Kasus-kasus Pencurian Museum Louvre Sepanjang Sejarah, Hilangnya Lukisan Mona Lisa
20 October 2025 |
12:36 WIB
Aksi pencurian Museum Louvre di Paris, Prancis pada Sabtu (19/10/2025), mencuri perhatian masyarakat dunia. Mahkota dan set perhiasan dari koleksi “French Crown Jewels” yang dipamerkan di Galerie d’Apollon telah raib dibawa kabur sekelompok orang.
Ini bukan pertama kalinya aksi pencurian terjadi di Museum Louvre. Sebelumnya telah terjadi beberapa kasus yang menggemparkan, termasuk pencurian karya seni legendaris, lukisan Mona Lisa dan hilangnya lukisan Le Chemin de Sèvres tanpa jejak.
Baca juga: Museum Louvre Kebobolan, Perhiasan Bersejarah Tak Ternilai Raib Digondol Maling
Awalnya, orang-oramg mengira lukisan itu sedang difoto atau dipinjam untuk perawatan, tetapi ketika kepala konservator memeriksa daftar kegiatan, tak ada satu pun catatan pemindahan. Dalam beberapa jam, kabar itu menyebar ke seluruh Paris.
Pelakunya adalah Vincenzo Peruggia, seorang imigran Italia yang pernah bekerja di Louvre sebagai tukang kaca. Ia mengenal tata letak museum dan cara kerja keamanan di sana. Pada Minggu sebelumnya, Peruggia bersembunyi di dalam lemari di ruang pameran dan menunggu hingga museum tutup.
Keesokan paginya, dia mengenakan seragam putih pekerja museum, melepas bingkai dan kaca pelindung lukisan, lalu menyelipkan kanvas itu di balik bajunya. Dia pun keluar lewat pintu staf tanpa dicurigai siapa pun.
Peruggia menyimpan Mona Lisa di apartemennya di Paris selama dua tahun. Dia mengaku mencuri lukisan itu karena merasa karya Leonardo da Vinci harus dikembalikan ke Italia sebagai “warisan bangsa”. Pada Desember 1913, Peruggia mencoba menjualnya ke seorang dealer seni di Florence, namun sang dealer langsung melapor ke pihak berwenang.
Mona Lisa akhirnya kembali ke Louvre pada Januari 1914, disambut ribuan warga Paris yang datang berduyun-duyun untuk melihat potret “wanita paling terkenal di dunia” itu kembali ke tempatnya.
Lukisan itu berukuran sedang dan sedang dipersiapkan untuk pameran rotasi. Ketika staf datang pada pagi hari, mereka mendapati bingkainya tergantung kosong. Kanvasnya dipotong dengan sangat rapi, menandakan bahwa pencurinya sangat terlatih.
Tidak ada tanda-tanda perusakan paksa dan tidak ada alarm yang berbunyi. Penyelidikan menunjukkan bahwa pencuri kemungkinan besar adalah orang dalam, seseorang yang memahami pola patroli keamanan dan lokasi kamera.
Namun, tidak ada satu pun karyawan Louvre yang terbukti terlibat. Tidak ada saksi mata dan tidak ada rekaman CCTV yang jelas, terlebih sistem pengawasan pada masa itu belum sepenuhnya digital. Selain itu, juga tidak ada permintaan tebusan.
Hingga kini, Le Chemin de Sèvres belum pernah ditemukan. Para ahli seni menduga lukisan itu masuk ke pasar gelap internasional dan disembunyikan sebagai koleksi pribadi.
Berdasarkan laporan polisi dan rekaman CCTV, tiga hingga empat orang pelaku memasuki area Louvre dari sisi bangunan yang menghadap Sungai Seine. Mereka naik menggunakan lift barang untuk mencapai jendela tingkat dua yang sedang dalam renovasi. Jendela itu tidak terhubung dengan alarm utama karena sistemnya sementara dimatikan selama proses perbaikan.
Mereka kemudian memasuki ruang pamer tempat disimpannya koleksi perhiasan bersejarah. Para pencuri memecahkan kaca pelindung salah satu etalase menggunakan alat pemotong logam berkecepatan tinggi, semacam gergaji mesin.
Terdapat delapan benda yang berhasil dibawa kabur, termasuk mahkota, kalung, anting-anting, dan bros. Semuanya berasal dari abad ke-19 dan pernah dimiliki oleh bangsawan serta kekaisaran Prancis.
Salah satu barang curian, yakni mahkota Eugénie, ditemukan beberapa jam kemudian dalam kondisi rusak di pinggiran kota Paris, tampaknya terjatuh saat para pelaku melarikan diri. Sementara, tujuh perhiasan lainnya hingga kini belum ditemukan.
Sejumlah saksi menyebutkan bahwa para pelaku mengenakan pakaian hitam lengkap dengan helm dan sarung tangan, bertindak sangat cepat dan terkoordinasi rapi. Alarm akhirnya berbunyi, tetapi saat petugas keamanan tiba, para pencuri telah melarikan diri melalui tangga darurat yang mengarah ke tepi sungai.
Saat ini 60 lebih penyidik telah diturunkan untuk melakukan penyelidikan. Mereka masih menyelidiki modus operandi, termasuk kemungkinan keterlibatan pihak dalam. Selain itu, apakah pencurian ini atas pesanan kolektor atau untuk dilebur dan dijual kembali di pasar gelap.
Pemerintah Prancis melalui Presiden Emmanuel Macron dan Menteri Kebudayaan Rachida Dati menyatakan pencurian ini sebagai “serangan terhadap warisan bangsa” dan menyatakan komitmen penuh untuk pemulihan benda-benda yang dicuri dan penegakan hukum terhadap pelaku.
Museum Louvre sendiri tutup selama sehari penuh usai kejadian tersebut, dengan alasan “raison exceptionnelle” yang berarti “alasan luar biasa” dalam bahasa Prancis. Penutupan ini dilakukan segera setelah insiden terungkap, sekitar pukul 10 pagi waktu setempat, hanya setengah jam setelah pencuri berhasil melarikan diri.
Petugas keamanan langsung mengevakuasi pengunjung, menutup seluruh akses masuk, dan menyerahkan area Galerie d’Apollon kepada polisi serta tim forensik untuk penyelidikan. Mereka segera melakukan pengumpulan bukti, termasuk rekaman CCTV, sidik jari, serta sisa peralatan yang ditemukan di lokasi.
Keesokan harinya, museum kembali dibuka secara terbatas, namun Galerie d’Apollon tetap ditutup hingga waktu yang belum ditentukan. Pihak museum menyampaikan penyesalan mendalam kepada publik dan berjanji memperkuat sistem keamanan, terutama di area-area yang sedang menjalani renovasi.
Baca juga: Daftar Mahkota dan Set Perhiasan yang Dicuri dari Museum Louvre Prancis
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Ini bukan pertama kalinya aksi pencurian terjadi di Museum Louvre. Sebelumnya telah terjadi beberapa kasus yang menggemparkan, termasuk pencurian karya seni legendaris, lukisan Mona Lisa dan hilangnya lukisan Le Chemin de Sèvres tanpa jejak.
Baca juga: Museum Louvre Kebobolan, Perhiasan Bersejarah Tak Ternilai Raib Digondol Maling
Hilangnya Lukisan Mona Lisa
Pagi hari pada 21 Agustus 1911, menjadi hari paling kelam dalam sejarah Museum Louvre. Ketika staf museum membuka ruang Salon Carré, tempat di mana lukisan-lukisan utama karya Renaissance dipajang. Mereka lalu menyadari satu hal yang tak biasa, yakni dinding tempat Mona Lisa tergantung kosong.Awalnya, orang-oramg mengira lukisan itu sedang difoto atau dipinjam untuk perawatan, tetapi ketika kepala konservator memeriksa daftar kegiatan, tak ada satu pun catatan pemindahan. Dalam beberapa jam, kabar itu menyebar ke seluruh Paris.
Pelakunya adalah Vincenzo Peruggia, seorang imigran Italia yang pernah bekerja di Louvre sebagai tukang kaca. Ia mengenal tata letak museum dan cara kerja keamanan di sana. Pada Minggu sebelumnya, Peruggia bersembunyi di dalam lemari di ruang pameran dan menunggu hingga museum tutup.
Keesokan paginya, dia mengenakan seragam putih pekerja museum, melepas bingkai dan kaca pelindung lukisan, lalu menyelipkan kanvas itu di balik bajunya. Dia pun keluar lewat pintu staf tanpa dicurigai siapa pun.
Peruggia menyimpan Mona Lisa di apartemennya di Paris selama dua tahun. Dia mengaku mencuri lukisan itu karena merasa karya Leonardo da Vinci harus dikembalikan ke Italia sebagai “warisan bangsa”. Pada Desember 1913, Peruggia mencoba menjualnya ke seorang dealer seni di Florence, namun sang dealer langsung melapor ke pihak berwenang.
Mona Lisa akhirnya kembali ke Louvre pada Januari 1914, disambut ribuan warga Paris yang datang berduyun-duyun untuk melihat potret “wanita paling terkenal di dunia” itu kembali ke tempatnya.
Lukisan Le Chemin de Sèvres yang Tak Pernah Ditemukan
Delapan dekade setelah Mona Lisa kembali, Louvre kembali mengalami kasus pencurian. Pada 3 Mei 1998, lukisan Le Chemin de Sèvres karya pelukis Prancis abad ke-19 Jean-Baptiste-Camille Corot dilaporkan hilang dari ruang koleksi sementara.Lukisan itu berukuran sedang dan sedang dipersiapkan untuk pameran rotasi. Ketika staf datang pada pagi hari, mereka mendapati bingkainya tergantung kosong. Kanvasnya dipotong dengan sangat rapi, menandakan bahwa pencurinya sangat terlatih.
Tidak ada tanda-tanda perusakan paksa dan tidak ada alarm yang berbunyi. Penyelidikan menunjukkan bahwa pencuri kemungkinan besar adalah orang dalam, seseorang yang memahami pola patroli keamanan dan lokasi kamera.
Namun, tidak ada satu pun karyawan Louvre yang terbukti terlibat. Tidak ada saksi mata dan tidak ada rekaman CCTV yang jelas, terlebih sistem pengawasan pada masa itu belum sepenuhnya digital. Selain itu, juga tidak ada permintaan tebusan.
Hingga kini, Le Chemin de Sèvres belum pernah ditemukan. Para ahli seni menduga lukisan itu masuk ke pasar gelap internasional dan disembunyikan sebagai koleksi pribadi.
Pencurian Mahkota dan Set Perhiasan Bersejarah
Kini lebih dari satu abad setelah pencurian Mona Lisa, Louvre kembali menjadi sasaran perampokan besar. Pagi hari 19 Oktober 2025, sekelompok pencuri berhasil masuk ke Galerie d’Apollon, ruang tempat mahkota dan perhiasan anggota kerajaan Prancis dipamerkan.Berdasarkan laporan polisi dan rekaman CCTV, tiga hingga empat orang pelaku memasuki area Louvre dari sisi bangunan yang menghadap Sungai Seine. Mereka naik menggunakan lift barang untuk mencapai jendela tingkat dua yang sedang dalam renovasi. Jendela itu tidak terhubung dengan alarm utama karena sistemnya sementara dimatikan selama proses perbaikan.
Mereka kemudian memasuki ruang pamer tempat disimpannya koleksi perhiasan bersejarah. Para pencuri memecahkan kaca pelindung salah satu etalase menggunakan alat pemotong logam berkecepatan tinggi, semacam gergaji mesin.
Terdapat delapan benda yang berhasil dibawa kabur, termasuk mahkota, kalung, anting-anting, dan bros. Semuanya berasal dari abad ke-19 dan pernah dimiliki oleh bangsawan serta kekaisaran Prancis.
Salah satu barang curian, yakni mahkota Eugénie, ditemukan beberapa jam kemudian dalam kondisi rusak di pinggiran kota Paris, tampaknya terjatuh saat para pelaku melarikan diri. Sementara, tujuh perhiasan lainnya hingga kini belum ditemukan.
Sejumlah saksi menyebutkan bahwa para pelaku mengenakan pakaian hitam lengkap dengan helm dan sarung tangan, bertindak sangat cepat dan terkoordinasi rapi. Alarm akhirnya berbunyi, tetapi saat petugas keamanan tiba, para pencuri telah melarikan diri melalui tangga darurat yang mengarah ke tepi sungai.
Saat ini 60 lebih penyidik telah diturunkan untuk melakukan penyelidikan. Mereka masih menyelidiki modus operandi, termasuk kemungkinan keterlibatan pihak dalam. Selain itu, apakah pencurian ini atas pesanan kolektor atau untuk dilebur dan dijual kembali di pasar gelap.
Pemerintah Prancis melalui Presiden Emmanuel Macron dan Menteri Kebudayaan Rachida Dati menyatakan pencurian ini sebagai “serangan terhadap warisan bangsa” dan menyatakan komitmen penuh untuk pemulihan benda-benda yang dicuri dan penegakan hukum terhadap pelaku.
Museum Louvre sendiri tutup selama sehari penuh usai kejadian tersebut, dengan alasan “raison exceptionnelle” yang berarti “alasan luar biasa” dalam bahasa Prancis. Penutupan ini dilakukan segera setelah insiden terungkap, sekitar pukul 10 pagi waktu setempat, hanya setengah jam setelah pencuri berhasil melarikan diri.
Petugas keamanan langsung mengevakuasi pengunjung, menutup seluruh akses masuk, dan menyerahkan area Galerie d’Apollon kepada polisi serta tim forensik untuk penyelidikan. Mereka segera melakukan pengumpulan bukti, termasuk rekaman CCTV, sidik jari, serta sisa peralatan yang ditemukan di lokasi.
Keesokan harinya, museum kembali dibuka secara terbatas, namun Galerie d’Apollon tetap ditutup hingga waktu yang belum ditentukan. Pihak museum menyampaikan penyesalan mendalam kepada publik dan berjanji memperkuat sistem keamanan, terutama di area-area yang sedang menjalani renovasi.
Baca juga: Daftar Mahkota dan Set Perhiasan yang Dicuri dari Museum Louvre Prancis
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.