Pengunjung mengamati fosil manusia dan hewan purba pada pameran Indonesia, The Oldest Civilization on Earth? 130 Years After Pithecanthropus Erectus, di Museum Nasional, Jakarta, Jumat (3/1/2024). (sumber gambar: Hypeabis.id/Himawan L Nugraha)

Museum Date, Gaya Hidup Baru Gen Z di Balik Etalase Sejarah

16 October 2025   |   15:06 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Museum bukan lagi tempat membosankan yang hanya dikunjungi saat study tour sekolah. Kini, ruang berisi benda antik itu justru jadi spot nongkrong baru anak muda. Dari museum date hingga berburu konten, generasi Z menjadikan museum sebagai bagian dari gaya hidup mereka.

Riset IDN 2024 menunjukkan, mengunjungi tempat budaya dan bersejarah kini menjadi salah satu pilihan favorit generasi muda. Di Inggris, museum bahkan tercatat sebagai objek wisata paling populer di kalangan anak muda, meski kesadaran mereka terhadap warisan budaya masih rendah.

Baca juga: Hypereport: Transformasi Museum Indonesia, dari Arsip Sejarah ke Penggerak Ekonomi Kreatif

Fenomena serupa terlihat di Indonesia. Berdasarkan data Badan Layanan Umum (BLU) Museum dan Cagar Budaya, pada 2025 sebanyak 70 persen pengunjung museum didominasi oleh usia di bawah 35 tahun. Dari jumlah itu, kelompok usia 18–24 tahun menjadi yang terbesar, yakni 37 persen.

Nin Djani, Kurator Edukasi dan Program Publik Museum MACAN, mengamini tren tersebut. Menurutnya, lanskap permuseuman di Indonesia dalam dua tahun terakhir menunjukkan arah positif, baik melalui penataan ruang, penelitian koleksi, maupun program publik yang lebih relevan.

“Sejak beroperasi pada 2017, kami mencermati pergeseran demografi audiens. Pada awalnya mayoritas pengunjung adalah generasi milenial yang baru lulus kuliah atau mulai bekerja,” ujarnya.

Kini, kalangan remaja dan dewasa muda masih menjadi pengunjung terbesar. Namun, muncul pula kelompok keluarga muda, yang mayoritas  didominasi para milenial generasi pertama yang datang bersama pasangan dan anak-anak mereka.

“Perkembangan ini menunjukkan museum mulai dijadikan destinasi masyarakat untuk berkegiatan, jadi tidak terbatas pada mal perbelanjaan lagi,” tambah Nin.
 

Peserta mengikuti tour pameran seteleng tunggal Patricia Piccinini, bertajuk CARE di Museum Macan, Jakarta, Sabtu (6/7/2024).  (sumber gambar: Hypeabis.id/Eusebio Chrysnamurti)

Peserta mengikuti tour pameran seteleng tunggal Patricia Piccinini, bertajuk CARE di Museum Macan, Jakarta, Sabtu (6/7/2024). (sumber gambar: Hypeabis.id/Eusebio Chrysnamurti)
 

Namun, relevansi museum tak cukup hanya dengan pameran. Nin menegaskan, pada era digital yang penuh informasi simpang siur, museum punya peran besar dalam merawat budaya penciptaan dan persebaran pengetahuan. “Museum diharapkan menjadi jangkar di tengah banjir informasi,” ujarnya.

Menurut Nin, museum yang berhasil adalah yang mampu menjembatani perubahan zaman dengan komunitas tempatnya berada, sehingga menjadi ruang belajar yang aman, nyaman, dan relevan.

Baca juga: Hypereport: 7 Museum Unik di Indonesia, Bertema Kematian hingga Berisi Nyamuk

Dikemas Modern
Jika di Jakarta ada Museum MACAN dengan pendekatan seni kontemporer, di Malang Museum Angkut hadir dengan strategi berbeda. Sejak 2014, museum ini menawarkan koleksi transportasi bersejarah yang dikemas secara modern.

Marketing & Public Relation Manager Jawa Timur Park Group, Titik S. Ariyanto, menyebut media televisi berperan besar dalam mengenalkan museum ini. “Saat itu museum modern masih jarang. Koleksi kami unik, banyak yang tidak ada di Indonesia, dari kendaraan antik hingga mobil Presiden Soekarno,” ujarnya.

Awalnya, pengelola menargetkan sekolah sebagai pengunjung utama. Namun, karena minat sekolah rendah, strategi pun dialihkan ke komunitas otomotif yang lebih loyal terhadap koleksi transportasi. Alhasil, pengunjung pertama justru banyak datang dari kalangan orang tua.

Seiring waktu, pihaknya memperkuat sisi dekoratif dengan menambah spot-spot foto instagramable. Kegiatan kreatif seperti Halloween party, parade mobil berkostum, hingga pertunjukan drift juga digelar untuk menarik generasi muda.

“Banyak yang heran, kok museum bikin Halloween party. Tapi justru itu yang bikin viral,” tutur Titik. Acara semacam itu berhasil mendobrak paradigma lama bahwa museum harus sunyi dan serius.

Kini, fenomena museum date ikut mendorong kunjungan generasi muda di Museum Angkut. Bahkan, Titik mengklaim, generasi di bawah 40 tahun mendominasi, dengan data dari media sosial menunjukkan mayoritas pengunjung berusia 18–40 tahun.

Meski demikian, sisi edukasi tetap dijaga. Setiap koleksi kendaraan dilengkapi informasi detail, dari aspek teknis hingga nilai sejarahnya. Pengunjung bisa belajar tentang mesin tua berusia seabad, sambil menikmati wahana hiburan.

Menurut Titik, setiap pengunjung memiliki cara berbeda dalam menikmati museum. “Ada yang serius mendalami koleksi, ada pula yang hanya berfoto. Itu tidak bisa dihindari, tapi museum tetap kami rancang sebagai sarana edukasi,” tegasnya.

SEBELUMNYA

Siswa SD, MI & Sederajat Wajib Belajar Bahasa Inggris Mulai Tahun Ajaran 2027/2028

BERIKUTNYA

5 Cara Literasi Keuangan Membantu UMKM Perempuan & Kaum Muda Bertumbuh

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga