Ilsutrasi perundungan (Sumber gambar: Unsplash/ mohamad azaam)

Mengapa Seorang Anak Bisa Jadi Pelaku Bullying? Begini Kata Psikolog

22 November 2025   |   16:30 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Kasus perundungan di Indonesia menunjukkan kecenderungan meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Berbagai laporan mengungkap bahwa bentuk-bentuk bullying, baik fisik, verbal, maupun digital, kian sering terjadi dan melibatkan anak usia sekolah.

Menurut data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Pada 2020 tercatat 91 kasus, lalu bertambah menjadi 142 kasus pada 2021, 194 kasus pada 2022, dan melonjak menjadi 285 kasus pada 2023. Memasuki 2024, jumlahnya kembali naik drastis hingga mencapai 573 kasus.

Baca juga: 7 Cara Berperan Aktif Mencegah Aksi Bullying Menurut Psikolog

Psikolog Anak dan Keluarga Universitas Indonesia Rose Mini mengatakan anak atau remaja yang menjadi pelaku bullying biasanya disebabkan oleh beberapa faktor. Biasanya, katanya, pelaku bullying ini merasa berbeda karena tidak tidak memiliki prestasi atau kemampuan akademik yang menonjol sehingga kesulitan menemukan hal yang dapat dibanggakan.

Dalam proses pencarian identitas pada masa remaja, kondisi tersebut mendorong mereka mencari cara lain untuk merasa bisa dibanggakan. Namun, alih-alih berjuang agar bisa berprestasi, mereka memilih cara pintas dengan melakukan perundungan.

“Jadi, larilah dia mencoba menjadi orang yang kelihatan sangar, ditakuti, dominan. Lalu, dia cari orang yang bisa dibully,” ujarnya.

Menurut Rose Mini, sasaran bullying umumnya adalah anak yang dianggap lebih lemah, pendiam, atau memiliki perbedaan fisik tertentu. Dia menambahkan bahwa perilaku bullying umumnya muncul dari rasa percaya diri yang rendah. Pelaku biasanya beraksi dalam kelompok. 

“Kalau merundung itu mereka pakai teman. Pada waktu bareng-bareng mereka jadi punya kekuatan, tapi kalau sendiri, enggak,” katanya.

Rose menekankan pentingnya peran keluarga dalam membentuk karakter dan moral anak sebelum memasuki dunia luar. Rumah, menurutnya, harus menjadi tempat yang aman untuk mengembangkan rasa percaya diri serta kemampuan moral.

Menurut Rose, peran orang tua dan keluarga sangat penting di sini. Sebab, sejak dini, anak seyogyanya sudah dikenalkan dengan tujuh nilai moral yang penting sebagai bekal mereka dalam bersosialiasi dengan dunia luar, yakni empati, kontrol diri, nurani, kebaikan, keadilan, toleransi, dan rasa hormat.

Dengan begitu, ketika anak berada di luar rumah, mereka mampu menyesuaikan diri secara tepat. Nilai-nilai moral yang sudah tertanam akan membantu mereka mengolah berbagai persoalan, termasuk rasa kurang percaya diri karena prestasi yang rendah, menjadi dorongan positif, bukan justru memicu perilaku bullying.

Dalam konteks yang lebih luas, Rose juga menilai sekolah memiliki tanggung jawab besar sebagai lingkungan kedua bagi anak. Keteladanan guru dan aparatur sekolah diperlukan agar anak memahami batasan perilaku yang benar dan salah. “Kalau di sekolah dibilang tidak boleh ugal-ugalan atau merokok, maka itu harus dicontohkan juga,” ujarnya.

Rose Mini menambahkan, guru dan guru BK perlu mengenal siswa secara personal melalui interaksi informal, misalnya saat jam istirahat. Pendekatan ini memungkinkan sekolah mendeteksi lebih cepat dinamika sosial di antara siswa dan potensi terjadinya bullying.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Daftar Pemenang AMI Awards 2025, dari Silet Open Up hingga Prince Poetiray

BERIKUTNYA

Sinopsis Wicked: For Good, Kisah Pilihan & Pengorbanan di Dunia Oz

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga