Instalasi dalam pameran Conjunction of Drones di ISA Art Gallery, Jakarta (Sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Menyusuri Jejak Material & Memori di Pameran Conjunction of Drones Jakarta

22 October 2025   |   15:23 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Instalasi melengkung dari untaian rambut sintetis itu hadir dalam nuansa yang liar. Ada yang dikepang, tergerai, atau setengah terkepang oleh pengunjung yang datang. Sebelumnya, mereka lebih dulu mengambil kuncir rambut di sebuah mangkuk lalu mengepangnya dengan jemari.

Things Left Unsaid on the Edge of Her Fingers, itulah judul instalasi tersebut. Karya dari seniman Audya Amalia ini menjadi salah satu yang paling mencolok dalam pameran bertajuk Conjunction of Drones di ISA Art Gallery, Jakarta hingga 6 November 2025. 

Lewat instalasi ini, Audya mengajak publik merasakan kembali kenangan hangat masa kecil, ketika rambutnya dikepang oleh sang ibu. Akan tetapi, di sini pengalaman itu dikonfigurasi ulang, siapa pun bisa ikut serta mengepang, menjadikannya semacam praktik bersama. Dalam keterlibatan itu, memori individu berubah menjadi jalinan komunal. 

“Audya membuat karya ini sebenarnya terinspirasi oleh hubungannya dengan ibunya. Saat kecil, ibunya biasa mengepang rambutnya sambil bercerita. Dia ingin menjadikannya sebuah karya komunal,” ungkap Clea Soebroto, penulis pameran. 

Baca juga: Pameran “Dinamika Dalam Diam” di Jakarta, Wadah Dua Perupa Senior Menuai Kritik dan Inspirasi Baru 

Pameran ini memang sengaja menyoroti material sehari-hari, seperti benang, rambut, tanaman, kulit, hingga kertas. Tajuknya diambil dari karya musik instrumental pendek milik Sufjan Stevens, Conjunction of Drones. Alih-alih memaknai drone secara literal, para seniman menafsirkan repetisi, ritme, hingga gema yang membekas dalam ingatan. 

Frasa drone di sini juga bisa dianggap sebagai sesuatu yang “mengganggu,” namun sekaligus simbol kesinambungan. Dia merepresentasikan getar memori yang melekat dalam praktik artistik. Dengan pendekatan itu, pameran ini menawarkan lanskap penciptaan yang berlapis, dari pengalaman personal hingga refleksi ekologis.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by ISA Art (@isaart.id)


Selain Audya, deretan seniman lain ikut meramaikan pameran ini. Sebut saja A. Sebastianus, Ari Bayuaji, Dian Mayang, Jumaadi, Kristoffer Ardeña, Sarita Ibnoe, Widi Pangestu, hingga Samuel Xun. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, baik pendatang baru maupun seniman yang sudah kerap berpameran di dalam dan luar negeri. 

Setiap seniman menafsirkan serat dan materi organik sebagai medium yang lebih dari sekadar fisik. Ia bisa menyimpan narasi, ingatan, bahkan transformasi. Salah satunya hadir lewat karya Widi Pangestu bertajuk Common Roots (2024) dan Axis/Diaxis (2025).

Dalam dua karya itu, Widi mengeksplorasi metode pembuatan kertas berbasis bahan alami seperti bambu hingga serat abaka. Proses tersebut membukakan wacana baru, bahwa kertas tidak hanya jadi medium penulisan atau gambar, melainkan juga tubuh karya seni itu sendiri. 

Pada Common Roots, dia menampilkan tekstur mentah dari serat-serat kertas. Bentuk persegi panjangnya sekilas mengingatkan pada kriya tradisional, namun sekaligus mengaburkan batas antara seni rupa dan kerajinan. Ada kesan benda sederhana, tetapi sarat makna materialitas.

Menariknya, publik juga bisa melihat corak otentik dari jalinan serat bambu yang masih utuh dalam bentuk jaring. Padahal, pigmen itu dibuat dengan mencampur serat bambu dan benang merino, lalu dijalin kembali. Hasilnya adalah kriya kontemporer yang terasa dekat sekaligus baru. 
 

Tradisi & Lingkungan 

Selain karya-karya di muka, salah satu benang merah pameran ini adalah cara seniman berdialog dengan sejarah material yang mereka gunakan. Materi bukan hanya soal rupa, tetapi juga menyimpan jejak tradisi dan relasi ekologis.

Refleksi ini terlihat jelas dalam karya Jumaadi. Seniman asal Sidoarjo itu memboyong dua karya berbahan kulit binatang bertajuk Pohon Hayat (2024) dan Asal Mula (2023). Keduanya memetakan keragaman dalam penuturan ulang asal-usul, sekaligus mengaitkan tradisi dengan tafsir kontemporer.

Dalam Pohon Hayat, simbol gunungan wayang Jawa dan Bali menjadi poros kosmologis. Dia menandai awal, transisi, dan akhir pertunjukan, lalu diperluas ke ranah kontemporer dengan menghubungkannya pada fenomena migrasi manusia lintas zaman.

Sementara Asal Mula justru membuka ambiguitas. Alih-alih satu versi penciptaan, Jumaadi menampilkan asal-usul jamak, di mana manusia, hewan, dan tumbuhan berbaur dalam ruang ko-eksistensi. Sebuah tafsir yang menyingkap betapa rapuh, tapi sekaligus kaya, cara kita mengingat.
 

ahah

Karya Ari Bayuaji dalam pameran Conjunction of Drones di ISA Art Gallery, Jakarta  (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Pendekatan yang serupa, meski berangkat dari kritik ekologis, juga dilakukan oleh Ari Bayuaji. Dia memanfaatkan sampah plastik laut, lalu mengolahnya menjadi tenun tradisional bersama masyarakat Pantai Kuta. Proses itu menjalin keterhubungan antara limbah, ekologi, dan kerja kolektif.

Lihat saja karyanya Turquoise (2023). Ari mengkonfigurasi ulang sampah laut seperti tali tambang keramba menjadi bidang kromatik. Tenun itu merefleksikan air laut tempat material berasal, sekaligus mengubah residu menjadi panorama baru.

Ada pula The Garden Beneath the Ocean (2024) yang menampilkan simulasi flora laut. Akan tetapi di balik keindahannya, tersimpan paradoks, laut yang melimpah akan tetapi terancam. Ari mengingatkan bahwa ekologi bukan sekadar lanskap, melainkan ruang rawan yang perlu dirawat.

“Yang membuat karyanya istimewa adalah konsepnya yang sangat circular. Ari mengambil material (sampah) dari laut, lalu menenunnya kembali menjadi representasi laut itu sendiri. Lebih dari sekadar estetika, karyanya juga menunjukkan betapa besar rasa hormatnya kepada komunitas lokal,” tutur Clea.

Baca juga: Pameran KukuruYUK! Hadir di Museum Batik Indonesia, Angkat Filosofi Ayam dalam Batik Nusantara 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 
Editor:

SEBELUMNYA

Eksklusif Martin Suryajaya: Melihat Relevansi dan Cara Kerja Filsafat & Sastra Hari Ini

BERIKUTNYA

Colman Domingo Jadi Cowardly Lion di Film Sekuel Wicked: For Good

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga