Jejak Mikroplastik di Air Hujan & Udara Jakarta, Apa Penyebabnya?
23 October 2025 |
20:54 WIB
Temuan mengenai kandungan mikroplastik dalam air hujan di wilayah Jakarta menimbulkan kekhawatiran di masyarakat. Menanggapi hal tersebut, Menteri Lingkungan Hidup RI Hanif Faisol Nurofiq memberikan penjelasan bahwa fenomena tersebut berkaitan dengan persoalan pengelolaan sampah plastik yang belum optimal.
Adapun pernyataan tersebut disampaikannya saat hadir di agenda Indonesia Climate Change Forum (ICCF) III 2025 di Gedung MPR/DPR RI, Jakarta. Disebutkan Hanif bahwa sistem pembuangan sampah di wilayah Jabodetabek masih banyak menggunakan metode dumping. Metode ini membuat penimbunan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) tanpa penutupan yang memadai. Praktik tersebut membuat sampah plastik terpapar panas dan hujan sehingga terurai menjadi partikel berukuran mikron yang dikenal sebagai mikroplastik.
Baca juga: Makanan & Minuman yang Berpotensi Tercemar Mikroplastik
Partikel mikroplastik tersebut dapat terbawa oleh angin ke atmosfer dan akhirnya turun kembali bersama air hujan. Kondisi ini dianggap berkontribusi pada penurunan kualitas lingkungan, terutama udara dan air.
Sebagai solusi, pemerintah disebut tengah menyiapkan proyek pengelolaan sampah berbasis waste to energy di wilayah Jabodetabek.
Namun, hingga kini, implementasinya baru berjalan di Bogor dan Bekasi, sementara Jakarta masih menghadapi kendala kesiapan lahan. Pemerintah juga menilai kondisi pencemaran di ibu kota sudah cukup serius dan perlu penanganan segera.
Rupanya beberapa penelitian telah mengungkap hujan yang turun di Jakarta membawa air sekaligus partikel plastik berukuran mikroskopis. Temuan ini diungkap dalam jurnal ilmiah Marine Pollution Bulletin (Purwiyanto et al., 2022) yang meneliti keberadaan mikroplastik di udara dan hujan kota pesisir Jakarta.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa partikel mikroplastik kini menjadi bagian dari atmosfer perkotaan. Dalam studi selama satu tahun, para peneliti mengumpulkan sampel deposisi atmosfer dari berbagai titik di wilayah pesisir Jakarta menggunakan alat penangkap hujan. Hasilnya memperlihatkan rata-rata sekitar 15 partikel mikroplastik per meter persegi per hari jatuh ke permukaan kota.
Dalam laporan Marine Pollution Bulletin, laju deposisi mikroplastik bisa meningkat signifikan saat musim hujan. Jika pada musim kering hanya sekitar 5,7 partikel/m²/hari, angka itu melonjak hingga 23,4 partikel/m²/hari pada musim hujan. Oleh karena itu, kini hujan berperan sebagai kendaraan alami yang menurunkan partikel plastik dari udara ke tanah.
Bentuk partikel yang ditemukan didominasi serat sintetis atau fiber, diikuti fragmen dan busa plastik. Analisis penelitian tersebut menggunakan spektroskopi FT-IR menunjukkan bahwa polimer utama yang terdeteksi meliputi poliester, polistirena, polibutadiena, dan polietilena yang merupakan bahan umum dari pakaian, ban kendaraan, dan kemasan plastik.
Temuan ini menjadi bukti awal bahwa udara Jakarta telah terkontaminasi mikroplastik. Sayangnya, hujan yang dianggap menjadi penyegar menjadi salah satu jalur kembalinya partikel-partikel mikroplastik ke permukaan bumi.
Fenomena ini diperkuat oleh hasil penelitian lain yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Pollution (Liu et al., 2022). Studi tersebut menjelaskan bahwa hujan memiliki peran besar dalam menurunkan partikel mikroplastik dari udara di kawasan urban padat di dunia.
Saat curah hujan tinggi, partikel plastik di udara tersapu turun bersama butiran air yang meningkatkan jumlah mikroplastik di tanah dan badan air. Liu dan tim menemukan bahwa serat sintetis kecil paling sering terbawa hujan karena ringan dan memiliki luas permukaan besar. Proses ini disebut sebagai wet deposition yang merupakan mekanisme utama yang memindahkan polutan dari atmosfer ke daratan maupun perairan.
Dalam konteks Jakarta, mekanisme ini memperjelas bagaimana hujan dapat memperparah pencemaran mikroplastik di sungai, saluran air, hingga potensi masuk ke air tanah. Ketika partikel-partikel tersebut mengendap, sebagian akan terbawa lagi ke laut, membentuk siklus polusi plastik dari darat ke udara ke laut yang terus berputar.
Selain isu lingkungan, mikroplastik di udara dan hujan juga berpotensi berdampak pada kesehatan manusia. Partikel plastik berukuran di bawah 500 mikrometer dapat terhirup atau tertelan melalui air minum yang menimbulkan efek biologis seperti stres oksidatif, peradangan, hingga gangguan hormonal.
Baca juga: Ada di Udara, Manusia Hirup Mikroplastik Seukuran Kartu Kredit Setiap Minggu
Adapun pernyataan tersebut disampaikannya saat hadir di agenda Indonesia Climate Change Forum (ICCF) III 2025 di Gedung MPR/DPR RI, Jakarta. Disebutkan Hanif bahwa sistem pembuangan sampah di wilayah Jabodetabek masih banyak menggunakan metode dumping. Metode ini membuat penimbunan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) tanpa penutupan yang memadai. Praktik tersebut membuat sampah plastik terpapar panas dan hujan sehingga terurai menjadi partikel berukuran mikron yang dikenal sebagai mikroplastik.
Baca juga: Makanan & Minuman yang Berpotensi Tercemar Mikroplastik
Partikel mikroplastik tersebut dapat terbawa oleh angin ke atmosfer dan akhirnya turun kembali bersama air hujan. Kondisi ini dianggap berkontribusi pada penurunan kualitas lingkungan, terutama udara dan air.
Sebagai solusi, pemerintah disebut tengah menyiapkan proyek pengelolaan sampah berbasis waste to energy di wilayah Jabodetabek.
Namun, hingga kini, implementasinya baru berjalan di Bogor dan Bekasi, sementara Jakarta masih menghadapi kendala kesiapan lahan. Pemerintah juga menilai kondisi pencemaran di ibu kota sudah cukup serius dan perlu penanganan segera.
Hujan Jadi Jalur Baru Polusi Plastik

Ilustrasi hujan (Sumber gambar: Pexels)
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa partikel mikroplastik kini menjadi bagian dari atmosfer perkotaan. Dalam studi selama satu tahun, para peneliti mengumpulkan sampel deposisi atmosfer dari berbagai titik di wilayah pesisir Jakarta menggunakan alat penangkap hujan. Hasilnya memperlihatkan rata-rata sekitar 15 partikel mikroplastik per meter persegi per hari jatuh ke permukaan kota.
Dalam laporan Marine Pollution Bulletin, laju deposisi mikroplastik bisa meningkat signifikan saat musim hujan. Jika pada musim kering hanya sekitar 5,7 partikel/m²/hari, angka itu melonjak hingga 23,4 partikel/m²/hari pada musim hujan. Oleh karena itu, kini hujan berperan sebagai kendaraan alami yang menurunkan partikel plastik dari udara ke tanah.
Bentuk partikel yang ditemukan didominasi serat sintetis atau fiber, diikuti fragmen dan busa plastik. Analisis penelitian tersebut menggunakan spektroskopi FT-IR menunjukkan bahwa polimer utama yang terdeteksi meliputi poliester, polistirena, polibutadiena, dan polietilena yang merupakan bahan umum dari pakaian, ban kendaraan, dan kemasan plastik.
Temuan ini menjadi bukti awal bahwa udara Jakarta telah terkontaminasi mikroplastik. Sayangnya, hujan yang dianggap menjadi penyegar menjadi salah satu jalur kembalinya partikel-partikel mikroplastik ke permukaan bumi.
Fenomena ini diperkuat oleh hasil penelitian lain yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Pollution (Liu et al., 2022). Studi tersebut menjelaskan bahwa hujan memiliki peran besar dalam menurunkan partikel mikroplastik dari udara di kawasan urban padat di dunia.
Saat curah hujan tinggi, partikel plastik di udara tersapu turun bersama butiran air yang meningkatkan jumlah mikroplastik di tanah dan badan air. Liu dan tim menemukan bahwa serat sintetis kecil paling sering terbawa hujan karena ringan dan memiliki luas permukaan besar. Proses ini disebut sebagai wet deposition yang merupakan mekanisme utama yang memindahkan polutan dari atmosfer ke daratan maupun perairan.
Dalam konteks Jakarta, mekanisme ini memperjelas bagaimana hujan dapat memperparah pencemaran mikroplastik di sungai, saluran air, hingga potensi masuk ke air tanah. Ketika partikel-partikel tersebut mengendap, sebagian akan terbawa lagi ke laut, membentuk siklus polusi plastik dari darat ke udara ke laut yang terus berputar.
Selain isu lingkungan, mikroplastik di udara dan hujan juga berpotensi berdampak pada kesehatan manusia. Partikel plastik berukuran di bawah 500 mikrometer dapat terhirup atau tertelan melalui air minum yang menimbulkan efek biologis seperti stres oksidatif, peradangan, hingga gangguan hormonal.
Baca juga: Ada di Udara, Manusia Hirup Mikroplastik Seukuran Kartu Kredit Setiap Minggu
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.