Dari Reading Night ke Closing Night: JILF 2025 Persembahkan Malam Untuk Aprila Wayar
18 November 2025 |
15:03 WIB
Acara Reading Night Jakarta International Literary Festival (JILF) 2025 yang digelar pada 16 November 2025 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, menjadi salah satu rangkaian paling emosional sekaligus bermakna dalam festival tahun ini.
Malam tersebut tidak hanya mempersembahkan pembacaan karya sastra, tetapi juga menjadi momen untuk mengenang sosok Aprila Wayar, novelis Perempuada Papua yang pertama sekaligus jurnalis yang selama hidupnya konsisten menyuarakan keadilan, kemanusiaan, dan kisah perempuan Papua.
Acara yang dipandu oleh Hamzah Muhammad sebagai host ini dimulai dengan suasana hangat namun penuh penghormatan. Hamzah membawa audiens masuk ke suasana reflektif, memperkenalkan rangkaian acara serta mengingatkan kembali kontribusi besar Aprila bagi dunia sastra Indonesia. Dengan pembawaan yang tenang dan empatik, ia berhasil menjembatani perasaan duka dan penghargaan yang hadir malam itu.
Baca juga: Hilmar Farid di JILF 2025: Sastra Indonesia Selalu Politikal, namun Tetap Seni
Reading Night kali ini juga menghadirkan dua penulis Papua, Angela Flassy dan Esther Haluk, yang memberikan warna kuat dalam penghormatan untuk Aprila. Mereka tidak hanya membaca karya, tetapi juga berbagi pengalaman pribadi, cerita kebersamaan, serta bagaimana sosok Aprila telah memengaruhi perjalanan mereka sebagai penulis. Kehadiran keduanya membuat suasana semakin dekat dan otentik, seolah membawa penonton masuk ke dalam perjalanan literasi Papua yang penuh perjuangan dan cinta akan tanah kelahiran.
Angela Flassy membacakan beberapa fragmen karya Aprila dengan suara yang lembut namun penuh kekuatan. Setiap kalimat yang ia sampaikan terasa menggugah dan mengingatkan audiens akan keberanian Aprila dalam menuliskan realitas perempuan Papua.
Sementara itu, Esther Haluk membagikan kisah pribadinya tentang bagaimana Aprila selalu mendukung penulis muda Papua untuk terus bersuara. Menurutnya, Aprila adalah sosok yang tegas sekaligus penuh empati, dan warisan itu harus terus dirawat melalui karya-karya generasi berikutnya.
Suasana haru mencapai puncaknya ketika salah satu pembaca membawakan kutipan terakhir yang pernah ditulis Aprila tentang pentingnya melanjutkan perjuangan melalui tulisan. Kalimat itu menjadi pengingat bahwa sastra dapat menjadi suara bagi mereka yang sering tak terdengar.
Setelah sesi penghormatan dan pembacaan karya, acara berlanjut ke Closing Night JILF 2025. Malam penutupan ini dirangkai sebagai momen merayakan keberhasilan festival sekaligus menjadi ruang perjumpaan terakhir bagi para penulis, pembicara, dan pengunjung yang telah mengikuti JILF 2025 selama beberapa hari. Host Hamzah kembali memandu sesi ini dengan suasana yang lebih ringan dan penuh kehangatan.
Penyelenggara JILF dalam sambutan penutup menyampaikan bahwa festival tahun ini tidak hanya menjadi perayaan literasi, tetapi juga ruang untuk memperkuat dialog, memperluas perspektif budaya, dan menghadirkan suara-suara baru dari berbagai daerah, termasuk dari Papua. Mereka juga mengapresiasi kontribusi para penulis seperti Angela Flassy dan Esther Haluk yang membawa narasi penting ke panggung nasional.
Acara ditutup dengan penampilan musik hangat dari band Majelis Lidah Berduri, yang membuat seluruh ruangan terasa intim dan penuh syukur. Reading Night dan Closing Night JILF 2025 menjadi penutup sempurna, memadukan rasa kehilangan, apresiasi, dan harapan untuk masa depan sastra Indonesia.
Baca juga: JILF 2025: Menulis sebagai Sikap Melawan Pengaburan Realitas
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.