Jahe Merah, Herbal Nusantara dengan Segudang Manfaat yang Terbukti Ilmiah
10 November 2025 |
19:30 WIB
Kunjungan WHO – International Regulatory Cooperation for Herbal Medicines (IRCH) ke Indonesia beberapa waktu lalu memberi sinyal penting bahwa dunia mulai menaruh perhatian lebih pada potensi besar pengobatan berbasis bahan alam dari Nusantara.
Dengan keanekaragaman hayati yang luar biasa, Indonesia memiliki modal kuat untuk menjadi pusat pengembangan obat herbal modern. Salah satu bahan yang kini kembali mencuri perhatian adalah jahe merah, rimpang kecil berwarna merah tua dengan aroma tajam yang sejak lama dikenal dalam pengobatan tradisional.
Baca juga: 3 Resep Wedang Jahe yang Praktis Dibuat, Sehat & Menghangatkan Tubuh
Jahe merah sudah digunakan turun-temurun oleh berbagai masyarakat adat Indonesia mulai dari Jawa, Banjar, Madura, hingga Dayak dan Bugis sebagai ramuan untuk menjaga daya tahan tubuh dan meningkatkan vitalitas.
Dr. Inggrid Tania, Ketua Perkumpulan Dokter Pengembangan Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI) mengatakan, warisan pengetahuan ini kini mendapat pembuktian ilmiah.
“Ribuan tumbuhan sudah digunakan secara empiris sejak nenek moyang kita. Bedanya sekarang, banyak yang sudah dibuktikan lewat riset ilmiah, termasuk jahe merah. Kita memiliki farmakope herbal nasional yang mengatur standarisasi bahan dan produknya,” ujar dr. Inggrid dalam keterangan persnya.
Penelitian modern menemukan bahwa jahe merah mengandung gingerol, shogaol, dan zingerone, tiga senyawa bioaktif yang berperan penting bagi kesehatan. Gingerol memiliki sifat antioksidan dan anti-inflamasi, membantu meredakan peradangan dan melindungi sel tubuh dari stres oksidatif.
Sementara itu, Shogaol yang terbentuk saat jahe dikeringkan atau dipanaskan, berfungsi sebagai pereda mual alami dan membantu melancarkan sirkulasi darah sedangkan Zingerone diketahui memiliki efek antidiabetes dan antibakteri.
Kombinasi ketiganya menjadikan jahe merah salah satu tanaman obat paling serbaguna. Penelitian dalam Phytotherapy Research menemukan bahwa ekstrak jahe merah dapat membantu mengurangi nyeri sendi akibat arthritis, sementara studi di Journal of Ethnopharmacology menunjukkan efeknya dalam menstabilkan kadar gula darah.
Selain itu, aroma pedas khas jahe merah berasal dari minyak atsiri yang berfungsi sebagai antiemetic yang membantu meredakan mual dan pusing, termasuk akibat perjalanan atau kehamilan.
Jahe merah sering dikaitkan dengan peningkatan imunitas, terutama sejak masa pandemi COVID-19. Kandungan antioksidan di dalamnya membantu memperkuat sistem kekebalan tubuh dengan melawan radikal bebas, sedangkan sifat antimikroba membantu melawan infeksi ringan.
Meski begitu, para ahli mengingatkan bahwa konsumsi jahe merah sebaiknya dilengkapi dengan gaya hidup sehat lain seperti tidur cukup, pola makan seimbang, dan olahraga teratur agar efeknya optimal.
Meski manfaatnya sudah terbukti, tantangan terbesar industri herbal di Indonesia masih terletak pada standarisasi dan traceability bahan baku. Menurut dr. Inggrid, ada tiga aspek penting dalam memastikan kualitas produk herbal yakni autentisitas, kemurnian, dan mutu.
Artinya, bahan harus dipastikan benar-benar berasal dari jenis tanaman yang sesuai, bebas kontaminan, dan memiliki kadar zat aktif yang konsisten.
Sistem ekosistem herbal terintegrasi mulai dari pembenihan, budidaya, hingga riset dan pengolahan menjadi kunci agar herbal seperti jahe merah bisa diakui secara global. Dengan sistem itu, setiap tahap produksi bisa ditelusuri asal-usulnya, menjaga keberlanjutan lingkungan, sekaligus meningkatkan kepercayaan konsumen internasional.
Fanny Kurniati Presiden Direktur PT Bintang Toedjoe mengatakan bahwa jahe merah menjadi warisan budaya yang banyak manfaat dan khasiat.
“Ditambah, khasiat anti-inflamasinya juga kami manfaatkan di Komix Herbal. Dimulai dari kebun-kebun binaan kami sampai pabrik dan lab riset berteknologi tinggi, semangat From Nature to Science selalu melandasi tiap proses produksi hingga ke tangan konsumen,” jelasnya.
Keanekaragaman hayati yang melimpah, pengetahuan lokal yang mendarah daging, dan kemajuan sains di Indonesia menandakan Indonesia sudah siap untuk jadi pusat pengembangan obat herbal dunia.
“Kunjungan oleh WHO-IRCH ini menjadi kehormatan besar dan mendorong kami untuk terus membawa pengetahuan lokal yang didasari sains bisa mencapai masyarakat global, dimulai dengan jahe merah,” tutur Fanny Kurniati.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Dengan keanekaragaman hayati yang luar biasa, Indonesia memiliki modal kuat untuk menjadi pusat pengembangan obat herbal modern. Salah satu bahan yang kini kembali mencuri perhatian adalah jahe merah, rimpang kecil berwarna merah tua dengan aroma tajam yang sejak lama dikenal dalam pengobatan tradisional.
Baca juga: 3 Resep Wedang Jahe yang Praktis Dibuat, Sehat & Menghangatkan Tubuh
Jahe merah sudah digunakan turun-temurun oleh berbagai masyarakat adat Indonesia mulai dari Jawa, Banjar, Madura, hingga Dayak dan Bugis sebagai ramuan untuk menjaga daya tahan tubuh dan meningkatkan vitalitas.
Dr. Inggrid Tania, Ketua Perkumpulan Dokter Pengembangan Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI) mengatakan, warisan pengetahuan ini kini mendapat pembuktian ilmiah.
“Ribuan tumbuhan sudah digunakan secara empiris sejak nenek moyang kita. Bedanya sekarang, banyak yang sudah dibuktikan lewat riset ilmiah, termasuk jahe merah. Kita memiliki farmakope herbal nasional yang mengatur standarisasi bahan dan produknya,” ujar dr. Inggrid dalam keterangan persnya.
Penelitian modern menemukan bahwa jahe merah mengandung gingerol, shogaol, dan zingerone, tiga senyawa bioaktif yang berperan penting bagi kesehatan. Gingerol memiliki sifat antioksidan dan anti-inflamasi, membantu meredakan peradangan dan melindungi sel tubuh dari stres oksidatif.
Sementara itu, Shogaol yang terbentuk saat jahe dikeringkan atau dipanaskan, berfungsi sebagai pereda mual alami dan membantu melancarkan sirkulasi darah sedangkan Zingerone diketahui memiliki efek antidiabetes dan antibakteri.
Kombinasi ketiganya menjadikan jahe merah salah satu tanaman obat paling serbaguna. Penelitian dalam Phytotherapy Research menemukan bahwa ekstrak jahe merah dapat membantu mengurangi nyeri sendi akibat arthritis, sementara studi di Journal of Ethnopharmacology menunjukkan efeknya dalam menstabilkan kadar gula darah.
Selain itu, aroma pedas khas jahe merah berasal dari minyak atsiri yang berfungsi sebagai antiemetic yang membantu meredakan mual dan pusing, termasuk akibat perjalanan atau kehamilan.
Jahe merah sering dikaitkan dengan peningkatan imunitas, terutama sejak masa pandemi COVID-19. Kandungan antioksidan di dalamnya membantu memperkuat sistem kekebalan tubuh dengan melawan radikal bebas, sedangkan sifat antimikroba membantu melawan infeksi ringan.
Meski begitu, para ahli mengingatkan bahwa konsumsi jahe merah sebaiknya dilengkapi dengan gaya hidup sehat lain seperti tidur cukup, pola makan seimbang, dan olahraga teratur agar efeknya optimal.
Meski manfaatnya sudah terbukti, tantangan terbesar industri herbal di Indonesia masih terletak pada standarisasi dan traceability bahan baku. Menurut dr. Inggrid, ada tiga aspek penting dalam memastikan kualitas produk herbal yakni autentisitas, kemurnian, dan mutu.
Artinya, bahan harus dipastikan benar-benar berasal dari jenis tanaman yang sesuai, bebas kontaminan, dan memiliki kadar zat aktif yang konsisten.
Sistem ekosistem herbal terintegrasi mulai dari pembenihan, budidaya, hingga riset dan pengolahan menjadi kunci agar herbal seperti jahe merah bisa diakui secara global. Dengan sistem itu, setiap tahap produksi bisa ditelusuri asal-usulnya, menjaga keberlanjutan lingkungan, sekaligus meningkatkan kepercayaan konsumen internasional.
Fanny Kurniati Presiden Direktur PT Bintang Toedjoe mengatakan bahwa jahe merah menjadi warisan budaya yang banyak manfaat dan khasiat.
“Ditambah, khasiat anti-inflamasinya juga kami manfaatkan di Komix Herbal. Dimulai dari kebun-kebun binaan kami sampai pabrik dan lab riset berteknologi tinggi, semangat From Nature to Science selalu melandasi tiap proses produksi hingga ke tangan konsumen,” jelasnya.
Keanekaragaman hayati yang melimpah, pengetahuan lokal yang mendarah daging, dan kemajuan sains di Indonesia menandakan Indonesia sudah siap untuk jadi pusat pengembangan obat herbal dunia.
“Kunjungan oleh WHO-IRCH ini menjadi kehormatan besar dan mendorong kami untuk terus membawa pengetahuan lokal yang didasari sains bisa mencapai masyarakat global, dimulai dengan jahe merah,” tutur Fanny Kurniati.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.