Dari Candaan Jadi Cuan: Dua Sahabat Sukses Lewat Brand Machu Picchu
22 October 2025 |
17:18 WIB
Menjadi anak muda kreatif di era sekarang tidak hanya soal mengejar gelar atau pekerjaan tetap. Bagi dua sahabat, Dimas Nevandya (24) dan Dendi Andrian (22), perjalanan dari masa SMA hingga dunia kerja justru membuka peluang bisnis unik yang tak terduga.
Lewat brand mereka bernama Machu Picchu, keduanya berhasil menciptakan produk keychain berbentuk ikan dengan desain yang sangat realistis dan digemari banyak orang. Nama Machu Picchu sendiri lahir dari obrolan santai dan candaan sehari-hari.
Baca juga: Berawal dari Tugas Kuliah, Sanane Lahir Sebagai Brand Fesyen Bernilai Sosial
“Kapan sih kita bisa ke luar negeri dengan gaji segini?” ujar Dimas sambil tertawa mengenang awal mula ide itu muncul.
Nama Machu Picchu, yang merupakan ikon wisata terkenal di Peru, dipilih sebagai simbol mimpi dan semangat mereka untuk terus berkarya. Dari candaan sederhana itu, tumbuhlah inspirasi untuk menghadirkan sesuatu yang unik, menyenangkan, dan bernilai jual tinggi.
Inspirasi ide bisnis Machu Picchu datang saat keduanya melihat berbagai keychain berbentuk ikan realistis di Jepang. Dimas dan Dendi melihat potensi besar untuk mengadaptasi konsep itu ke gaya lokal Indonesia, dengan sentuhan kreativitas khas anak muda. Mereka tidak hanya meniru, tetapi mengembangkan konsepnya menjadi lebih menarik dan dekat dengan pasar Indonesia.
“Kami ingin bikin sesuatu yang orang lihat langsung bilang ‘wah, ini beda’,” ujar Dimas.
Produk pertama mereka adalah keychain berbentuk ikan realistis bernama Nagai dan Mappu, yang kemudian menjadi ciri khas brand Machu Picchu. Harganya berkisar antara Rp65.000 hingga Rp70.000, dan dalam sebulan mereka bisa menjual 100 hingga 300 buah.
Proses pembuatan produk Machu Picchu pun tidak mudah. Mereka menggunakan bahan resin yang dicetak (printed), lalu dimodifikasi agar hasil akhirnya lebih menarik. Warna dan corak setiap ikan bisa berbeda tergantung bahan dari supplier, namun hal itu justru membuat setiap keychain memiliki karakter unik.
“Kadang warnanya beda-beda, tapi justru itu yang bikin tiap produk punya kepribadian sendiri,” tambah Dendi.
Untuk strategi pemasaran, Dimas dan Dendi memanfaatkan kekuatan media sosial seperti Instagram dan TikTok. Melalui konten kreatif dan interaksi langsung dengan pelanggan, mereka berhasil menarik perhatian banyak orang. Selain itu, produk Machu Picchu juga tersedia di e-commerce seperti Shopee, yang memudahkan pembeli dari berbagai daerah untuk mendapatkannya.
Namun, keduanya tidak ingin berhenti sampai di situ. Mereka masih menyimpan impian besar untuk membuka toko fisik agar bisa berinteraksi langsung dengan pelanggan. “Harapan kita sih bisa punya store sendiri, jadi orang bisa beli langsung tiap hari,” ungkap Dimas penuh semangat.
Kisah Machu Picchu menunjukkan bahwa bisnis tidak selalu harus dimulai dengan modal besar atau ide rumit. Terkadang, candaan kecil dan rasa ingin mencoba hal baru bisa menjadi awal dari perjalanan panjang menuju kesuksesan. Dimas dan Dendi membuktikan bahwa kreativitas, konsistensi, dan keberanian untuk berbeda dapat membuka peluang bisnis yang unik dan berkelanjutan.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Lewat brand mereka bernama Machu Picchu, keduanya berhasil menciptakan produk keychain berbentuk ikan dengan desain yang sangat realistis dan digemari banyak orang. Nama Machu Picchu sendiri lahir dari obrolan santai dan candaan sehari-hari.
Baca juga: Berawal dari Tugas Kuliah, Sanane Lahir Sebagai Brand Fesyen Bernilai Sosial
“Kapan sih kita bisa ke luar negeri dengan gaji segini?” ujar Dimas sambil tertawa mengenang awal mula ide itu muncul.
Nama Machu Picchu, yang merupakan ikon wisata terkenal di Peru, dipilih sebagai simbol mimpi dan semangat mereka untuk terus berkarya. Dari candaan sederhana itu, tumbuhlah inspirasi untuk menghadirkan sesuatu yang unik, menyenangkan, dan bernilai jual tinggi.
Inspirasi ide bisnis Machu Picchu datang saat keduanya melihat berbagai keychain berbentuk ikan realistis di Jepang. Dimas dan Dendi melihat potensi besar untuk mengadaptasi konsep itu ke gaya lokal Indonesia, dengan sentuhan kreativitas khas anak muda. Mereka tidak hanya meniru, tetapi mengembangkan konsepnya menjadi lebih menarik dan dekat dengan pasar Indonesia.
“Kami ingin bikin sesuatu yang orang lihat langsung bilang ‘wah, ini beda’,” ujar Dimas.
Produk pertama mereka adalah keychain berbentuk ikan realistis bernama Nagai dan Mappu, yang kemudian menjadi ciri khas brand Machu Picchu. Harganya berkisar antara Rp65.000 hingga Rp70.000, dan dalam sebulan mereka bisa menjual 100 hingga 300 buah.
Proses pembuatan produk Machu Picchu pun tidak mudah. Mereka menggunakan bahan resin yang dicetak (printed), lalu dimodifikasi agar hasil akhirnya lebih menarik. Warna dan corak setiap ikan bisa berbeda tergantung bahan dari supplier, namun hal itu justru membuat setiap keychain memiliki karakter unik.
“Kadang warnanya beda-beda, tapi justru itu yang bikin tiap produk punya kepribadian sendiri,” tambah Dendi.
Untuk strategi pemasaran, Dimas dan Dendi memanfaatkan kekuatan media sosial seperti Instagram dan TikTok. Melalui konten kreatif dan interaksi langsung dengan pelanggan, mereka berhasil menarik perhatian banyak orang. Selain itu, produk Machu Picchu juga tersedia di e-commerce seperti Shopee, yang memudahkan pembeli dari berbagai daerah untuk mendapatkannya.
Namun, keduanya tidak ingin berhenti sampai di situ. Mereka masih menyimpan impian besar untuk membuka toko fisik agar bisa berinteraksi langsung dengan pelanggan. “Harapan kita sih bisa punya store sendiri, jadi orang bisa beli langsung tiap hari,” ungkap Dimas penuh semangat.
Kisah Machu Picchu menunjukkan bahwa bisnis tidak selalu harus dimulai dengan modal besar atau ide rumit. Terkadang, candaan kecil dan rasa ingin mencoba hal baru bisa menjadi awal dari perjalanan panjang menuju kesuksesan. Dimas dan Dendi membuktikan bahwa kreativitas, konsistensi, dan keberanian untuk berbeda dapat membuka peluang bisnis yang unik dan berkelanjutan.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.