Pendakian Gunung Ijen (Sumber gambar: Chelsea Venda.Hypeabis.id)

Eksotisme Api Biru dalam Sunyi Subuh Gunung Ijen

30 October 2025   |   22:29 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Like
Malam masih pekat ketika deretan mobil travel mulai memenuhi halaman parkir Paltuding, pintu gerbang awal yang biasanya dipakai para wisatawan ketika ingin ke Kawah Ijen, Jawa Timur. Dari pukul 01.00 WIB dini hari, satu per satu rombongan wisatawan mulai berdatangan.

Suasana Paltuding yang tadinya sepi, seketika hidup oleh suara obrolan para wisatawan. Malam itu, sebagian besar pengunjung adalah turis mancanegara. Dari logat dan bahasa yang terdengar, ada yang datang dari Eropa, Asia Timur, hingga Amerika Selatan.

Baca juga:  Fakta Blue Fire di Kawah Ijen, Fenomena Alam Langka Hanya Ada 2 di Dunia

Tujuan mereka malam itu sama, yakni ingin menyaksikan fenomena api biru yang langka. Ijen memang telah lama menjadi primadona, baik dari masa lalu maupun masa kini. Kawasan hutan pegunungan ini pertama kali ditetapkan sebagai Cagar Alam melalui Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda No.46 tanggal 9 Oktober 1920 Stbl No.736 dengan luas 2.560 hektare.

Perjalanan status kawasan ini berlanjut pada 10 Desember 1981, ketika Menteri Pertanian mengeluarkan Surat Keputusan No.1017/Kpts-II/Um/12/1981. Dalam keputusan tersebut, seluas 92 hektare dari Cagar Alam Kawah Ijen ditetapkan menjadi Taman Wisata Alam, sementara 2.468 hektare sisanya tetap berstatus cagar alam.
 

Pendakian Gunung Ijen (Sumber gambar: Chelsea Venda.Hypeabis.id)

Pendakian Gunung Ijen (Sumber gambar: Chelsea Venda.Hypeabis.id)


Meski datang dini hari, untuk mendaki ke kawah ijen, para wisatawan biasanya perlu menunggu setidaknya hingga pukul 02.00 WIB. Sebab, pada pukul tersebut jalur baru dibuka.

Namun, biasanya, beberapa menit sebelum pukul 02.00 WIB, para wisatawan sudah mulai mengantre untuk pemeriksaan tiket. Pendakian ke Gunung Ijen terbilang nyaman dan menyenangkan.

Baru memasuki awal pendakian, wisatawan langsung disuguhi pemandangan khas berupa barisan troli yang ditawarkan oleh para warga lokal, atau lebih akrab disebut sebagai ojek troli. Suasana berubah jadi senda gurau ketika salah satu dari mereka berteriak.

"Ayo Lamborghini, Lamborghini! Come on Mister, Ferrari, Ferrari!" yang segera disambut tawa para wisatawan. Troli sederhana itu memang dianggap sebagai “kendaraan mewah” di jalur pendakian Kawah Ijen.

Disebut mewah bukan tanpa alasan. Sebab bagi wisatawan yang enggan merasakan lelah, tetapi tetap ingin mencapai bibir kawah, mereka bisa menaiki troli ini untuk diantarkan sampai ke puncak. Harga yang dipatok pun beragam, sangat bergantung pada titik keberangkatan penumpang, dengan total biaya yang bisa mencapai sekitar Rp1,5 juta untuk layanan pulang-pergi.

Jalur pendakian Kawah Ijen terbentang sejauh 3,4 kilometer. Waktu tempuh rata-rata antara 1,5 hingga 2,5 jam, tergantung kecepatan langkah dan kondisi fisik. Selama pendakian, wisatawan akan melewati jalur berupa tanah selebar dua meter dengan tanjakan konsisten.

Ada sekitar enam pos kecil sepanjang jalur, yang sering kali juga menjadi tempat pendaki beristirahat sejenak. Di beberapa titik, pos tersebut juga diisi pedagang kecil yang menjajakan minuman hangat, kopi, atau bahkan permen jahe untuk menambah tenaga.

Sebagai informasi, pendakian akan mulai menanjak tajam setelah melewati pos 3, dengan sudut mencapai kemiringan 45 derajat. Tak mengherankan bila setelah pos 3, wajah-wajah wisatawan biasanya akan kompak menunjukkan raut kelelahan.
 

Pendakian Gunung Ijen (Sumber gambar: Chelsea Venda.Hypeabis.id)

Pendakian Gunung Ijen (Sumber gambar: Chelsea Venda.Hypeabis.id)


Namun, angin malam yang menusuk menuntut mereka tak beristirahat terlalu lama. Sementara suara seretan troli dan kejenakan warga lokal menjadi hiburan tersendiri yang memecah kesunyian.

Usai berjalan dua jam, wisatawan akan berada di area puncak. Panorama di sini mulai terbuka. Namun, perjalanan belum berakhir. Sebab, wisatawan perlu untuk turun ke area bibir kawah lagi jika ingin melihat api biru.

Saat turun ke kawah, bau menyengat belerang mulai tercium. Salah satu pemandu di Gunung Ijen yang menemani rombangan kami, Ustman Biyhyt, menyarankan setiap anggotanya untuk memakai masker. Sebab, bau belerang rawan membuat pusing.

Tak lama setelah turun, cahaya biru perlahan mulai tampak di balik gelapnya malam. Walau aroma belerang semakin menyengat, pemandangan itu membuat langkah terasa lebih ringan dan rasa lelah seolah terbayar.

Saat akhirnya sampai di dasar kawah, wisatawan disambut dengan rona api biru yang memesona. Api biru merupakan fenomena langka yang hanya dapat ditemukan di dua tempat di dunia, yakni Kawah Ijen di Indonesia dan Gunung Dallol di Ethiopia.

Api biru tersebut berasal dari gas belerang bersuhu tinggi yang keluar melalui celah vulkanik, lalu terbakar ketika bersentuhan dengan udara, menghasilkan cahaya biru terang yang hanya ketika matahari belum terbit.

"Untuk melihat api biru, wisatawan harus bisa sampai ke bibir kawah sebelum 04.30 WIB atau sebelum matahari terbit. Sebab, api hanya bisa dilihat ketika masih gelap. Versi terbaiknya adalah dilihat ketika musim kemarau, sekitar Juli-September setiap tahunnya." ucap Ustman.
 

Pendakian Gunung Ijen (Sumber gambar: Chelsea Venda.Hypeabis.id)

Pendakian Gunung Ijen (Sumber gambar: Chelsea Venda.Hypeabis.id)


Namun, usai letih selama 2 jam lebih, wisatawan tentu tak menikmati pemandangan api biru saja. Di area dasar kawah, banyak panorama lain yang tak kalah menarik, yakni Danau Kawah berwarna hijau tosca.

Menurut laporan ESDM, danau ini dikenal sebagai danau asam terbesar di dunia, membentang dengan ukuran sekitar 160 x 1160 meter di bagian atas (crater rim) dan 960 x 600 meter di bagian bawah (area danau).

Air danau ini konon memiliki tingkat keasaman ekstrem, dengan pH berkisar antara nol (bahkan tak terukur) hingga 0,8, menjadikannya salah satu danau paling asam di muka bumi. Tingkat keasamannya pun dapat berubah-ubah, tergantung pada musim hujan maupun kemarau yang memengaruhi kondisi kawah.

Selain pesona danau, wisatawan juga dapat menikmati pemandangan bentang alam yang luas. Dari bibir Kawah Ijen, jajaran gunung lain tampak gagah berdiri, di antaranya Gunung Marapi, Raung, dan Suket, yang menambah seru perjalanan trekking ini.
 

Pendakian Gunung Ijen (Sumber gambar: Chelsea Venda.Hypeabis.id)

Pendakian Gunung Ijen (Sumber gambar: Chelsea Venda.Hypeabis.id)


Saat matahari mulai menyingsing, wisatawan juga dapat menyaksikan dinding kaldera Ijen yang menjulang tinggi, seolah menjadi benteng yang mengelilingi danau. Warna bebatuan yang kontras, abu, cokelat, dan keemasan, berpadu indah dengan cahaya matahari pagi.

Saat wisatawan menikmati akhir perjalanannya, samar-samar para penambang belerang juga mulai sibuk dengan rutinitas hariannya. Dengan keranjang bambu di pundak, mereka memanggul bongkahan belerang berwarna kuning cerah dengan berat bisa mencapai 70 kilogram sekali angkut.

Mereka naik turun jalur kawah seakan tanpa henti, menjadi saksi bisu kehidupan keras di balik keindahan Ijen yang telah memesona banyak wisatawan yang datang dari berbagai penjuru dunia.

Baca juga: Edelweiss Wonokitri, Desa Adat Tengger dengan Pesona Bunga Abadi di Kaki Bromo

SEBELUMNYA

7 Alasan Mengapa Australia Barat Jadi Destinasi Ramah Muslim yang Wajib Dikunjungi

BERIKUTNYA

Kenali 5 Pola Halus Ghosting & Cara Menghindarinya

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga