Ilustrasi pekerja di dunia startup (Sumber gambar: Canva Studio/pexels)

Co-Founder East Ventures Beberkan Lima Arah Baru Dunia Startup

24 October 2025   |   20:41 WIB
Image
Dewi Andriani Jurnalis Hypeabis.id

Dunia startup tengah berada di titik balik. Setelah satu dekade didorong euforia “growth at all cost,” kini arah angin berubah. Investor lebih hati-hati, pendanaan global melambat, dan teknologi seperti AI menciptakan paradigma baru yang belum tentu semua orang siap menjalaninya. 

Di tengah perubahan ini, Willson Cuaca, Managing Partner dan Co-Founder East Ventures, memberikan pandangannya mengenai dunia startup dan pembelajaran yang dapat diambil oleh para founder startup menuju bisnis yang lebih berkelanjutan. 

Baca juga: Ekosistem Startup Masih Menjanjikan, AI Paling Menarik 


1. Menata Ulang Strategi Setelah Gelombang Besar

Menurut Willson, lanskap startup hari ini tidak sama seperti lima tahun lalu. Dunia menghadapi perubahan ekonomi dan teknologi yang cepat dari internet menuju AI. “Konteks ekonominya beda, day wave-nya beda, maka yang kita invest juga akan sedikit berbeda,” ujarnya. 

Dia menyebut fase ini sebagai momen recalibrate yakni menyetel ulang arah bisnis agar sesuai dengan kondisi global dan kebutuhan pasar yang lebih matang. Startup harus lebih disiplin, fokus pada fundamental, dan berani memikirkan keberlanjutan sejak awal, bukan sekadar mengejar headline. 
 

2. Founder Jujur dan Passionate Paling Dicari

Di tengah semua tren dan hype, Willson menekankan bahwa hal terpenting bagi investor bukanlah sektor atau produk tapi orang yang ada di belakang bisnis tersebut. “Asal founder-nya jujur, sincere, dan passionate tentang produknya, pasti kita invest,” tegasnya. 

Baginya, kejujuran dan semangat founder menjadi fondasi utama kepercayaan. Banyak startup gagal bukan karena ide yang buruk, tapi karena mindset yang salah. Seperti ikut-ikutan tren, tidak memahami industri yang digeluti, atau terlalu fokus pada pitch deck ketimbang problem nyata yang ingin diselesaikan. 

Willson bahkan sering menguji keseriusan founder dengan pertanyaan sederhana mengenai problem apa yang mau diselesaikan, kenapa harus menyelesaikan ini, dan kenapa sekarang. Menurutnya, founder yang mampu menjawab dengan keyakinan dan pemahaman mendalam menunjukkan ownership sejati, dan itulah kualitas yang dicari investor masa kini. 
 

3. Gagal itu Wajar tapi Gagal Secara Jujur itu Penting

Willson juga menyinggung sisi gelap ekosistem startup mulai dari kasus fraud, manipulasi data, hingga founder yang kehilangan kepercayaan publik. “Bisnis gagal itu biasa. Tapi yang penting, gagal karena jujur atau tidak,” katanya tegas.

Menurutnya, media dan investor memiliki peran penting dalam membangun kembali kepercayaan. Dia bahkan berharap agar media lebih banyak menyoroti kisah sukses founder yang berintegritas, bukan hanya skandal dan drama startup yang gagal. 


4. Stop Kejar Valuasi, Mulai Bangun Value

Era “bakar uang” boleh jadi sudah lewat, tapi menurut Willson, bukan berarti startup harus anti-investasi. “Saya tidak setuju kalau dibilang era bakar-bakar uang sudah berakhir,” ujarnya.

Sebab menurutnya untuk menciptakan inovasi, sering kali startup memang perlu berinvestasi besar di tahap awal, terutama dalam edukasi pasar dan pengembangan teknologi. 

Willson menjelaskan konsep J-Curve yaitu periode ketika startup mengeluarkan banyak biaya sebelum akhirnya menuai hasil besar saat produk dan sistemnya matang. “Jadi bukan bakar uang, tapi investasi jangka panjang untuk research dan development,” katanya.

Namun, perbedaannya sekarang adalah soal tujuan. Dulu, pengeluaran besar dilakukan demi akuisisi pengguna secepat mungkin. Sekarang, fokusnya adalah membangun value jangka panjang dan model bisnis yang sehat. 
 

5. Saatnya Bangun Ekosistem dan Dampak Nyata

Dalam konteks global yang tidak mudah, termasuk melambatnya arus investasi dari Amerika Serikat akibat kondisi makro, Willson menilai startup di Asia Tenggara harus lebih kreatif dan kolaboratif. “Kita harus benar-benar memikirkan sesuatu yang impactful bagi investor. Artinya, bukan hanya return, tapi juga impact sosial dan ekonomi,” ucapnya.

Dia percaya bahwa masa depan startup di kawasan ini akan ditentukan oleh mereka yang bisa memberikan solusi konkret bagi inefisiensi lokal, seperti di bidang kesehatan, logistik, dan iklim (climate tech). “Kita di Indonesia banyak inefisiensi, jadi peluangnya justru besar,” ujarnya. 

Kolaborasi lintas sektor, membangun nilai tambah bagi masyarakat, dan menjaga integritas tiga hal inilah yang menurut Willson akan menjadi fondasi startup generasi berikutnya. 

Baca juga: Lebih Dekat dengan 8 Startup Indonesia yang Masuk Forbes Asia 100 to Watch 2025 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor:

SEBELUMNYA

Alasan Presiden Prabowo Minta Bahasa Portugis Diajarkan di Sekolah

BERIKUTNYA

Pameran Jalinan Waktu, Ketika Batik dan Kimono Bertemu di Museum Nasional

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga