Hypereport: 10 Dokter Indonesia yang Berjasa sejak Era Perjuangan Kemerdekaan
25 October 2025 |
14:23 WIB
Hari Dokter Nasional diperingati setiap 24 Oktober di Indonesia. Tanggal ini bertepatan dengan berdirinya Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pada 1950, yang menjadi wadah bagi para dokter di seluruh Tanah Air untuk berorganisasi, berbagi pengetahuan, dan memperjuangkan kemajuan dunia kesehatan.
Peringatan Hari Dokter Nasional menjadi momentum untuk menghargai dedikasi para dokter yang tak hanya berjuang menyembuhkan penyakit, tetapi juga berperan penting dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui akses kesehatan yang inklusif.
Berikut 10 dokter berjasa di Indonesia yang kiprahnya telah memberikan dampak besar bagi kemajuan dunia kesehatan di Tanah Air. Dari masa perjuangan kemerdekaan hingga era modern, para dokter ini berjasa dalam memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan sosial, dan hak setiap individu untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang layak.
Baca Juga: Dokter Boyke Ingatkan Kesehatan Fisik dan Reproduksi Harus Dijaga Bersamaan
Setelah menempuh pendidikan kedokteran di Hindia Belanda dan melanjutkan studi di Universitas Amsterdam. Setelah lulus, dia bekerja sebagai dokter pemerintah di berbagai daerah dan menunjukkan dedikasi tinggi, termasuk berhasil membasmi wabah pes yang saat itu melanda Malang. Perannya sebagai dokter dan aktivis pergerakan menjadikannya tokoh kunci dalam Kebangkitan Nasional.
Ferdinand lahir di Sibuluan, Sibolga, dan menempuh pendidikan kedokteran di STOVIA. Setelah lulus, dia bekerja sebagai dokter di Rumah Sakit Tenggarong, lalu melanjutkan spesialisasi bedah di Surabaya sebelum menjadi Kepala Rumah Sakit Sibolga.
Bersama Ernest Douwes Dekker dan Ki Hajar Dewantara, dia membentuk "Tiga Serangkai" dan mendirikan Indische Partij, partai politik pertama yang secara terbuka menuntut kemerdekaan Indonesia. Dia juga berjasa dalam upaya penanggulangan wabah penyakit.
Atas jasanya yang besar, namanya diabadikan menjadi nama rumah sakit rujukan nasional, Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) di Jakarta.
Kontribusi terbesarnya bagi bangsa adalah pengorbanannya dalam Pertempuran Lima Hari di Semarang (14-19 Oktober 1945). Beliau gugur saat menjalankan tugas untuk menyelidiki dugaan racun di sumber air minum, yang menyulut pertempuran tersebut. Untuk menghormati pengorbanannya, namanya diabadikan sebagai nama rumah sakit rujukan di Semarang, RSUP Dr. Kariadi.
Beliau dikenal memiliki kepedulian yang sangat tinggi terhadap nasib rakyat kecil dan meyakini bahwa kemajuan bangsa harus dimulai dari peningkatan pendidikan dan kesehatan. Wahidin berkeliling Jawa untuk menyebarkan gagasan "dana pelajar" (studiefonds) guna membantu para pemuda pribumi mendapatkan pendidikan. Gagasan ini disambut baik oleh para pelajar STOVIA, termasuk Soetomo, dan menjadi inspirasi utama bagi berdirinya Budi Utomo pada 1908.
Radjiman sangat peduli terhadap kesehatan masyarakat dan sempat mengambil spesialisasi kebidanan dan kandungan karena prihatin melihat tingginya angka kematian ibu melahirkan.
Moewardi memainkan peran penting dalam pengamanan upacara proklamasi kemerdekaan dan kemudian membentuk gerakan rakyat untuk melawan aksi-aksi yang mengganggu ketertiban negara. Beliau gugur dalam Peristiwa Madiun. Namanya diabadikan sebagai nama rumah sakit rujukan di Solo, RSUD Dr. Moewardi.
Pada masa kemerdekaan, Abdulrachman Saleh juga merupakan salah satu pendiri stasiun pemancar radio yang kemudian menjadi Radio Republik Indonesia (RRI). Selain itu, dikenal sebagai perintis Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) dan seorang penerbang yang andal. Beliau gugur dalam peristiwa penembakan pesawat Dakota VT-CLA oleh Belanda di Yogyakarta, yang kini diperingati sebagai Hari Bakti TNI Angkatan Udara.
Melalui bank mata ini, dia memperjuangkan regulasi dan pengumpulan donor mata untuk membantu para tunanetra, terutama dari kalangan menengah ke bawah, agar bisa mendapatkan kembali penglihatan.
Julie Saroso aktif dalam perjuangan peningkatan akses kesehatan bagi perempuan, anak-anak, dan penduduk desa di Kementerian Kesehatan. Beliau juga pernah menjabat sebagai pejabat di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Namanya diabadikan sebagai nama rumah sakit rujukan untuk penyakit infeksi, Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso (RSPI Sulianti Saroso), yang berperan vital, salah satunya, dalam penanganan pandemi.
Baca Juga: Dokter Tirta Bagikan Tips Mindful Driving, Berkendara Aman dan Nyaman
Peringatan Hari Dokter Nasional menjadi momentum untuk menghargai dedikasi para dokter yang tak hanya berjuang menyembuhkan penyakit, tetapi juga berperan penting dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui akses kesehatan yang inklusif.
Berikut 10 dokter berjasa di Indonesia yang kiprahnya telah memberikan dampak besar bagi kemajuan dunia kesehatan di Tanah Air. Dari masa perjuangan kemerdekaan hingga era modern, para dokter ini berjasa dalam memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan sosial, dan hak setiap individu untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang layak.
Baca Juga: Dokter Boyke Ingatkan Kesehatan Fisik dan Reproduksi Harus Dijaga Bersamaan
1. Sutomo
dokter Sutomo, lahir dengan nama Soebroto pada 30 Juli 1888 dan wafat 30 Mei 1938, merupakan dokter Indonesia. Dia merupakan salah satu pendiri Boedi Oetomo, organisasi politik pribumi pertama di Hindia Belanda, sekaligus pendiri dan pemimpin Partai Indonesia Raya (Parindra) sejak 1935 hingga wafatnya.Setelah menempuh pendidikan kedokteran di Hindia Belanda dan melanjutkan studi di Universitas Amsterdam. Setelah lulus, dia bekerja sebagai dokter pemerintah di berbagai daerah dan menunjukkan dedikasi tinggi, termasuk berhasil membasmi wabah pes yang saat itu melanda Malang. Perannya sebagai dokter dan aktivis pergerakan menjadikannya tokoh kunci dalam Kebangkitan Nasional.
2. Ferdinand Lumban Tobing
dokter Ferdinand Lumban Tobing adalah seorang pahlawan nasional Indonesia yang lahir di Sibolga pada 19 Februari 1899 dan meninggal pada 7 Oktober 1962. Dia merupakan seorang dokter, politikus, dan pejuang kemerdekaan yang dikenal sebagai Gubernur Militer Tapanuli dan Sumatera Timur (1948–1950), serta pernah menjabat sebagai Menteri Penerangan dan Menteri Kesehatan.Ferdinand lahir di Sibuluan, Sibolga, dan menempuh pendidikan kedokteran di STOVIA. Setelah lulus, dia bekerja sebagai dokter di Rumah Sakit Tenggarong, lalu melanjutkan spesialisasi bedah di Surabaya sebelum menjadi Kepala Rumah Sakit Sibolga.
3. Cipto Mangunkusumo
dokter Cipto Mangunkusumo (1886-1943) dikenal sebagai dokter yang sangat vokal dan berani melawan penjajah Belanda. Dia dijuluki Dokter Rakyat karena dedikasinya melayani masyarakat tanpa memandang status sosial.Bersama Ernest Douwes Dekker dan Ki Hajar Dewantara, dia membentuk "Tiga Serangkai" dan mendirikan Indische Partij, partai politik pertama yang secara terbuka menuntut kemerdekaan Indonesia. Dia juga berjasa dalam upaya penanggulangan wabah penyakit.
Atas jasanya yang besar, namanya diabadikan menjadi nama rumah sakit rujukan nasional, Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) di Jakarta.
4. Kariadi
dokter Kariadi (1905-1945) merupakan dokter peneliti penyakit menular dan pahlawan Pertempuran Lima Hari di Semarang. Dia berperan besar dalam pemberantasan wabah malaria dan filariasis (kaki gajah) di berbagai daerah, termasuk Papua, dan bahkan menemukan minyak mikroskopis yang berguna untuk diagnosis penyakit.Kontribusi terbesarnya bagi bangsa adalah pengorbanannya dalam Pertempuran Lima Hari di Semarang (14-19 Oktober 1945). Beliau gugur saat menjalankan tugas untuk menyelidiki dugaan racun di sumber air minum, yang menyulut pertempuran tersebut. Untuk menghormati pengorbanannya, namanya diabadikan sebagai nama rumah sakit rujukan di Semarang, RSUP Dr. Kariadi.
5. Wahidin Soedirohoesodo
dokter Wahidin Soedirohoesodo (1852-1917) merupakan penggagas gerakan nasional melalui pendidikan dan pelopor organisasi Budi Utomo. Dia adalah seorang dokter pribumi lulusan School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) di Batavia (Jakarta).Beliau dikenal memiliki kepedulian yang sangat tinggi terhadap nasib rakyat kecil dan meyakini bahwa kemajuan bangsa harus dimulai dari peningkatan pendidikan dan kesehatan. Wahidin berkeliling Jawa untuk menyebarkan gagasan "dana pelajar" (studiefonds) guna membantu para pemuda pribumi mendapatkan pendidikan. Gagasan ini disambut baik oleh para pelajar STOVIA, termasuk Soetomo, dan menjadi inspirasi utama bagi berdirinya Budi Utomo pada 1908.
6. Radjiman Wedyodiningrat
dokter Radjiman Wedyodiningrat (1879-1952), merupakan Ketua Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan salah satu pendiri Budi Utomo. Dia menempuh pendidikan kedokteran di Eropa.Radjiman sangat peduli terhadap kesehatan masyarakat dan sempat mengambil spesialisasi kebidanan dan kandungan karena prihatin melihat tingginya angka kematian ibu melahirkan.
7. Moewardi
dokter Moewardi (1907-1948), dikenal sebagai dokter spesialis Telinga Hidung Tenggorokan (THT) yang selalu mengutamakan pelayanan kesehatan bagi kelompok masyarakat miskin di Surakarta. Selain sebagai dokter, beliau adalah tokoh pergerakan dan memimpin pasukan militer rakyat yang disebut Barisan Pelopor di Surakarta pada masa perjuangan.Moewardi memainkan peran penting dalam pengamanan upacara proklamasi kemerdekaan dan kemudian membentuk gerakan rakyat untuk melawan aksi-aksi yang mengganggu ketertiban negara. Beliau gugur dalam Peristiwa Madiun. Namanya diabadikan sebagai nama rumah sakit rujukan di Solo, RSUD Dr. Moewardi.
8. Abdulrachman Saleh
Abdulrachman Saleh (1909-1947), merupakan Bapak Fisiologi Kedokteran Indonesia, perintis Radio Republik Indonesia (RRI), dan perintis penerbangan. Dia adalah pelopor dan pengembang Ilmu Faal (Fisiologi) di Indonesia, sehingga diberi gelar Bapak Fisiologi Kedokteran Indonesia.Pada masa kemerdekaan, Abdulrachman Saleh juga merupakan salah satu pendiri stasiun pemancar radio yang kemudian menjadi Radio Republik Indonesia (RRI). Selain itu, dikenal sebagai perintis Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) dan seorang penerbang yang andal. Beliau gugur dalam peristiwa penembakan pesawat Dakota VT-CLA oleh Belanda di Yogyakarta, yang kini diperingati sebagai Hari Bakti TNI Angkatan Udara.
9. Hasri Ainun Habibie
Hasri Ainun Habibie (1937-2010), merupakan dokter mata dan pendiri Bank Mata Indonesia. Dia adalah seorang dokter spesialis mata yang mengabdi di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Meskipun dikenal sebagai Ibu Negara Republik Indonesia ke-3, jasa terbesarnya di bidang kesehatan adalah mendirikan Bank Mata Indonesia (sebelumnya Perkumpulan Penyantun Mata Tunanetra Indonesia/PPMTI).Melalui bank mata ini, dia memperjuangkan regulasi dan pengumpulan donor mata untuk membantu para tunanetra, terutama dari kalangan menengah ke bawah, agar bisa mendapatkan kembali penglihatan.
10. Julie Sulianti Saroso
Julie Sulianti Saroso (1917-1991), merupakan dokter yang memiliki keahlian di bidang kesehatan masyarakat, epidemiologi, dan penyakit menular. Dia adalah salah satu wanita Indonesia pertama yang mendapatkan gelar di bidang kesehatan masyarakat (MPH dan Dr.PH) dari luar negeri.Julie Saroso aktif dalam perjuangan peningkatan akses kesehatan bagi perempuan, anak-anak, dan penduduk desa di Kementerian Kesehatan. Beliau juga pernah menjabat sebagai pejabat di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Namanya diabadikan sebagai nama rumah sakit rujukan untuk penyakit infeksi, Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso (RSPI Sulianti Saroso), yang berperan vital, salah satunya, dalam penanganan pandemi.
Baca Juga: Dokter Tirta Bagikan Tips Mindful Driving, Berkendara Aman dan Nyaman
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.