawa penonton kembali pada kesadaran kecil yang sering terlewat. “Kita itu habis bangun tidur ngeliat warna, tapi sering nggak nyadar,” ujarnya. Pameran ini, katanya, adalah ajakan untuk “sejenak diam” dan memperhatikan hal-hal akrab yang kerap terlupakan.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.