JILF 2025: Menulis sebagai Sikap Melawan Pengaburan Realitas
16 November 2025 |
20:30 WIB
Pada gelaran hari terakhirnya, Jakarta Internasional Literary Festival 2025 menghadirkan sesi bincang-bincang Forum Penulis bertajuk Solidarity: on Political Text. Dipadu oleh Shuri Mariasih Tambunan, forum ini menghadirkan sejumlah pemikir dan penulis seperti Antony Loewenstin, Hilmar Farid, dan Raisa Kamila.
Dalam diskusi tersebut, para pembicara menyoroti bagaimana membaca dan menulis selalu punya sisi politik. Karenanya membaca kritis sangat penting supaya kita tidak mudah terbawa oleh wacana atau narasi yang kadang bisa menutupi ketidakadilan atau eksploitasi.
Baca juga: JILF 2025 dan Relevansi Pramoedya Ananta Toer dalam Zaman Pengawasan
Sementara menulis sebagai tindakan politik artinya kita memilih untuk tidak diam. Menulis bisa menjadi cara untuk melawan kekuatan atau sistem yang merendahkan martabat manusia. Karena itu, tulisan yang paling kuat biasanya terasa seperti sebuah protes seruan untuk melawan ketidakadilan.
Raisa Kamila, seorang penulis asal Banda Aceh menelaah lebih dalam terkait kata solidaritas yang kerap diasosiasikan dengan agenda politik. Dia sendiri merefleksikan solidaritas sebagai gestur, perasaan, dan tekanan yang bisa dirasakan bersama.
"Saya ingin memikirkan solidaritas bukan hanya sebagai sesuatu yang politis, tetapi juga emosional, sesuatu yang dapat kita alami melalui tubuh dan kita bagi dengan orang lain," katanya, saat sesi Forum Penulis Solidarity: on Political Text, Minggu (16/11/2025).
Lebih lanjut, Raisa memaparkan, terdapat satu kata dalam bahasa Melayu lama yakni Nuraga yang memiliki makna sama dengan solidaritas. Berasal dari bahasa Sanskerta anurāga, kata ini berarti kasih, pengertian, dan kehangatan yang mengikat satu makhluk dengan makhluk lainnya. Sekarang kata ini dicatat sebagai kata arkaik atau dianggap punah dari penggunaan lisan maupun tulisan.
"Ketika kita berbicara tentang perasaan senasib sepenanggungan, kata “nuraga” terdengar asing. Kita lebih akrab dengan kata solidaritas," katanya.
Kata solidaritas sendiri berakar dari bahasa Latin solidus, berarti kuat, utuh, berdiri bersama. Solidaritas masuk ke dalam kosakata penutur Melayu pada masa perlawanan antikolonial, masa awal Serikat Buruh, dan aliansi antarbangsa. Kata ini lahir dari perjuangan dan tetap menjadi bahasa perlawanan hingga hari ini.
Meski begitu, menurut Raisa, nuraga menyimpan suatu makna yang tidak dimiliki solidaritas. Jika solidaritas mengandaikan kebersamaan yang lahir dari struktur yang kuat, nuraga justru mengalir dari tubuh dari getaran paling awal ketika kita menyaksikan penderitaan orang lain.
"Saya tidak ingin membandingkan mana yang lebih baik, apakah solidaritas atau nuraga, yang ingin saya pertanyakan adalah, mengapa kata “nuraga” menjadi arkaik?" ujarnya.
Raisa berpikir, ketika nuraga menghilang dari penuturan kita, orang-orang kehilangan bahasa untuk menyebut kasih yang halus, yang hadir dari tubuh, yang bersifat naluriah. Memikirkan kembali nuraga adalah memikirkan cara kita belajar kembali untuk menanggung, memikul, menggendong, membersamai, dan menemani.
"Jika solidaritas memberi kita bahasa untuk perjuangan politik, maka nuraga memberi kita bahasa untuk kasih dan kesediaan hadir bagi yang menderita," ujarnya.
Keduanya tidak saling meniadakan, katanya, justru saling melengkapi, yang satu membangun gerakan, yang lain menjaga kemanusiaannya.
Baca juga: Palestina di Panggung JILF 2025, Konflik di Negeri Para Nabi Bukan Hanya Soal Agama
Dalam diskusi tersebut, para pembicara menyoroti bagaimana membaca dan menulis selalu punya sisi politik. Karenanya membaca kritis sangat penting supaya kita tidak mudah terbawa oleh wacana atau narasi yang kadang bisa menutupi ketidakadilan atau eksploitasi.
Baca juga: JILF 2025 dan Relevansi Pramoedya Ananta Toer dalam Zaman Pengawasan
Sementara menulis sebagai tindakan politik artinya kita memilih untuk tidak diam. Menulis bisa menjadi cara untuk melawan kekuatan atau sistem yang merendahkan martabat manusia. Karena itu, tulisan yang paling kuat biasanya terasa seperti sebuah protes seruan untuk melawan ketidakadilan.
Raisa Kamila, seorang penulis asal Banda Aceh menelaah lebih dalam terkait kata solidaritas yang kerap diasosiasikan dengan agenda politik. Dia sendiri merefleksikan solidaritas sebagai gestur, perasaan, dan tekanan yang bisa dirasakan bersama.
"Saya ingin memikirkan solidaritas bukan hanya sebagai sesuatu yang politis, tetapi juga emosional, sesuatu yang dapat kita alami melalui tubuh dan kita bagi dengan orang lain," katanya, saat sesi Forum Penulis Solidarity: on Political Text, Minggu (16/11/2025).
Lebih lanjut, Raisa memaparkan, terdapat satu kata dalam bahasa Melayu lama yakni Nuraga yang memiliki makna sama dengan solidaritas. Berasal dari bahasa Sanskerta anurāga, kata ini berarti kasih, pengertian, dan kehangatan yang mengikat satu makhluk dengan makhluk lainnya. Sekarang kata ini dicatat sebagai kata arkaik atau dianggap punah dari penggunaan lisan maupun tulisan.
"Ketika kita berbicara tentang perasaan senasib sepenanggungan, kata “nuraga” terdengar asing. Kita lebih akrab dengan kata solidaritas," katanya.
Kata solidaritas sendiri berakar dari bahasa Latin solidus, berarti kuat, utuh, berdiri bersama. Solidaritas masuk ke dalam kosakata penutur Melayu pada masa perlawanan antikolonial, masa awal Serikat Buruh, dan aliansi antarbangsa. Kata ini lahir dari perjuangan dan tetap menjadi bahasa perlawanan hingga hari ini.
Meski begitu, menurut Raisa, nuraga menyimpan suatu makna yang tidak dimiliki solidaritas. Jika solidaritas mengandaikan kebersamaan yang lahir dari struktur yang kuat, nuraga justru mengalir dari tubuh dari getaran paling awal ketika kita menyaksikan penderitaan orang lain.
"Saya tidak ingin membandingkan mana yang lebih baik, apakah solidaritas atau nuraga, yang ingin saya pertanyakan adalah, mengapa kata “nuraga” menjadi arkaik?" ujarnya.
Raisa berpikir, ketika nuraga menghilang dari penuturan kita, orang-orang kehilangan bahasa untuk menyebut kasih yang halus, yang hadir dari tubuh, yang bersifat naluriah. Memikirkan kembali nuraga adalah memikirkan cara kita belajar kembali untuk menanggung, memikul, menggendong, membersamai, dan menemani.
"Jika solidaritas memberi kita bahasa untuk perjuangan politik, maka nuraga memberi kita bahasa untuk kasih dan kesediaan hadir bagi yang menderita," ujarnya.
Keduanya tidak saling meniadakan, katanya, justru saling melengkapi, yang satu membangun gerakan, yang lain menjaga kemanusiaannya.
Baca juga: Palestina di Panggung JILF 2025, Konflik di Negeri Para Nabi Bukan Hanya Soal Agama
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.