Suara Perlawanan Perempuan Nusantara dalam Monoplay Melati Pertiwi
25 November 2025 |
16:32 WIB
Bunyi suara rekaman proklamasi membahana di panggung temaram. Di atasnya, seorang perempuan duduk menuliskan kisah dengan sebuah mesin tik. Sesekali tangan kanannya menggurat buku dengan pena bulu yang dicelup tinta. Matanya menerawang ke kejauhan.
Tak berselang lama dia berdiri, mengalihwahanakan teks yang ditulis menjadi sebuah monolog. Dia adalah S.K. Trimurti (diperankan oleh Isyana Sarasvati), seorang pejuang perempuan yang ikut serta dalam gerakan kemerdekaan Indonesia. Kelak, dia menjabat sebagai Menteri Buruh pertama Indonesia pada 1947.
Baca juga: Legenda Aceh Menuju Layar Dunia, Kementerian Ekraf Dukung Proyek Animasi Malahayati
"Perjalanan bangsa ini sudah sangat panjang. Sudah banyak pula orang-orang lain yang mau mengajarkan. Terlebih perempuan-perempuan hebat [...] yang tak takut pada apa pun untuk berjuang menjadi saksi," teriaknya sambil mengubah bagian akhir teks itu menjadi nyanyian opera.
Adegan pembuka ini menjadi titik mula gladi resik Monoplay Melati Pertiwi oleh Keana Production di Gedung Kesenian Jakarta, Selasa (25/11/25). Pentas ini menjadi perayaan sekaligus refleksi tentang peran perempuan dalam sejarah Indonesia.
Dirajut melalui teater monolog, pertunjukan ini mengurai sejarah dari sudut pandang kaum perempuan di Tanah Air: S.K. Trimurti, Nyi Ageng Serang, Ratu Kalinyamat, Rasuna Said, Christina Martha Tiahahu, dan Laksamana Malahayati.
Sutradara Wawan Sofwan tidak hanya merajut kisah mereka menjadi satu narasi, tetapi juga melintas medan, generasi, dan strategi perlawanan. Melalui suara S.K. Trimurti sebagai saksi Proklamasi, alur pertunjukan mengalir utuh.
"Satu-satunya di antara enam orang itu yang menjadi saksi sejarah ketika Proklamasi adalah S.K. Trimurti, dan dia juga seorang penulis. Jadi ya sudah, SK itulah yang merajut semuanya supaya tidak seperti parade monolog," kata Wawan saat ditemui Hypeabis.id.
Berdurasi 90 menit, pementasan ini mengajak penonton memasuki momen-momen krusial yang menentukan arah perjuangan setiap karakter. Alih-alih berbicara tentang gagasan besar, mereka justru berangkat dari hal-hal personal, dari kritik terhadap adat hingga penolakan atas peran yang membatasi perempuan.
Laksamana Malahayati, misalnya, diperankan dengan trengginas oleh Marcella Zalianty. Pejuang asal Aceh ini memimpin pasukan Inong Balee, kelompok prajurit perempuan yang terdiri dari para janda prajurit Aceh yang gugur melawan Portugis dan Belanda pada awal abad ke-16.
Kendati Monoplay Melati Pertiwi mengambil cerita sejarah yang kompleks, tapi para pemain berhasil menjadikannya sebagai tontonan yang cukup menghibur. Terlebih, karya ini juga didukung skenografi yang menarik, yakni menghadirkan panggung miring berbentuk kapal, untuk menggambarkan dua babak besar.
Pertama, adalah garis waktu perjuangan perempuan Indonesia, dari masa paling awal hingga menjelang kemerdekaan, yang dimulai dari laut, yang diwakili oleh Malahayati, Ratu Kalinyamat, dan Martha Christina Tiahahu. Lalu dilanjutkan ke darat, oleh Nyi Ageng Serang, Rasuna Said, dan S.K. Trimurti.
Wawan juga menekankan pentingnya keterwakilan geografis, dari Aceh hingga Ambon. Pemilihan aktor turut mempertimbangkan keaslian karakter. Christina Martha Tiahahu, misalnya, diperankan oleh Glory Hilary yang masih remaja agar bahasa tubuh dan energinya tetap otentik.
"Kalaupun ada aktris yang wajahnya remaja tapi usianya sudah tua, bahasa tubuhnya pasti akan kelihatan. Itu reaksi orang dewasa," imbuhnya.
Setali tiga uang, produser Marcella Zalianty mengatakan, Monoplay Melati Pertiwi berusaha menggali tentang kekuatan para pahlawan perempuan, pergulatan batin, dan makna identitas di tengah tekanan zaman. Dia berharap pertunjukan ini juga membawa penonton pada sebuah perjalanan introspeksi yang mendalam.
"Ini merupakan wujud cinta pada pahlawan perempuan Indonesia. Meskipun dialog-dialognya cukup serius. mudah-mudahan penonton bisa meresapi, bisa memberikan makna bukan cuma buat kita, tapi bagi masyarakat" katanya.
Monoplay Melati Pertiwi akan dipentaskan di Gedung Kesenian Jakarta pada Selasa, 25 November 2025. Pertunjukan dibagi menjadi dua sesi, yakni pukul 16.00 WIB dan 20.00 WIB. Harga tiket mulai dari Rp150.000 hingga Rp1 juta dan dapat dibeli secara daring melalui loket.com.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Tak berselang lama dia berdiri, mengalihwahanakan teks yang ditulis menjadi sebuah monolog. Dia adalah S.K. Trimurti (diperankan oleh Isyana Sarasvati), seorang pejuang perempuan yang ikut serta dalam gerakan kemerdekaan Indonesia. Kelak, dia menjabat sebagai Menteri Buruh pertama Indonesia pada 1947.
Baca juga: Legenda Aceh Menuju Layar Dunia, Kementerian Ekraf Dukung Proyek Animasi Malahayati
"Perjalanan bangsa ini sudah sangat panjang. Sudah banyak pula orang-orang lain yang mau mengajarkan. Terlebih perempuan-perempuan hebat [...] yang tak takut pada apa pun untuk berjuang menjadi saksi," teriaknya sambil mengubah bagian akhir teks itu menjadi nyanyian opera.
Adegan pembuka ini menjadi titik mula gladi resik Monoplay Melati Pertiwi oleh Keana Production di Gedung Kesenian Jakarta, Selasa (25/11/25). Pentas ini menjadi perayaan sekaligus refleksi tentang peran perempuan dalam sejarah Indonesia.
Dirajut melalui teater monolog, pertunjukan ini mengurai sejarah dari sudut pandang kaum perempuan di Tanah Air: S.K. Trimurti, Nyi Ageng Serang, Ratu Kalinyamat, Rasuna Said, Christina Martha Tiahahu, dan Laksamana Malahayati.

Penyanyi Isyana Sarasvati sebagai S.K. Trimurti tampil dalam gladi resik Monoplay Melati Pertiwi di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) di Jakarta, Selasa (25/11/2025). (Sumber foto: Hypeabis.id/Himawan L Nugraha)
"Satu-satunya di antara enam orang itu yang menjadi saksi sejarah ketika Proklamasi adalah S.K. Trimurti, dan dia juga seorang penulis. Jadi ya sudah, SK itulah yang merajut semuanya supaya tidak seperti parade monolog," kata Wawan saat ditemui Hypeabis.id.
Berdurasi 90 menit, pementasan ini mengajak penonton memasuki momen-momen krusial yang menentukan arah perjuangan setiap karakter. Alih-alih berbicara tentang gagasan besar, mereka justru berangkat dari hal-hal personal, dari kritik terhadap adat hingga penolakan atas peran yang membatasi perempuan.
Laksamana Malahayati, misalnya, diperankan dengan trengginas oleh Marcella Zalianty. Pejuang asal Aceh ini memimpin pasukan Inong Balee, kelompok prajurit perempuan yang terdiri dari para janda prajurit Aceh yang gugur melawan Portugis dan Belanda pada awal abad ke-16.
Kendati Monoplay Melati Pertiwi mengambil cerita sejarah yang kompleks, tapi para pemain berhasil menjadikannya sebagai tontonan yang cukup menghibur. Terlebih, karya ini juga didukung skenografi yang menarik, yakni menghadirkan panggung miring berbentuk kapal, untuk menggambarkan dua babak besar.
Pertama, adalah garis waktu perjuangan perempuan Indonesia, dari masa paling awal hingga menjelang kemerdekaan, yang dimulai dari laut, yang diwakili oleh Malahayati, Ratu Kalinyamat, dan Martha Christina Tiahahu. Lalu dilanjutkan ke darat, oleh Nyi Ageng Serang, Rasuna Said, dan S.K. Trimurti.

Artis Marcella Zalianty sebagai Laksamana Malahayati tampil dalam gladi resik Monoplay Melati Pertiwi di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) di Jakarta, Selasa (25/11/2025). (Sumber foto: Hypeabis.id/Himawan L Nugraha)
Wawan juga menekankan pentingnya keterwakilan geografis, dari Aceh hingga Ambon. Pemilihan aktor turut mempertimbangkan keaslian karakter. Christina Martha Tiahahu, misalnya, diperankan oleh Glory Hilary yang masih remaja agar bahasa tubuh dan energinya tetap otentik.
"Kalaupun ada aktris yang wajahnya remaja tapi usianya sudah tua, bahasa tubuhnya pasti akan kelihatan. Itu reaksi orang dewasa," imbuhnya.
Setali tiga uang, produser Marcella Zalianty mengatakan, Monoplay Melati Pertiwi berusaha menggali tentang kekuatan para pahlawan perempuan, pergulatan batin, dan makna identitas di tengah tekanan zaman. Dia berharap pertunjukan ini juga membawa penonton pada sebuah perjalanan introspeksi yang mendalam.
"Ini merupakan wujud cinta pada pahlawan perempuan Indonesia. Meskipun dialog-dialognya cukup serius. mudah-mudahan penonton bisa meresapi, bisa memberikan makna bukan cuma buat kita, tapi bagi masyarakat" katanya.
Monoplay Melati Pertiwi akan dipentaskan di Gedung Kesenian Jakarta pada Selasa, 25 November 2025. Pertunjukan dibagi menjadi dua sesi, yakni pukul 16.00 WIB dan 20.00 WIB. Harga tiket mulai dari Rp150.000 hingga Rp1 juta dan dapat dibeli secara daring melalui loket.com.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.