Pengunjung mengamati koleksi tenunan wastra Jepang saat berlangsungnya pameran bertajuk “Jalinan Waktu: Pewarnaan dan Tenunan Wastra Indonesia dan Jepang” di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, Jumat (24/10/2025). (Sumber gambar: JIBI/Bisnis/Eusebio Chrysnamurti)

Pameran Jalinan Waktu, Ketika Batik dan Kimono Bertemu di Museum Nasional

24 October 2025   |   18:59 WIB
Image
Dewi Andriani Jurnalis Hypeabis.id

Museum dan Cagar Budaya unit Museum Nasional Indonesia menjalin kerja sama dengan Museum Nasional Tokyo menghadirkan pameran bertajuk Jalinan Waktu: Pewarnaan dan Tenunan Wastra Indonesia dan Jepang, bertempat di Museum Nasional Indonesia.

Pameran yang resmi dibuka pada 24 Oktober 2025 ini menghadirkan perjalanan visual dan emosional tentang teknik pewarnaan dan penenunan dari dua negeri yang kaya tradisi tekstil. 

Menampilkan 26 koleksi wastra Jepang dari Museum Nasional Tokyo, sebagian besar berupa kimono dan kain tenun berornamen rumit. Koleksi tersebut dikuratori oleh Dr. Oyama Yuzuruha, Kurator Utama sekaligus Kepala Bagian Penelitian Museum Nasional Tokyo, yang telah meneliti seni tenun Jepang lebih dari satu dekade. 

Baca juga: Menyusuri Jejak Material & Memori di Pameran Conjunction of Drones Jakarta 

Melalui susunan karya yang elegan dan pencahayaan lembut, pengunjung diajak berjalan di antara kimono dari era Edo, kain yuzen dengan corak bunga yang dicat tangan, hingga tenun Nishijin dari Kyoto yang berkilau karena benang emasnya. Setiap kain membawa cerita tentang musim, status sosial, hingga ritual yang pernah mengiringinya.

“Melalui pameran ini, kami ingin menunjukkan bagaimana masyarakat Jepang dan Indonesia mengembangkan teknik tekstil yang berbeda tetapi memiliki semangat serupa tentang ketekunan, kesabaran, dan penghormatan terhadap alam,” ujar Dr. Oyama.

Di dalam pameran ini, pengunjung diajak untuk menikmati keindahan tradisi tekstil Jepang sekaligus memahami keterkaitannya dengan kekayaan tradisi tekstil Indonesia. Pameran ini memperlihatkan kemiripan teknik tenun yang berkembang di kedua negara, sekaligus menjadi ruang refleksi tentang kelestarian dan masa depan warisan budaya tekstil Asia Timur dan Asia Tenggara.

Bagi pengunjung Indonesia, pameran ini menghadirkan refleksi menarik. Teknik pewarnaan yuzen yang menggunakan lem beras ketan, misalnya, memiliki kemiripan filosofi dengan batik tulis yang memakai malam panas. Sementara itu, kilau Nishijin-ori dari Kyoto mengingatkan pada gemerlap songket Sumatra, yang sama-sama menenun benang emas dalam pola geometris yang simbolis.

Kepala Museum dan Cagar Budaya Abi Kusno menegaskan bahwa pameran ini menjadi ruang lintas budaya yang membangun kesadaran baru akan pentingnya pelestarian warisan tekstil.

“Pameran ini menjadi jembatan budaya antara Indonesia dan Jepang, menunjukkan bahwa tradisi wastra bukan hanya karya estetika, tetapi juga simbol pengetahuan, identitas, dan hubungan lintas waktu antarbangsa. Kami berharap publik dapat melihat bahwa pelestarian warisan budaya tidak hanya berbicara tentang masa lalu, tetapi juga masa depan yang dapat terus kita anyam bersama,” ujarnya.

Tak hanya menampilkan koleksi bersejarah, pameran Jalinan Waktu juga diiringi dengan rangkaian workshop budaya Jepang yang digelar setiap akhir pekan selama periode pameran, mulai 25 Oktober hingga 7 Desember 2025. 

Workshop ini melibatkan komunitas pecinta seni Jepang di Indonesia dan dapat diikuti secara gratis, sementara tiket masuk museum mengikuti tarif reguler.

Kolaborasi keduanya melalui pameran ini menjadi simbol hubungan diplomatik yang tak hanya didasari oleh sejarah politik, tapi juga rasa saling menghargai warisan leluhur dan semangat kreatif masyarakat Asia. Informasi lengkap mengenai jadwal kegiatan akan diumumkan melalui akun media sosial resmi Museum Nasional Indonesia. 

Baca juga: Pameran “Dinamika Dalam Diam” di Jakarta, Wadah Dua Perupa Senior Menuai Kritik dan Inspirasi Baru 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 
Editor:

SEBELUMNYA

Co-Founder East Ventures Beberkan Lima Arah Baru Dunia Startup

BERIKUTNYA

Ramaikan Jakarta Running Festival 2025, Strava Rilis Temuan Tren & Pola Latihan Pelari

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga