Mengapa Kedekatan dengan Hewan Peliharaan Bisa Meningkatkan atau Menurunkan Kesehatan Mental
07 December 2025 |
00:00 WIB
Hubungan manusia dengan hewan peliharaan selalu dipenuhi cerita hangat. Banyak orang merasa hidupnya terasa lebih ringan karena tingkah lucu anjing atau kucing di rumah. Beberapa bahkan menyebut hewan peliharaan sebagai teman terbaik dan sumber kenyamanan pada hari yang berat.
Namun di balik gambaran manis tersebut, para peneliti mulai menelusuri pertanyaan penting. Apakah ikatan emosional yang sangat kuat dengan hewan peliharaan selalu membawa dampak positif bagi kesehatan mental atau justru menyimpan risiko tertentu.
Pertanyaan ini muncul karena semakin banyak orang yang menjadikan hewan peliharaan bukan hanya sebagai teman hidup, tetapi juga sebagai tumpuan utama tempat mereka bergantung secara emosional.
Baca juga: Mengenal White Iberian Lynx, Hewan Langka yang Tertangkap Kamera di Spanyol
Melansir dari Psychology Today, sebuah ulasan ilmiah besar yang meninjau lebih dari seratus studi selama empat puluh tahun terakhir menemukan bahwa hubungan antara kedekatan dengan hewan peliharaan dan kesehatan mental ternyata jauh lebih kompleks daripada anggapan umum.
Banyak pemilik hewan memang mengalami manfaat emosional seperti rasa damai dan berkurangnya stres, tetapi penelitian menunjukkan bahwa tidak semua bentuk kedekatan memberikan dampak baik.
Ulasan ini menyoroti bahwa sebagian orang justru memiliki gaya kelekatan yang tidak sehat terhadap hewan peliharaan, yang dapat berhubungan dengan risiko lebih tinggi terhadap stres, kecemasan, hingga perasaan kesepian yang semakin dalam.
Para peneliti membedakan bentuk kedekatan yang aman dengan bentuk kedekatan yang cemas. Kedekatan yang aman muncul ketika seorang pemilik menyayangi hewannya, tetapi tetap memiliki hubungan sosial yang sehat dengan manusia di sekitarnya. Mereka merasa dekat, tetapi tidak bergantung sepenuhnya secara emosional.
Sebaliknya, kedekatan yang cemas terlihat pada individu yang menempatkan hewan peliharaan sebagai satu satunya sumber kenyamanan dan stabilitas emosional dalam hidup mereka.
Mereka sering merasa takut kehilangan hewannya, bergantung pada kehadirannya untuk merasa aman, dan merasakan kecemasan tinggi saat terpisah walau hanya sebentar.
Menurut penelitian tersebut, pemilik yang memiliki gaya kedekatan cemas cenderung menunjukkan tingkat stres yang lebih tinggi.
Ketergantungan emosional yang kuat membuat mereka lebih mudah terganggu secara psikologis, terutama ketika situasi sehari hari tidak berjalan mulus. Misalnya ketika hewan peliharaan sakit, hilang, atau tidak dapat memberikan perhatian yang mereka harapkan, kondisi mental pemilik bisa menurun drastis.
Hal ini disebabkan karena hewan tersebut berfungsi sebagai pengganti hubungan manusia yang sebelumnya tidak terpenuhi, sehingga segala bentuk perubahan akan memicu kecemasan yang besar.
Studi lain yang dikaji dalam ulasan tersebut juga menemukan bahwa pemilik hewan peliharaan yang sangat bergantung secara emosional kerap mengalami kesulitan dalam membangun hubungan interpersonal dengan manusia.
Mereka lebih memilih kedekatan dengan hewan karena merasa hubungan tersebut lebih aman, tidak menghakimi, dan tidak menuntut. Sayangnya kondisi ini dapat memperdalam isolasi sosial. Ketika hewan peliharaan menjadi pusat seluruh perhatian emosional, kebutuhan manusia untuk terhubung dengan sesama bisa terabaikan. Jika hal ini berlangsung lama, seseorang dapat mengalami masalah kesehatan mental tanpa menyadarinya.
Penting untuk menekankan bahwa penelitian tidak menyimpulkan bahwa memiliki hewan peliharaan adalah hal buruk. Justru banyak bukti yang menunjukkan bahwa interaksi positif dengan hewan dapat menurunkan stres, meningkatkan suasana hati, dan memberikan rasa nyaman dalam situasi sulit.
Hewan peliharaan bisa berperan sebagai pendukung emosional yang efektif, selama hubungan tersebut tetap berada dalam batas yang sehat. Keseimbangan menjadi kunci.
Pemilik hewan sebaiknya tetap menjaga hubungan sosial dengan manusia, mengelola rasa cemas dengan baik, dan tidak menempatkan hewan sebagai satu satunya fondasi stabilitas emosional.
Namun di balik gambaran manis tersebut, para peneliti mulai menelusuri pertanyaan penting. Apakah ikatan emosional yang sangat kuat dengan hewan peliharaan selalu membawa dampak positif bagi kesehatan mental atau justru menyimpan risiko tertentu.
Pertanyaan ini muncul karena semakin banyak orang yang menjadikan hewan peliharaan bukan hanya sebagai teman hidup, tetapi juga sebagai tumpuan utama tempat mereka bergantung secara emosional.
Baca juga: Mengenal White Iberian Lynx, Hewan Langka yang Tertangkap Kamera di Spanyol
Melansir dari Psychology Today, sebuah ulasan ilmiah besar yang meninjau lebih dari seratus studi selama empat puluh tahun terakhir menemukan bahwa hubungan antara kedekatan dengan hewan peliharaan dan kesehatan mental ternyata jauh lebih kompleks daripada anggapan umum.
Banyak pemilik hewan memang mengalami manfaat emosional seperti rasa damai dan berkurangnya stres, tetapi penelitian menunjukkan bahwa tidak semua bentuk kedekatan memberikan dampak baik.
Ulasan ini menyoroti bahwa sebagian orang justru memiliki gaya kelekatan yang tidak sehat terhadap hewan peliharaan, yang dapat berhubungan dengan risiko lebih tinggi terhadap stres, kecemasan, hingga perasaan kesepian yang semakin dalam.
Para peneliti membedakan bentuk kedekatan yang aman dengan bentuk kedekatan yang cemas. Kedekatan yang aman muncul ketika seorang pemilik menyayangi hewannya, tetapi tetap memiliki hubungan sosial yang sehat dengan manusia di sekitarnya. Mereka merasa dekat, tetapi tidak bergantung sepenuhnya secara emosional.
Sebaliknya, kedekatan yang cemas terlihat pada individu yang menempatkan hewan peliharaan sebagai satu satunya sumber kenyamanan dan stabilitas emosional dalam hidup mereka.
Mereka sering merasa takut kehilangan hewannya, bergantung pada kehadirannya untuk merasa aman, dan merasakan kecemasan tinggi saat terpisah walau hanya sebentar.
Menurut penelitian tersebut, pemilik yang memiliki gaya kedekatan cemas cenderung menunjukkan tingkat stres yang lebih tinggi.
Ketergantungan emosional yang kuat membuat mereka lebih mudah terganggu secara psikologis, terutama ketika situasi sehari hari tidak berjalan mulus. Misalnya ketika hewan peliharaan sakit, hilang, atau tidak dapat memberikan perhatian yang mereka harapkan, kondisi mental pemilik bisa menurun drastis.
Hal ini disebabkan karena hewan tersebut berfungsi sebagai pengganti hubungan manusia yang sebelumnya tidak terpenuhi, sehingga segala bentuk perubahan akan memicu kecemasan yang besar.
Studi lain yang dikaji dalam ulasan tersebut juga menemukan bahwa pemilik hewan peliharaan yang sangat bergantung secara emosional kerap mengalami kesulitan dalam membangun hubungan interpersonal dengan manusia.
Mereka lebih memilih kedekatan dengan hewan karena merasa hubungan tersebut lebih aman, tidak menghakimi, dan tidak menuntut. Sayangnya kondisi ini dapat memperdalam isolasi sosial. Ketika hewan peliharaan menjadi pusat seluruh perhatian emosional, kebutuhan manusia untuk terhubung dengan sesama bisa terabaikan. Jika hal ini berlangsung lama, seseorang dapat mengalami masalah kesehatan mental tanpa menyadarinya.
Penting untuk menekankan bahwa penelitian tidak menyimpulkan bahwa memiliki hewan peliharaan adalah hal buruk. Justru banyak bukti yang menunjukkan bahwa interaksi positif dengan hewan dapat menurunkan stres, meningkatkan suasana hati, dan memberikan rasa nyaman dalam situasi sulit.
Hewan peliharaan bisa berperan sebagai pendukung emosional yang efektif, selama hubungan tersebut tetap berada dalam batas yang sehat. Keseimbangan menjadi kunci.
Pemilik hewan sebaiknya tetap menjaga hubungan sosial dengan manusia, mengelola rasa cemas dengan baik, dan tidak menempatkan hewan sebagai satu satunya fondasi stabilitas emosional.
Baca juga: Pameran Hewan Peliharaan IIPE 2025 Hadir Kembali dengan Tema Garden Party
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.