Squid Game (Dok. Netflix)

5 Alasan Squid Game Layak Ditonton

24 September 2021   |   18:58 WIB

Squid Game tengah ramai dibicarakan. Serial drama Korea Selatan ini menduduki posisi pertama di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat dan Indonesia. Mengangkat tema survival, Squid Game memang menyuguhkan aksi-aksi yang menegangkan. Meski demikian, bukan itu saja yang menarik dari Squid Game.

Squid Game tidak seperti kebanyakan serial bertema survival. Ada lapisan-lapisan topik yang membuatnya menjadi serial yang unik. Alhasil, meski dibilang menyerupai berbagai film atau variety show—terutama karena mengangkat permainan anak-anak—Squid Game tetap menjadi karya yang sangat layak untuk ditonton. Berikut 5 alasannya:

1. Latarnya bukan apokalips, dystopia, ataupun dunia antah berantah.
Genre survival umumnya hadir di dunia yang amburadul, entah karena bencana alam, makhluk asing, pengaruh gaib, ataupun zombie. Ini tidak terjadi pada Squid Game.

Squid Game berada di latar Korea yang biasa, walaupun event-nya memang diselenggarakan di pulau yang agak terpencil.

Hasilnya, apa yang terjadi dalam Squid Game terasa sangat mungkin untuk terjadi di dunia nyata. Setidaknya, kita akan lebih mudah membayangkan ada semacam pertarungan hidup-mati di Kepulauan Seribu, ketimbang membayangkan Jakarta dikepung zombie.

2. Peserta ikut atas kemauannya sendiri.
Dalam kebanyakan kisah survival, para tokoh umumnya tidak punya pilihan. Squid Game berbeda. Para tokoh Squid Game justru menempatkan dirinya dalam bahaya atas kemauannya sendiri. Tujuannya: memperoleh hadiah uang untuk melunasi utang.

Suasana ketidakberdayaan terpancar dari diri para tokoh, seakan tidak ada lagi yang mereka punya selain nyawa mereka sendiri. Mereka lebih percaya mekanisme game survival (pertaruhan nyawa) ketimbang kehidupan sehari-harinya. 

3. Tidak hitam putih.
Para tokoh bisa dibilang bukanlah orang yang bisa dianggap ‘baik-baik’ dalam kacamata konvensional; ada tukang judi, imigran ilegal, pelaku penggelapan uang, preman, dan semacamnya.

Di sisi lain, pihak yang menyelenggarakan Squid Game juga tidak sepenuhnya jahat. Seperti yang disebut sebelumnya, mereka tidak memaksa peserta mengikuti game; bahkan, sebagaimana pembelaannya, mereka menyiapkan uang berjumlah besar untuk peserta.

Dinamika inilah yang membuat konflik antar-karakter Squid Game jadi berlapis-lapis. Dari sisi peserta, misalnya, mereka saling membantu, tapi pada saat bersamaan juga saling berkompetisi. Setiap tindakan pun tidak bisa hanya dinilai dari kacamata moral benar-salah yang hitam-putih.

4. Bertahan hidup tidak serta-merta jadi tujuan utama.
Bertahan hidup di Squid Game sebenarnya mudah: cukup gunakan kesempatan voting, perjuangkan opsi menghentikan permainan, dan kembali ke kehidupan masing-masing dalam kondisi sehat. Mudah sekali. Ini pun sempat terwujud di episode kedua, ketika suara mayoritas menginginkan game dihentikan.

Namun, nyatanya, bertahan hidup di game dan pulang ke rumah bukanlah solusi. Pasalnya, tanpa uang yang cukup, kehidupan nyata mereka sama menyiksanya seperti permainan survival yang kejam. 

Inilah kemudian yang membuat para tokoh kembali lagi ke game. Di sana pertemanan, kebutuhan bertahan hidup, dan moral mereka diuji habis-habisan. Hadiah kemenangan memang besar, tapi harga yang harus dibayar pun tak kalah besarnya.

5. Sarat akan kritik sosial.
Jika suasana pesimistis dalam Squid Game diresapi, sesungguhnya ada kritik keras terhadap bagaimana dunia bekerja. Nyatanya, bagi orang-orang tertentu, dunia memang sangat tak adil, sehingga menjalaninya akan terasa jauh lebih parah daripada battleground.

Peran manusia dalam membantu sesamanya pun terus menjadi pertanyaan besar dalam film. Jika tujuan manusia hanyalah bertahan hidup, di mana letaknya empati? Inilah pertanyaan yang kemudian dimunculkan dan terjawab di akhir film. 

Penasaran? Saksikan saja langsung serialnya!

Editor: Fajar Sidik

SEBELUMNYA

4 Tips Memilih Asuransi Buat Kalian yang Masih Jomblo

BERIKUTNYA

Adopsi Awal Sistem Operasi iOS 15 Rendah, Kenapa Ya?

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: