Psikolog Ungkap Risiko di Balik Fenomena Anak Muda Sering Curhat ke AI
05 December 2025 |
10:00 WIB
Fenomena menjadikan artificial intelligence (AI) sebagai tempat curhat kini semakin umum di kalangan anak muda. Secara teknis, AI dikembangkan untuk memahami kebutuhan manusia melalui analisis data dan algoritma yang mempelajari pola interaksi, preferensi, hingga ekspresi emosional pengguna.
Berkat teknologi Natural Language Processing (NLP), sistem di AI mampu menangkap konteks percakapan dan memberikan respons yang terasa seperti alamiah. Kecenderungan AI yang tidak menghakimi setiap pertanyaan seolah juga memberikan rasa aman serta pengalaman “didengarkan” sehingga membuat banyak orang lebih leluasa membuka diri.
Baca juga: Mengenal Trauma Dumping, Ketika Curhat jadi Beban bagi Orang Lain
Psikolog Anak dan Keluarga Universitas Indonesia, Rose Mini, menilai bahwa kemajuan teknologi seperti artificial intelligence (AI) merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari. Menurutnya, yang dapat dilakukan masyarakat adalah menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan perubahan tersebut.
Kemudian, terkait munculnya fenomena anak muda yang memilih curhat atau menanyakan kepribadian kepada AI, Rose menyebut pada dasarnya hal itu dapat dimengerti. Sebab, teknologi ini seolah menawarkan berbagai kemudahan dan fungsi yang membuat penggunanya merasa terbantu.
Terlebih, generasi muda saat ini cenderung menyukai solusi yang serba cepat dan praktis. Meski demikian, Rose menegaskan bahwa kebiasaan ini memiliki risiko. Sebab, AI sejatinya tidak dibuat untuk memberikan penilaian klinis, sehingga pengguna dapat menerima saran yang keliru atau tidak sesuai kebutuhan profesional.
"AI itu hanya bergerak berdasarkan data-data yang kita berikan. Namun, dia tidak bisa melihat ekspresi fisik seseorang, perilaku aslinya, dan elemen-elemen lain yang penting saat diagnosis. Jadi, potensi biasnya tinggi dan bisa jadi yang diberikan ke kita itu bukan solusi sebenarnya," ungkap Rose.
Rose menilai bahwa kebiasaan bercerita kepada AI berpotensi meningkatkan praktik self-diagnose, yang dalam beberapa tahun terakhir memang semakin marak. Dirinya pun mengkhawatirkan jawaban dari AI ini akan dianggap sebagai “validasi”, sehingga pengguna merasa diagnosis mandiri mereka benar, meski belum tentu sesuai kondisi sebenarnya.
Dirinya menegaskan bahwa diagnosis sebaiknya tidak dilakukan tanpa pendampingan ahli, terlebih jika hanya mengandalkan AI. Sebab, disadari atau tidak, AI juga sering kali masih memberikan respons yang berlebihan atau tidak tepat konteks, sehingga bisa menyesatkan dan berisiko memperburuk pemahaman seseorang terhadap kondisi dirinya.
“Manusia itu bukan benda mati yang bisa dijelaskan secara pasti—diukur ujungnya di mana atau ukurannya berapa. Manusia sangat subjektif dan sangat fleksibel. Apa yang dituliskan seseorang saat curhat pun bisa saja hanya berdasarkan persepsinya sendiri, yang belum tentu benar. Jadi, dalam penilaian, elemennya banyak sekali yang harus dilihat,” imbuhnya.
Rose menegaskan bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial yang membutuhkan dukungan dari lingkungan terdekat—mulai dari keluarga, teman, guru, hingga orang-orang yang memiliki kepedulian.
Ketika seseorang mengesampingkan jaringan dukungan tersebut dan merasa harus menghadapi segala sesuatu sendirian, kondisi itu dapat memengaruhi kesejahteraan emosionalnya karena ia menjauh dari sumber-sumber dukungan alami yang seharusnya menolong.
Oleh karena itu, tak ada salahnya untuk bercerita kepada teman dekat, keluarga, atau bila perlu mendatangi psikolog. Dia menambahkan bahwa peran lingkungan, termasuk keluarga dan orang-orang signifikan di sekitar individu, sangat penting sebagai supporting system. Dukungan dari pihak-pihak inilah yang membantu seseorang merasa diterima, diperhatikan, dan tidak terisolasi dalam menghadapi tantangan hidup.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Berkat teknologi Natural Language Processing (NLP), sistem di AI mampu menangkap konteks percakapan dan memberikan respons yang terasa seperti alamiah. Kecenderungan AI yang tidak menghakimi setiap pertanyaan seolah juga memberikan rasa aman serta pengalaman “didengarkan” sehingga membuat banyak orang lebih leluasa membuka diri.
Baca juga: Mengenal Trauma Dumping, Ketika Curhat jadi Beban bagi Orang Lain
Psikolog Anak dan Keluarga Universitas Indonesia, Rose Mini, menilai bahwa kemajuan teknologi seperti artificial intelligence (AI) merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari. Menurutnya, yang dapat dilakukan masyarakat adalah menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan perubahan tersebut.
Kemudian, terkait munculnya fenomena anak muda yang memilih curhat atau menanyakan kepribadian kepada AI, Rose menyebut pada dasarnya hal itu dapat dimengerti. Sebab, teknologi ini seolah menawarkan berbagai kemudahan dan fungsi yang membuat penggunanya merasa terbantu.
Terlebih, generasi muda saat ini cenderung menyukai solusi yang serba cepat dan praktis. Meski demikian, Rose menegaskan bahwa kebiasaan ini memiliki risiko. Sebab, AI sejatinya tidak dibuat untuk memberikan penilaian klinis, sehingga pengguna dapat menerima saran yang keliru atau tidak sesuai kebutuhan profesional.
"AI itu hanya bergerak berdasarkan data-data yang kita berikan. Namun, dia tidak bisa melihat ekspresi fisik seseorang, perilaku aslinya, dan elemen-elemen lain yang penting saat diagnosis. Jadi, potensi biasnya tinggi dan bisa jadi yang diberikan ke kita itu bukan solusi sebenarnya," ungkap Rose.
Rose menilai bahwa kebiasaan bercerita kepada AI berpotensi meningkatkan praktik self-diagnose, yang dalam beberapa tahun terakhir memang semakin marak. Dirinya pun mengkhawatirkan jawaban dari AI ini akan dianggap sebagai “validasi”, sehingga pengguna merasa diagnosis mandiri mereka benar, meski belum tentu sesuai kondisi sebenarnya.
Dirinya menegaskan bahwa diagnosis sebaiknya tidak dilakukan tanpa pendampingan ahli, terlebih jika hanya mengandalkan AI. Sebab, disadari atau tidak, AI juga sering kali masih memberikan respons yang berlebihan atau tidak tepat konteks, sehingga bisa menyesatkan dan berisiko memperburuk pemahaman seseorang terhadap kondisi dirinya.
“Manusia itu bukan benda mati yang bisa dijelaskan secara pasti—diukur ujungnya di mana atau ukurannya berapa. Manusia sangat subjektif dan sangat fleksibel. Apa yang dituliskan seseorang saat curhat pun bisa saja hanya berdasarkan persepsinya sendiri, yang belum tentu benar. Jadi, dalam penilaian, elemennya banyak sekali yang harus dilihat,” imbuhnya.
Rose menegaskan bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial yang membutuhkan dukungan dari lingkungan terdekat—mulai dari keluarga, teman, guru, hingga orang-orang yang memiliki kepedulian.
Ketika seseorang mengesampingkan jaringan dukungan tersebut dan merasa harus menghadapi segala sesuatu sendirian, kondisi itu dapat memengaruhi kesejahteraan emosionalnya karena ia menjauh dari sumber-sumber dukungan alami yang seharusnya menolong.
Oleh karena itu, tak ada salahnya untuk bercerita kepada teman dekat, keluarga, atau bila perlu mendatangi psikolog. Dia menambahkan bahwa peran lingkungan, termasuk keluarga dan orang-orang signifikan di sekitar individu, sangat penting sebagai supporting system. Dukungan dari pihak-pihak inilah yang membantu seseorang merasa diterima, diperhatikan, dan tidak terisolasi dalam menghadapi tantangan hidup.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.