Pameran Dinamika dalam Diam: Dialog Artistik Dua Perupa Senior di Balai Budaya Jakarta
28 October 2025 |
06:00 WIB
Instalasi pipih dari stainless steel dan akrilik di atas kanvas itu memantulkan cahaya dengan kilau lembut. Bentuknya menyerupai pohon dengan ranting yang menjulur lebar, sekilas mengingatkan pada konstelasi bintang atau gugusan planet di angkasa.
Dari sisi belakang, tampak warna dan corak yang berbeda. Kesan serupa masih terasa, namun dari kejauhan, siluet pohon menjulang terlihat jelas, dengan buah dan daun yang memenuhi setiap rerimbunan dahan.
Pohon Kehidupan (2025), demikian judulnya. Instalasi berdimensi 143 x 88 sentimeter ini menjadi salah satu karya paling mencolok dalam pameran bertajuk Dinamika dalam Diam di Balai Budaya Jakarta. Berlangsung hingga 29 Oktober, pameran ini menampilkan karya dua perupa senior, A.R. Sudarto dan Tulus Warsito.
Baca Juga: Pameran Jalinan Waktu, Ketika Batik dan Kimono Bertemu di Museum Nasional
Sama seperti tajuknya, Dinamika dalam Diam menjadi ajang dialog antara dua bahasa rupa yang berbeda, namun saling menegaskan. Kedua seniman menunjukkan bahwa keheningan bukanlah ketiadaan, melainkan ruang tempat ide dan intuisi berkelindan.
Tulus Warsito, misalnya, mengekspresikan gagasannya melalui bentuk geometris dan material yang memantulkan cahaya dalam Pohon Kehidupan. Dia menuturkan, patung pipih dua muka dari logam ini terinspirasi dari wayang, tetapi dieksplorasi secara abstrak.
“Bentuknya bukan figuratif, melainkan permainan garis, warna, dan bidang yang menciptakan sensasi gerak dalam benda diam,” katanya saat ditemui sebelum pembukaan pameran, Rabu (22/10/25).
Metode dan gaya serupa juga tampak dalam karya seperti Homage to Dali, Merawat, Blown in the Wind, dan The Warrior. Dalam senarai karya tiga dimensi itu, sang perupa mengeksplorasi perspektif dengan menghadirkan komposisi optik geometris yang rancak.
Namun dalam beberapa karyanya, Tulus juga menggunakan pendekatan meditatif. Dia membiarkan warna mengalir mengikuti gerak kuas tanpa banyak intervensi. “Saya tidak memulai dari konsep, tapi dari rasa,” katanya. “Warna bisa berubah seiring waktu, sama seperti pikiran dan perasaan manusia.”
Salah satu yang menarik dari karya Tulus adalah lukisannya tidak merepresentasikan benda, melainkan tampil sebagai plototan cat itu sendiri. Karena itu, sang seniman menyebutnya sebagai lukisan abstrak konkrit, yang berarti tidak mewakili hal lain di luar dirinya.
Berbeda dengan Tulus, A.R. Sudarto lebih banyak bermain dalam wilayah spiritualitas warna. Dia menghadirkan komposisi abstrak yang lembut, seolah menjadi gema dari perjalanan batin. Di antara lapisan catnya, tersimpan denyut waktu yang pelan namun terus bergerak.
Simak saja karya bertajuk Kalau Bulan Bisa Ngomong... Salju di Atas Awan (akrilik di atas kanvas, 90 x 140 cm, 2024). Didominasi warna kromatik dengan rembulan merah yang kontras, sang seniman seolah ingin menghadirkan keseimbangan antara keras dan lembut, terang dan teduh, struktur dan intuisi.
Dalam berkarya, Sudarto juga menggunakan roster, yaitu teknik menyusun bidang logam dengan pola berulang seperti kisi, lalu dikombinasikan dengan akrilik dan cat di atas kanvas. Baginya, proses ini bukan sekadar kerja tangan, tetapi juga dialog antara rencana dan kebetulan.
“Roster itu bagi saya bukan cuma pola, tapi cara untuk menata napas dalam bekerja,” tuturnya. Dia percaya keteraturan justru bisa melahirkan spontanitas ketika setiap garis, bayangan, dan pantulan cahaya saling mengoreksi.
Senarai karya Sudarto tidak hanya berbicara melalui bentuk dan material, tetapi juga lewat bahasa warna. Bagi dia, warna bukan sekadar unsur visual, melainkan simbol moral dan spiritual yang lahir dari perenungan panjang. Putih, misalnya, melambangkan ketulusan dan kebaikan yang datang dari Tuhan.
Refleksi ini salah satunya hadir dalam karya berjudul Yarob, Raise Me Up (2021). Secara visual, karya ini menggambarkan Ka’bah dari ketinggian, atau helicopter view, dengan titik-titik manusia yang berduyun-duyun mengelilinginya. Adegan itu mencerminkan kerinduan spiritual dan pencarian harapan.
Lewat karya ini, paparnya, warna menjadi medan spiritual tempat pertarungan antara cahaya dan bayangan berlangsung dalam keheningan. “Manusia itu dalam hatinya ada tiga,” ujarnya. “Putih dari Allah, hitam dari setan, dan abu-abu adalah keraguan kita.”
Paduan karya kedua seniman ini menghadirkan keseimbangan antara keras dan lembut, terang dan teduh, struktur dan intuisi. Dari pertemuan itu muncullah percakapan senyap tentang perjalanan panjang seni abstrak Indonesia yang tidak lagi sekadar bentuk, melainkan pengalaman.
Dari jarak tertentu, karya Tulus memantulkan cahaya ke dinding dan lantai di sekitarnya, menciptakan bayangan tak terduga. Sementara karya Sudarto menghadirkan nuansa yang seolah mengundang penonton untuk berhenti sejenak dan mengingat sesuatu yang tak terucap.
Keduanya berasal dari generasi yang menyaksikan perubahan besar dalam seni rupa Indonesia. Mereka pernah mengalami masa ketika abstraksi dianggap terlalu asing dan terlalu Barat. Kini, keduanya menjadikannya medium refleksi personal yang berakar pada pengalaman lokal.
Dalam Dinamika dalam Diam, keduanya seperti berbincang tanpa suara. Pameran ini berawal pada 2022, saat Sudarto mengunjungi pameran tunggal Tulus di Galeri Nasional Indonesia. Dari sanalah keduanya mulai intens bertukar pikiran, meski hanya lewat sambungan telepon.
“Ini karya yang diam, tapi ingin menghadirkan semangat dan gerak. Bahwa sebagian cocok, sebagian tidak, itu bagian dari dinamika,” pungkas Tulus.
Dinamika dalam Diam akhirnya mengingatkan bahwa dalam diam, seni tetap bergerak. Dia bergerak lewat cahaya, tekstur, dan waktu yang mengendap. Seperti pohon dalam karya Sudarto, akar dan rantingnya menyebar ke banyak arah, tetapi tumbuh dari sumber yang sama, yaitu pencarian akan makna.
Baca Juga: Menyusuri Jejak Material & Memori di Pameran Conjunction of Drones Jakarta
Dari sisi belakang, tampak warna dan corak yang berbeda. Kesan serupa masih terasa, namun dari kejauhan, siluet pohon menjulang terlihat jelas, dengan buah dan daun yang memenuhi setiap rerimbunan dahan.
Pohon Kehidupan (2025), demikian judulnya. Instalasi berdimensi 143 x 88 sentimeter ini menjadi salah satu karya paling mencolok dalam pameran bertajuk Dinamika dalam Diam di Balai Budaya Jakarta. Berlangsung hingga 29 Oktober, pameran ini menampilkan karya dua perupa senior, A.R. Sudarto dan Tulus Warsito.
Baca Juga: Pameran Jalinan Waktu, Ketika Batik dan Kimono Bertemu di Museum Nasional
Sama seperti tajuknya, Dinamika dalam Diam menjadi ajang dialog antara dua bahasa rupa yang berbeda, namun saling menegaskan. Kedua seniman menunjukkan bahwa keheningan bukanlah ketiadaan, melainkan ruang tempat ide dan intuisi berkelindan.
Tulus Warsito, misalnya, mengekspresikan gagasannya melalui bentuk geometris dan material yang memantulkan cahaya dalam Pohon Kehidupan. Dia menuturkan, patung pipih dua muka dari logam ini terinspirasi dari wayang, tetapi dieksplorasi secara abstrak.
“Bentuknya bukan figuratif, melainkan permainan garis, warna, dan bidang yang menciptakan sensasi gerak dalam benda diam,” katanya saat ditemui sebelum pembukaan pameran, Rabu (22/10/25).

Instalasi Pohon Kehidupan karya Tulus Warsito, di pameran seni Dinamika dalam Diam, di Balai Budaya Jakarta (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)
Metode dan gaya serupa juga tampak dalam karya seperti Homage to Dali, Merawat, Blown in the Wind, dan The Warrior. Dalam senarai karya tiga dimensi itu, sang perupa mengeksplorasi perspektif dengan menghadirkan komposisi optik geometris yang rancak.
Namun dalam beberapa karyanya, Tulus juga menggunakan pendekatan meditatif. Dia membiarkan warna mengalir mengikuti gerak kuas tanpa banyak intervensi. “Saya tidak memulai dari konsep, tapi dari rasa,” katanya. “Warna bisa berubah seiring waktu, sama seperti pikiran dan perasaan manusia.”
Salah satu yang menarik dari karya Tulus adalah lukisannya tidak merepresentasikan benda, melainkan tampil sebagai plototan cat itu sendiri. Karena itu, sang seniman menyebutnya sebagai lukisan abstrak konkrit, yang berarti tidak mewakili hal lain di luar dirinya.
Berbeda dengan Tulus, A.R. Sudarto lebih banyak bermain dalam wilayah spiritualitas warna. Dia menghadirkan komposisi abstrak yang lembut, seolah menjadi gema dari perjalanan batin. Di antara lapisan catnya, tersimpan denyut waktu yang pelan namun terus bergerak.
Simak saja karya bertajuk Kalau Bulan Bisa Ngomong... Salju di Atas Awan (akrilik di atas kanvas, 90 x 140 cm, 2024). Didominasi warna kromatik dengan rembulan merah yang kontras, sang seniman seolah ingin menghadirkan keseimbangan antara keras dan lembut, terang dan teduh, struktur dan intuisi.
Dalam berkarya, Sudarto juga menggunakan roster, yaitu teknik menyusun bidang logam dengan pola berulang seperti kisi, lalu dikombinasikan dengan akrilik dan cat di atas kanvas. Baginya, proses ini bukan sekadar kerja tangan, tetapi juga dialog antara rencana dan kebetulan.
“Roster itu bagi saya bukan cuma pola, tapi cara untuk menata napas dalam bekerja,” tuturnya. Dia percaya keteraturan justru bisa melahirkan spontanitas ketika setiap garis, bayangan, dan pantulan cahaya saling mengoreksi.
Senarai karya Sudarto tidak hanya berbicara melalui bentuk dan material, tetapi juga lewat bahasa warna. Bagi dia, warna bukan sekadar unsur visual, melainkan simbol moral dan spiritual yang lahir dari perenungan panjang. Putih, misalnya, melambangkan ketulusan dan kebaikan yang datang dari Tuhan.
Refleksi ini salah satunya hadir dalam karya berjudul Yarob, Raise Me Up (2021). Secara visual, karya ini menggambarkan Ka’bah dari ketinggian, atau helicopter view, dengan titik-titik manusia yang berduyun-duyun mengelilinginya. Adegan itu mencerminkan kerinduan spiritual dan pencarian harapan.
Lewat karya ini, paparnya, warna menjadi medan spiritual tempat pertarungan antara cahaya dan bayangan berlangsung dalam keheningan. “Manusia itu dalam hatinya ada tiga,” ujarnya. “Putih dari Allah, hitam dari setan, dan abu-abu adalah keraguan kita.”

Salah satu instalasi karya di pameran seni Dinamika dalam Diam, di Balai Budaya Jakarta (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)
Paduan karya kedua seniman ini menghadirkan keseimbangan antara keras dan lembut, terang dan teduh, struktur dan intuisi. Dari pertemuan itu muncullah percakapan senyap tentang perjalanan panjang seni abstrak Indonesia yang tidak lagi sekadar bentuk, melainkan pengalaman.
Dari jarak tertentu, karya Tulus memantulkan cahaya ke dinding dan lantai di sekitarnya, menciptakan bayangan tak terduga. Sementara karya Sudarto menghadirkan nuansa yang seolah mengundang penonton untuk berhenti sejenak dan mengingat sesuatu yang tak terucap.
Keduanya berasal dari generasi yang menyaksikan perubahan besar dalam seni rupa Indonesia. Mereka pernah mengalami masa ketika abstraksi dianggap terlalu asing dan terlalu Barat. Kini, keduanya menjadikannya medium refleksi personal yang berakar pada pengalaman lokal.
Dalam Dinamika dalam Diam, keduanya seperti berbincang tanpa suara. Pameran ini berawal pada 2022, saat Sudarto mengunjungi pameran tunggal Tulus di Galeri Nasional Indonesia. Dari sanalah keduanya mulai intens bertukar pikiran, meski hanya lewat sambungan telepon.
“Ini karya yang diam, tapi ingin menghadirkan semangat dan gerak. Bahwa sebagian cocok, sebagian tidak, itu bagian dari dinamika,” pungkas Tulus.
Dinamika dalam Diam akhirnya mengingatkan bahwa dalam diam, seni tetap bergerak. Dia bergerak lewat cahaya, tekstur, dan waktu yang mengendap. Seperti pohon dalam karya Sudarto, akar dan rantingnya menyebar ke banyak arah, tetapi tumbuh dari sumber yang sama, yaitu pencarian akan makna.
Baca Juga: Menyusuri Jejak Material & Memori di Pameran Conjunction of Drones Jakarta
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.