Ilustrasi merencanakan perjalanan. (Sumber gamabar: Freepik)

Survei Ungkap Banyak Wisatawan Pakai AI, Kaspersky Imbau Terapkan Langkah Ini

15 October 2025   |   12:00 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Kehadiran artificial intelligence (AI) membantu para traveler merencanakan perjalanan. Menurut temuan terbaru Kaspersky, kecerdasan buatan sangat dihargai di kalangan wisatawan karena menghemat waktu, menemukan rekomendasi yang dipersonalisasi, dan penawaran yang dapat menghemat anggaran. 

Berdasarkan survei yang dilakukan pusat riset pasar Kaspersky, 73 persen wisatawan menggunakan AI untuk menghemat waktu dan menyederhanakan persiapan. Sementara 65 persen responden menyebut AI membantu pencarian informasi tentang objek wisata utama di lokasi yang dipilih dan rekomendasi yang dipersonalisasi sesuai preferensi individu. 

Selain itu, 63 persen memanfaatkan AI untuk menemukan penawaran terbaik, dan 61 persen mempercayainya untuk mengungkap informasi yang sulit ditemukan. Menariknya, generasi yang lebih tua (lebih dari 55 tahun) menunjukkan pola yang sedikit berbeda.

Sebanyak 60 persen generasi boomer ini kurang fokus pada penawaran yang dipersonalisasi. Akan tetapi, 65 persen dari mereka cenderung mengandalkan AI untuk menemukan saran atau rekomendasi yang tidak dapat mereka temukan sendiri. 

Baca juga: Intip Tren dan Minat Wisatawan Indonesia Tahun 2025 Hasil Riset Terbaru 

Kaspersky juga mencatat, sebanyak 68 persen responden yang memiliki anak menunjukkan minat lebih tinggi terhadap rekomendasi yang dipersonalisasi, dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki anak yakni sebesar 60 persen. 

Faktanya, saat ini dengan bantuan AI, rencana perjalanan individual yang sesuai dengan permintaan wisatawan dapat dibuat hanya dalam beberapa klik. Akan tetapi, informasi yang diberikan oleh chatbot masih perlu diperiksa ulang.

Vladislav Tushkanov, Manajer Grup Kaspersky AI Technology Research Center menyampaikan, sudah ada beberapa kasus wisatawan mengalami masalah karena mereka terlalu mempercayai AI dan tidak melakukan riset sendiri untuk perjalanan tersebut. Terlebih lagi, tidak hanya informasinya, tetapi bahkan tautan yang diberikan oleh AI perlu diperiksa, karena mungkin ada tautan berbahaya dan phishing di antaranya. 

Oleh karena itu, sebelum mengklik tautan dari chatbot AI, disarankan untuk memeriksanya dengan solusi keamanan siber yang dilengkapi dengan deteksi phishing.

Tidak bisa dimungkiri, selain menentukan rute dan mencari informasi, AI dalam perencanaan perjalanan sering kali juga berperan dalam pemesanan hotel dan bahkan tiket, yang mau tidak mau mengharuskan pembagian data pribadi oleh penggunanya. Survei Kaspersky mengungkapkan bahwa tidak semua wisatawan siap mempercayakan informasi pribadi mereka kepada AI. 

Hampir separuh yakni 48 persen responden melihat risiko keamanan dalam penggunaan AI dan berusaha untuk tidak membagikan data sensitif apa pun dengannya. Bersama dengan 37 persen responden yang tidak terlalu khawatir tentang keamanan AI tetapi tetap berhati-hati saat menggunakannya, 86 persen responden yang menggunakan AI untuk perencanaan perjalanan juga mempertimbangkan keamanan data saat menggunakan alat-alat ini. 

Hanya 14 persen wisatawan yang yakin bahwa pembagian data apa pun dengan AI sepenuhnya aman. Di antara individu yang lebih muda (usia 18-34), kekhawatiran tentang keamanan layanan AI bahkan lebih tinggi, dengan 52 persen responden waspada dalam membagikan data pribadi mereka dengan AI. 

Generasi yang lebih tua (usia lebih dari 55) sebaliknya, sedikit kurang berhati-hati dalam hal penggunaan AI. Hanya 42 persen yang menyadari potensi risiko AI, sementara 44 persen tidak melihat banyak ancaman keamanan, tetapi memilih berbagi secara selektif, menunjukkan pendekatan yang bertahap terhadap keamanan AI.

Menurut survei tersebut, wisatawan di Spanyol, Inggris, Indonesia, Malaysia, dan Afrika Selatan menunjukkan kekhawatiran yang lebih besar tentang risiko terkait AI, sementara wisatawan di Tiongkok, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi sebaliknya, menunjukkan keyakinan yang lebih tinggi terhadap keamanan sistem AI.

Adapun survei dilakukan pusat riset pasar Kaspersky pada musim panas 2025. Survei ini melibatkan 3.000 responden dari 15 negara seperti Argentina, Chili, China, Jerman, India, Indonesia, Italia, Malaysia, Meksiko, Arab Saudi, Afrika Selatan, Spanyol, Turki, Inggris, dan Uni Emirat Arab. 
 

Waspada Ancaman Siber AI di Kalangan Wisatawan 

Tushkanov menyampaikan, survei ini menyoroti tingkat kehati-hatian yang patut diperhatikan di antara para wisatawan yang menggunakan AI, dan ini menunjukkan sebuah pertanda baik. Sikap rasional menurutnya sangat penting untuk semua jenis interaksi daring, terutama dalam hal berbagi data pribadi. 

"Bagaimanapun, percakapan pribadi Anda dengan AI masih dapat terpapar ancaman siber, atau penawaran menarik yang ditemukan oleh chatbot mungkin ternyata hanyalah skema penipuan," tuturnya, dikutip Hypeabis.id, Rabu (15/10/2025).

Tushkanov menyarankan untuk tetap waspada, hindari berbagi informasi pribadi secara berlebihan, dan pikirkan baik-baik saat memilih tugas yang dapat diberikan kepada AI. Dengan demikian, layanan bertenaga AI dapat berkembang menjadi asisten andal yang membantu mengatasi berbagai tantangan dengan aman dan efektif. 

Untuk tetap aman saat berinteraksi dengan AI, ada beberapa kiat yang dibagikan Kaspersky. Pertama, hindari berbagi data pribadi dengan asisten AI, baik itu ID, alamat, kata sandi, atau detail sensitif lainnya. Berhati-hatilah dalam memilih sumber daya tempat mengunggahnya.

Kedua, lakukan sendiri semua tindakan dan keputusan penting baik itu mengirim email atau melakukan pembelian dan pemesanan. Tugaskan asisten AI hanya untuk tugas-tugas kasual.

Ketiga, verifikasi tautan dan email yang diberikan AI kepada Anda. Gunakan solusi keamanan yang andal untuk memeriksa semua URL dan memblokir sumber daya yang mencurigakan, serta mengamankan pembayaran online.

Keempat, jika memilih AI sebagai asisten perjalanan utama, pastikan memiliki koneksi internet yang stabil selama berada di luar negeri. Pertimbangkan untuk menggunakan eSIM agar memiliki akses data seluler yang konstan. Kelima, jangan hubungkan akun utama yang berisi data rahasia ke chatbot atau layanan bertenaga AI lainnya. 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News
Editor:

SEBELUMNYA

Hypereport: 7 Museum Unik di Indonesia, Bertema Kematian hingga Berisi Nyamuk

BERIKUTNYA

Hypereport: Transformasi Museum Indonesia, dari Arsip Sejarah ke Penggerak Ekonomi Kreatif

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga