Senarai karya Umi Dachlan dalam pameran bertajuk Imaji, di Art Agenda, Jakarta. (sumber gambar: Art Agenda)

Mengurai Jejak Estetika & Imaji Umi Dachlan di Art Agenda Jakarta

10 November 2025   |   19:16 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Bidang kuning oker hangat itu terbelah oleh palet hitam pekat yang menjulang. Di atasnya, sebatang garis merah menyala secara diagonal. Dua lingkaran samar di bagian bawah kanvas membentuk imaji tentang harmoni, garis tak putus yang berputar dalam diam.

Lukisan bertajuk Hypocrisy (2002) karya Umi Dachlan ini menjadi salah satu karya “termuda” sebelum sang pelukis mangkat pada 2009. Berdimensi 195 x 150 sentimeter, karya akrilik di atas kanvas ini dipajang dalam pameran tunggal bertajuk Imaji, yang berlangsung belum lama ini di Art Agenda, Jakarta.

Baca juga: Nuanu Hadirkan Kolaborasi Seni dan Alam lewat Pameran ‘Liana Reverie: Vivid Colours’

Sebagai salah satu pelopor perempuan pelukis modern Indonesia, Umi Dachlan (1942–2009) adalah sosok yang menolak batasan. Abstraksinya bukan sekadar eksplorasi visual, melainkan refleksi batin tentang hubungan manusia dengan alam dan Sang Pencipta.

Namun, apa yang ingin ditangkap Umi Dachlan dari alam bukan hanya tentang lanskap, melainkan permukaan tekstural dari struktur tanah, pohon, dan batu. Imaji-imaji yang tampak dalam pameran, misalnya, berupa permukaan tanah yang terbentuk oleh erosi atau jejak kerang di pantai.

Simak saja karya bertajuk Abstrak (1992). Lukisan berdimensi 60 x 50 sentimeter ini, bermedium akrilik di atas kanvas, menghadirkan detail struktur dan permukaan batu-batu pegunungan yang diperbesar, didominasi tekstur yang bahkan dari kejauhan sudah menonjol.

Lewat kanvas berukuran sedang ini, Umi seolah sedang menatap kita dengan bidang-bidang hijau, biru, dan kuning yang berani. Sepintas, warna-warna emas itu juga mengingatkan publik pada karya Ahmad Sadali (1924–1987), guru sekaligus mentornya.
 

Karya berjudul

Karya Umi Dachlan berjudul Hypocrisy (tengah)  dalam pameran Imaji, di Art Agenda, Jakarta. (sumber gambar:  Art Agenda)


Lahir di Cirebon pada 13 Agustus 1942, Umi Dachlan menempuh pendidikan di Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung. Di almamaternya inilah Umi kelak menjadi staf pengajar dan bersinggungan dengan Srihadi Soedarsono dan Ahmad Sadali yang turut memengaruhinya.

Kurator pameran, Inas Anisa Aulia, mengatakan bahwa semasa hidupnya Umi Dachlan hadir sebagai sosok yang membawa arus baru di zamannya. Pada dekade 1960-an di Bandung, perempuan perupa bisa dihitung dengan jari, terutama yang konsisten berkarya hingga akhir hayat.

Berbeda dengan banyak seniman lain di masanya, karya-karya Umi Dachlan memiliki corak yang tidak dapat dikelompokkan secara periodik dari tahun ke tahun. Dia juga bereksperimen dengan berbagai medium dan gaya sepanjang hidupnya.

“Pameran ini menemukan dua dari sekian kecenderungan dalam karya abstraknya, yakni tema alam dan tema spiritual. Kedua tema tersebut terkoneksi, di mana sejak awal Umi Dachlan memang kerap terpesona dengan alam di sekitarnya,” kata Inas.

Pameran ini menampilkan 12 karya Umi, dari 1978 hingga 2006. Sebagian besar bergaya abstrak dengan medium cat minyak atau akrilik, namun ada juga karya dengan medium kertas dan media campuran.

Salah satu karya yang memperlihatkan pergeseran Umi sebelum menggeluti abstraksi sepenuhnya adalah Dis-Harmony (1999). Menggunakan medium cat minyak di atas kanvas berdimensi 135 x 122 sentimeter, karya ini menampilkan imaji Colosseum di Roma.

Namun, latar merah bata dengan deretan garis hitam menjulang tampak seperti metafora tentang peradaban yang terus dibangun di atas puing-puing dirinya sendiri. Umi Dachlan menafsir lanskap urban bukan sebagai panorama, tetapi ruang memori dan konflik batin manusia modern.

Ada juga karya bertajuk Contemplation (1996), Gunungan (1985), dan Tanpa Judul (2006) yang sepintas menghadirkan bentuk gunungan dalam pewayangan. Bagi masyarakat Jawa, gunungan adalah simbol alam semesta yang penuh filosofi. Namun, Umi Dachlan memaknainya dengan cara lain.
 

Karya berjudul

Karya Umi Dachlan berjudul Contemplation (1996), Gunungan (1985) dalam pameran Imaji, di Art Agenda, Jakarta. (sumber gambar:  Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)


Lewat ketiga karya itu, Umi Dachlan memaknai spiritualitas sebagai perjalanan batin yang sunyi dan berlapis. Di tangannya, bentuk geometris gunungan menjadi hidup oleh tekstur dan sapuan warna, dari emas hingga merah pekat yang mendominasi.

Inas mengungkap, proses berkarya Umi Dachlan bukan sekadar mengabstraksi bentuk. Bentuk-bentuk yang muncul dalam karyanya merupakan hasil pergolakan batin, sebuah kontemplasi dalam merenungkan gagasan, ide, atau realitas.

“Umi Dachlan tidak hanya menciptakan karya dari esensi bentuk-bentuk alam, tetapi juga melahirkan komposisi yang merepresentasikan kontemplasi dirinya atas keagungan Sang Pencipta,” imbuh Inas.

Pelukis sekaligus kritikus seni rupa Maman Noor (1958–2007) dalam bukunya berjudul Umi Dachlan menulis bahwa sang seniman merupakan pelanjut kecenderungan abstrak Ahmad Sadali. Namun, belakangan, karya-karyanya berdiri dengan identitas yang mandiri.

“Lambat laun anggapan-anggapan itu berhasil ditepisnya. Beberapa orang secara jelas melihat karyanya memang tidak bisa disamakan dengan karya siapa pun, termasuk karya gurunya,” tulis Maman Noor.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

SEBELUMNYA

Begini Strategi Merencanakan Pendidikan Anak Sejak Dini

BERIKUTNYA

Jahe Merah, Herbal Nusantara dengan Segudang Manfaat yang Terbukti Ilmiah

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga