Penulis Goenawan Mohamad pada diskusi peluncuran buku Wajah di Palestina dalam Jakarta International Literary Festival (JILF) 2025 di Jakarta, Sabtu (15/11/2025). (Sumber foto: Hypeabis.id/Himawan L Nugraha)

Palestina di Panggung JILF 2025, Konflik di Negeri Para Nabi Bukan Hanya Soal Agama

15 November 2025   |   13:54 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Aksi-aksi kemanusiaan untuk membela rakyat Palestina terus digaungkan di penjuru Tanah Air. Terbaru, kegiatan tersebut dilakukan lewat acara diskusi buku Wajah di Palestina, karya Goenawan Mohamad, di Jakarta International Literary Festival (JILF) 2025, Sabtu (15/11/25).

Wajah di Palestina merupakan kumpulan esai yang ditulis Goenawan Mohamad (GM) dari reportase panjangnya ke Timur Tengah. Momen ini terjadi sejak pembunuhan Presiden Mesir Anwar Sadat pada 1981, di mana GM mewawancarai sejumlah tokoh penting, termasuk Perdana Menteri Israel, Menachem Begin.

Baca juga: Laboratorium Kekerasan: Diskusi JILF 2025 tentang Gaza & Pengawasan Global

Berlangsung di Galeri Oesman Effendi, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, diskusi ini menghadirkan langsung penulis Catatan Pinggir itu bersama pengamat budaya populer Hikmat Darmawan, yang dimoderatori Bella Fawzi. Sejak pukul 11.00 WIB, galeri berukuran dua kali lapangan tenis ini penuh oleh pengunjung.

Goenawan Mohamad menegaskan bahwa konflik Palestina–Israel tidak bermula dari serangan Hamas pada 7 Oktober 2023—peristiwa yang hingga kini menewaskan lebih dari 60.000 orang. Akar masalahnya jauh lebih dalam dan lebih tua, berawal dari tragedi Nakba pada 1948, ketika ratusan ribu warga Palestina kehilangan rumah dan tanah mereka.

Pada masa itu, sekitar 750.000 penduduk Palestina diusir dari wilayahnya, sementara lebih dari 500 desa dikosongkan selama perang Arab–Israel. Peristiwa inilah yang kemudian membentuk fondasi ketidakadilan yang terus berulang hingga hari ini.

"Di Palestina sebelum Zionisme, komunitas Yahudi, Kristen, dan Muslim hidup berdampingan sebagai Arab Palestina. Konflik berubah menjadi absolut karena nasionalisme Zionisme, kolonialisme Inggris, dan praktik ethnic cleansing," katanya.

GM menjelaskan bahwa sejarah panjang diskriminasi terhadap Yahudi di Eropa juga turut memengaruhi dinamika konflik. Penindasan berabad-abad, termasuk nelangsa Holocaust, menciptakan rasa gentar yang kemudian digunakan sebagai dasar pembentukan negara Israel.
 

Penulis Goenawan Mohamad (tengah) bersama Penulis Hikmat Darmawan (kiri) dan Moderator Bella Fawzi pada diskusi peluncuran buku Wajah di Palestina dalam Jakarta International Literary Festival (JILF) 2025 di Jakarta, Sabtu (15/11/2025). (Sumber foto: Hypeabis.id/Himawan L Nugraha)

Penulis Goenawan Mohamad (tengah) bersama Penulis Hikmat Darmawan (kiri) dan Moderator Bella Fawzi pada diskusi peluncuran buku Wajah di Palestina dalam Jakarta International Literary Festival (JILF) 2025 di Jakarta, Sabtu (15/11/2025). (Sumber foto: Hypeabis.id/Himawan L Nugraha)


Namun, menurutnya, trauma sejarah tidak dapat menjadi pembenaran bagi praktik kolonialisme pemukim yang mencabut hak-hak rakyat Palestina. Lewat buku terbarunya inilah dia mengurai bagaimana kolonialisme modern bekerja dengan dukungan kekuatan global.

Salah satunya terkait kebijakan Inggris pada masa mandat, serta dukungan Amerika Serikat hingga hari ini, yang memungkinkan impunitas bagi Israel. Ketidakadilan, katanya, tidak bisa hidup tanpa perlindungan kekuatan politik. Di sinilah akar dari tragedi yang terus berulang itu.

"Saat agama dicampurkan dengan nasionalisme, akibatnya adalah antagonisme mutlak. Konflik Palestina–Israel bukan masalah agama, sebab tidak ada permusuhan antara Islam, Yahudi, dan Kristen di sana," katanya.


Palestina dalam Sastra

Selaras, Hikmat Darmawan melihat Wajah di Palestina sebagai dokumen pemikiran yang merekam perjalanan panjang seorang jurnalis dan intelektual. Menurut Hikmat, esai-esai itu memperlihatkan bagaimana GM berpindah dari pembacaan politik yang dingin menuju empati yang lebih dalam terhadap rakyat Palestina.

“Tulisan-tulisan ini menunjukkan evolusi pandangan, dari realpolitik menuju kesadaran kemanusiaan,” ujarnya.

Hikmat juga membandingkan cara generasinya membaca Palestina dengan generasi hari ini. Dia menilai bahwa anak muda kini melihat tragedi itu lewat dokumentasi warga yang beredar luas di media sosial. “Generasi sekarang tidak lagi membacanya sebagai kisah geopolitik kompleks,” imbuhnya.

Perkembangan teknologi tak ayal membuat kekejaman tak dapat lagi disembunyikan. Menurut GM, dokumentasi masyarakat sipil hari ini juga turut membuka tabir yang dulu tertutup rapat oleh propaganda. Namun dia mengingatkan bahwa banjir citra tidak otomatis menghasilkan pemahaman. “Gambar-gambar bisa membuat kita letih,” ujarnya.

Pada momentum inilah sastra kemudian memiliki peran. Kendati tidak mampu menghentikan perang, tetapi dia dapat mengembalikan kedalaman moral dalam melihat tragedi. Sastra memberi ruang untuk berpikir, merenung, dan memahami konteks di balik kekerasan yang terus berlangsung.

GM menyebut bahwa suara publik dunia kini lebih keras dibanding sebelumnya, terutama bangsa-bangsa di Selatan. Sementara Hikmat menilai bahwa aksi boikot, pembacaan kritis media, dan konsistensi menolak normalisasi kekerasan adalah langkah yang dapat ditempuh masyarakat.

Menutup diskusi, GM menegaskan bahwa harapan yang terus dianggit masyarakat tidak boleh padam. Dia menyebut bahwa sejarah penuh dengan perubahan yang tak disangka, dan suara publik sering kali menjadi pemicu paling penting.

"Apa yang harus kita pelajari dari Palestina sebenarnya sudah ada di sejarah, bahwa yang lemah bukan berarti kalah. Sebab yang diperjuangkan adalah keadilan, dan nilai-nilai universal yang nantinya akan ada dukungan dari masyarakat global," katanya.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

SEBELUMNYA

Laboratorium Kekerasan: Diskusi JILF 2025 tentang Gaza & Pengawasan Global

BERIKUTNYA

JILF 2025 dan Relevansi Pramoedya Ananta Toer dalam Zaman Pengawasan

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga