Illustrasi macam-macam bahasa (sumber: freepik)

Manfaat Tersembunyi Multilingualisme untuk Menjaga Kesehatan Otak

03 December 2025   |   11:08 WIB
Image
Bianca Wanda Zakia Mahasiswa Universitas Bina Nusantara

Dalam beberapa tahun terakhir, topik tentang cara menjaga kesehatan otak terus menjadi perhatian banyak orang. Seiring bertambahnya usia, kemampuan mengingat, fokus, dan kecepatan berpikir sering kali mulai menurun. Banyak ahli menyarankan pola hidup sehat, rutin berolahraga, hingga menjaga kualitas tidur.

Namun belakangan ini, muncul satu temuan menarik yang membuat banyak orang mulai melirik kembali aktivitas sederhana yang ternyata punya dampak besar bagi otak, yaitu kebiasaan berbicara dalam lebih dari satu bahasa.

Melansir dari ScienceAlert, sebuah penelitian berskala besar menunjukkan bahwa orang yang menggunakan dua bahasa atau lebih berpotensi memiliki penuaan otak yang lebih lambat dibandingkan mereka yang hanya berbicara satu bahasa.

Baca juga: 5 Pilihan Karier Penggemar Kebudayaan dan Bahasa Asing

Penelitian ini melibatkan lebih dari 86.000 berusia 51 sampai 90 tahun dari 27 negara di Eropa. Para peneliti menggunakan kecerdasan buatan untuk menghitung usia biologis setiap partisipan berdasarkan kemampuan kognitif, kesehatan fisik, gaya hidup, dan kebiasaan psikologis harian. Usia biologis itu kemudian dibandingkan dengan usia asli mereka untuk melihat apakah otak dan tubuh mereka menua lebih cepat atau lebih lambat.

Hasil analisisnya cukup konsisten. Orang yang menggunakan banyak bahasa dalam kehidupan sehari hari cenderung memiliki usia biologis yang lebih muda. Satu bahasa tambahan saja sudah memberi efek positif, tetapi semakin banyak bahasa yang dikuasai dan digunakan secara rutin, semakin besar perlindungan yang terlihat pada kesehatan otak.

Efek ini paling jelas terlihat pada kelompok berusia 70 sampai 80 tahun yang tampak memiliki fungsi otak lebih stabil dibandingkan partisipan yang hanya menggunakan satu bahasa.

Para peneliti menjelaskan bahwa penggunaan beberapa bahasa membuat otak berlatih terus menerus. Setiap kali seseorang memilih kata yang tepat, menahan bahasa lain yang tidak sedang dipakai, atau berpindah dari satu bahasa ke bahasa lain, otak sedang melakukan serangkaian proses kognitif yang kompleks.

Aktivitas ini melibatkan bagian otak yang berperan dalam perhatian, pengendalian pikiran, memori kerja, serta kemampuan berpikir fleksibel. Latihan jangka panjang inilah yang diduga memperkuat resistensi otak terhadap penurunan fungsi seiring usia.

Menariknya, penelitian ini juga menemukan bahwa manfaat tersebut tidak bergantung pada seberapa lancar seseorang berbahasa. Tingkat kefasihan tidak menjadi penentu utama. Yang paling berpengaruh justru penggunaan sehari hari yang membuat otak terus bekerja dan terstimulasi. Artinya, meskipun seseorang tidak mahir atau belum lancar sepenuhnya, kebiasaan menggunakan bahasa tambahan tetap dapat memberi dampak positif.


Stimulasi Otak

Bagi masyarakat Indonesia, temuan ini terasa relevan karena banyak orang tumbuh dalam lingkungan multilingual. Banyak yang terbiasa menggunakan bahasa daerah di rumah, bahasa Indonesia dalam pendidikan dan pergaulan umum, serta bahasa asing untuk kebutuhan profesional.

Tanpa disadari, kebiasaan berpindah bahasa yang sering dilakukan ternyata mungkin sedang memberikan perlindungan bagi kesehatan otak dalam jangka panjang. Bahkan bagi generasi muda, belajar bahasa baru atau mempertahankan kebiasaan menggunakan bahasa asing bisa menjadi bentuk investasi mental yang bermanfaat di masa tua.

Meski begitu, para ahli tetap menekankan bahwa berbicara banyak bahasa bukan satu satunya cara menjaga otak tetap sehat. Aktivitas fisik, pola makan yang baik, kualitas tidur, dan interaksi sosial masih menjadi komponen penting. Penggunaan beberapa bahasa lebih tepat dianggap sebagai salah satu bentuk latihan mental yang murah, mudah dilakukan, dan dapat memberi manfaat besar bila dilakukan secara konsisten.

Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa otak membutuhkan stimulasi untuk tetap bekerja secara optimal. Menguasai atau menggunakan lebih dari satu bahasa adalah salah satu bentuk stimulasi yang dapat dimasukkan dengan mudah ke dalam kehidupan sehari hari.

Jika selama ini belajar bahasa dianggap sebagai tuntutan akademik atau pekerjaan, kini ada alasan lain yang tidak kalah penting, yaitu menjaga kesehatan otak agar tetap tajam hingga usia lanjut.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Bisnis Kebutuhan Ibu & Anak Kian Prospektif Didorong Perubahan Perilaku Konsumen Ibu Muda

BERIKUTNYA

10 Film Terpopuler di Netflix Sepanjang Masa: K-Pop Demon Hunters hingga Damsel

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga