Senarai dummy cover buku karya Motinggo Busye dalam pameran Titik Balik, di lantai 4 perpustakaan Jakarta Cikini dan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin. (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Titik Balik Motinggo Busye: Arsip, Narasi, dan Ingatan di PDS HB Jassin Jakarta

05 December 2025   |   09:30 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Nama Motinggo Busye (1937-1999) tidak bisa dilepaskan dari khazanah sastra Indonesia. Penulis serba bisa ini telah memberi warna pada belantika sastra dan film di Tanah Air, dengan ratusan karya populer dalam arti tertentu, kontroversial di zamannya.

Keseluruhan perjalanan kreatif itu kini direkonstruksi melalui pameran “Titik Balik” di Perpustakaan Jakarta Cikini, dan PDS HB Jassin, hingga 14 Desember 2025. Pameran ini bukan sekadar nostalgia, melainkan sebuah ajakan untuk membaca ulang seorang seniman yang, dalam banyak hal, mendahului zamannya.

Begitu memasuki lobi, mata publik langsung disergap deretan novel Motinggo. Sampul-sampulnya menghadirkan citraan kota, tubuh, dan gejolak sosial yang menandai era pop 1960–1970-an. Arkian, kita mulai memahami bahwa produktivitas bagi Motinggo bukan hanya kuantitas, tapi pola kerja yang tak pernah berhenti mencari bentuk.

Baca juga: Musikal Samber Gledek: Silver Sober, Refleksi 25 Tahun Slank Melawan Narkoba

Jejak awalnya dimulai pada 1950-an. Lahir sebagai Bustami Djalid, dia lebih dulu mengukir prestasi dalam dunia drama lewat Malam Jahanam, sebelum menembus arena cerita pendek dan novel. Karya-karyanya tak hanya menang sayembara, tetapi juga mengguncang atmosfer sastra yang masih memegang teguh batas-batas moral.

Keberhasilan itu membuka pintu ke medium lain, yakni film. Motinggo merambah layar lebar, mengolah tema urban, mitos, dan keluarga kelas pekerja. Film seperti Ratu Ular, 7 Manusia Harimau, hingga Si Rano menunjukkan kepekaannya menangkap denyut kota sekaligus kemampuan memetakan transisi sosial kota.
 

Sejumlah poster film yang disutradarai atau naskahnya ditulis oleh Motinggo Busye

Sejumlah poster film yang disutradarai atau naskahnya ditulis oleh Motinggo Busye, dalam pameran Titik Balik, di lantai 4 perpustakaan Jakarta Cikini dan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin. (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)


Namun eksplorasinya tidak terhenti pada kata dan gambar bergerak. Sepuluh lukisan yang dipajang dalam pameran menunjukkan sisi lain Motinggo, lebih sunyi sekaligus kontemplatif. Dari benda sehari-hari hingga lanskap sederhana, dia memandang dunia sebagai ruang tafsir, bukan sekadar objek pengamatan.

Menurut Kurator Remmy Novaris DM, keberanian Motinggo terletak pada kemampuannya menyeberangi batas yang dianggap tabu. “Ketika para sastrawan menjauhi karya populer, ia justru melompat masuk dan membuktikan pop bukan lawan sastra,” ujarnya.

Pandangan itu menjelaskan mengapa karya-karya seperti Cross Mama, Tante Maryati, atau Sri Aryati memantik kehebohan. Kala itu, sensualitas urban yang dia tuliskan dianggap terlalu vulgar bagi kalangan sastrawan, tetapi justru di situlah Motinggo menggali ruang yang belum disentuh siapapun.

Namun, seiring waktu, Motinggo juga menyadari bahwa keberanian menyeberang batas bukan akhir, melainkan awal dari pencarian. Obsesi untuk menemukan bahasa baru mendorongnya memeriksa ulang bentuk, isi, dan tujuan kepengarangan yang kelak juga mengubah tema-tema karyanya.

Pada 1980-an, misalnya, dia mulai meninggalkan tema-tema yang mungkin bisa dibilang katya stensil, dan memilih menekuni persoalan spiritualitas. Tema tentang Tuhan, kesementaraan hidup, dan perenungan diri mulai mendominasi karya-karyanya, salah satunya dalam Sanu Infinita Kembar.

Meski demikian, kerangka kuratorial pameran masih menyisakan ruang kosong. Pembagian periode Titik Koma, Titik Awal, dan Titik Balik memang disebutkan, tetapi tidak dijelaskan secara mendalam. Ketiadaan pemetaan jelas membuat pengunjung harus merangkai sendiri potongan-potongan perjalanan kreatif Motinggo.

Walakin justru kekosongan itulah yang memancing interpretasi. Senarai kliping koran, catatan tangan, dan arsip wawancara menjadi pintu bagi pengunjung untuk membaca Motinggo sebagai pribadi yang terus mengalami pergumulan—baik eksternal (kritik, pasar) maupun internal (iman, eksistensi).
 
 


Akar pergulatan itu dapat ditelusuri ke Yogyakarta. Masa kuliahnya di UGM mempertemukannya dengan Arifin C. Noer, Rendra, dan Satyagraha Hoerip. Dari ruang-ruang diskusi tidak resmi inilah Motinggo mulai belajar untuk tidak tunduk pada pakem melainkan pergulatan pikiran yang ajeg.

Kota itu pula yang mempertemukannya dengan Lashmi Bachtiar, perempuan yang menjadi temannya dalam menempuh hidup dan melahirkan enam anak. Keluarga, bagi Motinggo, bukan sekadar latar. Dia adalah landasan emosional yang kerap menyelinap dalam catatan dan karya-karyanya.

Nama pena Motinggo Busye, juga memiliki filosofi yang menarik. Konon nama Motinggo diambil dari istilah "mantiko" dalam bahasa Minang, berarti "bunga" atau "indah". Sementara Busye diambil dari pelafalan kreatif namanya sendiri, yakni Bustami Djalid.

Penyair Taufiq Ismail menyebut Motinggo sebagai sosok yang tak mungkin dikunci dalam satu bidang. Sutardji Calzoum Bachri bahkan menyebutnya “makhluk berkepala tujuh”—istilah yang menggambarkan betapa tangannya bekerja di banyak medium tanpa kehilangan nyala imajinasi.

Kini, ketika ruang kritik sastra meredup, jejak Motinggo terasa semakin penting. Dia mengingatkan bahwa menulis bukan sekadar mengelola kata, tetapi merumuskan cara memandang dunia. Bahwa setiap bentuk punya sejarah, dan setiap inovasi berdiri di atas jejak yang pernah ditinggalkan orang lain.

Pada akhirnya, pameran Titik Balik bukan hanya arsip masa lalu. Dia adalah tantangan bagi masa kini. Motinggo sudah menunjukkan bahwa keberanian adalah syarat dasar kesenian. Pertanyaannya bukan lagi siapa ia dulu, melainkan siapa yang berani mengulangi keberaniannya hari ini.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Lonjakan Industri MICE Dorong Investasi dan Pertumbuhan 2026

BERIKUTNYA

Mengapa Angka Kematian Ibu di Indonesia Masih Tinggi? Begini Kata Dokter

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga