Menggali Potensi Pangan Fungsional Berbasis Kearifan Lokal
21 October 2025 |
22:00 WIB
Indonesia yang kaya akan keanekaragaman hayati sesungguhnya menyimpan potensi besar untuk dikembangkan menjadi pangan fungsional. Namun, berbagai riset menunjukkan banyak bahan pangan lokal bernilai tinggi justru belum dimanfaatkan secara optimal.
Di sisi lain, perubahan pola konsumsi masyarakat dan ketergantungan pada produk impor membuat inovasi di bidang pangan lokal menjadi semakin mendesak.
“Masih begitu banyak sumber pangan fungsional di Indonesia yang belum tergali. Padahal, jika dimanfaatkan dengan tepat, potensi ini bisa mendorong kemandirian pangan sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat,” ujar Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, M.Sc, Ketua Tim Pakar Indofood Riset Nugraha (IRN).
Baca juga: Ahli Gizi Soroti Produk Ultra-Proses di Menu MBG, Usul 80% Pangan Lokal
Pangan fungsional didefinisikan sebagai bahan pangan yang selain memberikan energi dan gizi, juga memiliki khasiat spesifik bagi kesehatan, misalnya meningkatkan daya tahan tubuh atau menurunkan risiko penyakit tertentu.
Di Indonesia, bahan-bahan seperti tempe, daun kelor, umbi-umbian lokal, hingga fermentasi ikan tradisional menyimpan potensi besar untuk dikembangkan lebih lanjut melalui penelitian ilmiah.
Dalam konteks inilah, riset berperan penting untuk menjembatani antara kekayaan alam dan kebutuhan pangan modern. Riset tidak hanya membuka jalan bagi inovasi, tetapi juga memperkuat pemahaman akan nilai gizi, keamanan pangan, dan potensi sosial ekonomi dari produk lokal.
Sayangnya, riset pangan di tingkat mahasiswa sering kali terbentur keterbatasan fasilitas dan pendanaan. Kondisi ini menjadi perhatian sejumlah pihak, termasuk dunia industri, yang melihat pentingnya kolaborasi dalam membangun ekosistem riset yang berkelanjutan.
Salah satu inisiatif yang telah berjalan hampir dua dekade adalah program Indofood Riset Nugraha (IRN), yang memberikan dukungan dana penelitian kepada mahasiswa S1 di berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Pada periode 2025–2026, IRN menyalurkan bantuan dana riset kepada 96 mahasiswa dari 135 perguruan tinggi negeri dan swasta, dengan tema “Penelitian Pangan Fungsional Berbasis Potensi dan Kearifan Lokal.”
Dari 735 proposal yang masuk, seluruhnya diseleksi secara ketat oleh sembilan tim pakar lintas bidang, meliputi teknologi pangan, sosial ekonomi pertanian, bioteknologi, perikanan, peternakan, hingga gizi dan kesehatan.
Head of Corporate Communications PT Indofood Sukses Makmur Tbk, Indrayana, menyebut bahwa jumlah proposal tahun ini meningkat sekitar 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya. “Antusiasme ini menunjukkan bahwa semakin banyak mahasiswa yang tertarik meneliti pangan fungsional dari berbagai disiplin ilmu,” ujarnya.
Pihaknya pun berharap riset-riset ini tidak hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga memberi dampak nyata bagi pengembangan pangan lokal dan ketahanan pangan nasional. Sejak pertama kali digelar pada 2006, program IRN telah menerima lebih dari 8.300 proposal dan mendanai sekitar 1.200 penelitian mahasiswa.
Selain bantuan dana, penerima IRN juga mendapat pendampingan dari Tim Pakar IRN melalui tahapan audit riset serta pelatihan pengembangan soft skill untuk memperkuat kapasitas mereka sebagai peneliti muda.
Dalam acara penyerahan bantuan penelitian tahun ini, IRN juga mengumumkan empat mahasiswa penerima Penghargaan Peneliti Terbaik 2024–2025, yakni Hamzah Akram Maulana dari Universitas Tanjungpura; Kalisha Nirmala Chandra dari Universitas Gadjah Mada. Selain itu ada juga Rosdiana Anjelina dari Institut Teknologi Bandung; dan Zhafa Nesya Salsabila dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur.
“Kami berharap hasil riset mereka dapat menginspirasi generasi muda untuk terus berinovasi dalam isu pangan berkelanjutan,” ujar Indrayana.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Di sisi lain, perubahan pola konsumsi masyarakat dan ketergantungan pada produk impor membuat inovasi di bidang pangan lokal menjadi semakin mendesak.
“Masih begitu banyak sumber pangan fungsional di Indonesia yang belum tergali. Padahal, jika dimanfaatkan dengan tepat, potensi ini bisa mendorong kemandirian pangan sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat,” ujar Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, M.Sc, Ketua Tim Pakar Indofood Riset Nugraha (IRN).
Baca juga: Ahli Gizi Soroti Produk Ultra-Proses di Menu MBG, Usul 80% Pangan Lokal
Pangan fungsional didefinisikan sebagai bahan pangan yang selain memberikan energi dan gizi, juga memiliki khasiat spesifik bagi kesehatan, misalnya meningkatkan daya tahan tubuh atau menurunkan risiko penyakit tertentu.
Di Indonesia, bahan-bahan seperti tempe, daun kelor, umbi-umbian lokal, hingga fermentasi ikan tradisional menyimpan potensi besar untuk dikembangkan lebih lanjut melalui penelitian ilmiah.
Dalam konteks inilah, riset berperan penting untuk menjembatani antara kekayaan alam dan kebutuhan pangan modern. Riset tidak hanya membuka jalan bagi inovasi, tetapi juga memperkuat pemahaman akan nilai gizi, keamanan pangan, dan potensi sosial ekonomi dari produk lokal.
Sayangnya, riset pangan di tingkat mahasiswa sering kali terbentur keterbatasan fasilitas dan pendanaan. Kondisi ini menjadi perhatian sejumlah pihak, termasuk dunia industri, yang melihat pentingnya kolaborasi dalam membangun ekosistem riset yang berkelanjutan.
Salah satu inisiatif yang telah berjalan hampir dua dekade adalah program Indofood Riset Nugraha (IRN), yang memberikan dukungan dana penelitian kepada mahasiswa S1 di berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Pada periode 2025–2026, IRN menyalurkan bantuan dana riset kepada 96 mahasiswa dari 135 perguruan tinggi negeri dan swasta, dengan tema “Penelitian Pangan Fungsional Berbasis Potensi dan Kearifan Lokal.”
Dari 735 proposal yang masuk, seluruhnya diseleksi secara ketat oleh sembilan tim pakar lintas bidang, meliputi teknologi pangan, sosial ekonomi pertanian, bioteknologi, perikanan, peternakan, hingga gizi dan kesehatan.
Head of Corporate Communications PT Indofood Sukses Makmur Tbk, Indrayana, menyebut bahwa jumlah proposal tahun ini meningkat sekitar 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya. “Antusiasme ini menunjukkan bahwa semakin banyak mahasiswa yang tertarik meneliti pangan fungsional dari berbagai disiplin ilmu,” ujarnya.
Pihaknya pun berharap riset-riset ini tidak hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga memberi dampak nyata bagi pengembangan pangan lokal dan ketahanan pangan nasional. Sejak pertama kali digelar pada 2006, program IRN telah menerima lebih dari 8.300 proposal dan mendanai sekitar 1.200 penelitian mahasiswa.
Selain bantuan dana, penerima IRN juga mendapat pendampingan dari Tim Pakar IRN melalui tahapan audit riset serta pelatihan pengembangan soft skill untuk memperkuat kapasitas mereka sebagai peneliti muda.
Dalam acara penyerahan bantuan penelitian tahun ini, IRN juga mengumumkan empat mahasiswa penerima Penghargaan Peneliti Terbaik 2024–2025, yakni Hamzah Akram Maulana dari Universitas Tanjungpura; Kalisha Nirmala Chandra dari Universitas Gadjah Mada. Selain itu ada juga Rosdiana Anjelina dari Institut Teknologi Bandung; dan Zhafa Nesya Salsabila dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur.
“Kami berharap hasil riset mereka dapat menginspirasi generasi muda untuk terus berinovasi dalam isu pangan berkelanjutan,” ujar Indrayana.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.