Ilustrasi anxiety disorder (Sumber Foto: Freepik)

Kenali Anxiety Disorder: Gejala, Penyebab, sampai Faktor Risikonya

14 October 2025   |   20:31 WIB
Image
Kintan Nabila Jurnalis Hypeabis.id

Cemas merupakan bagian dari kehidupan. Dalam kadar yang wajar, rasa ini dibutuhkan agar seseorang lebih waspada dan bisa menghadapi tantangan. Namun, kewaspadaan perlu ditingkatkan jika cemas muncul berlebihan, menetap, dan mengganggu aktivitas. Kondisi itu bisa jadi tanda awal anxiety disorder atau gangguan kecemasan.

Zulvia Oktanida Syarif, Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa RS Pondok Indah – Pondok Indah, menyebutkan sejumlah gejala utama gangguan kecemasan. Salah satu yang utama adalah munculnya perasaan khawatir yang berlebihan dan sulit dikendalikan. 

Selain itu, terdapat sejumlah tanda lain yang dapat menyertai, seperti tubuh gemetar, berkeringat dingin, jantung berdebar kencang terkadang disertai nyeri dada yang kerap disalahartikan sebagai serangan jantung, serta mual atau sakit perut.

"Napas yang menjadi lebih cepat, tubuh terasa lemas, dan munculnya rasa gelisah, tegang, serta mudah marah juga merupakan gejala umum," tambahnya. 

Baca juga: Anxiety Bukan Sekadar Rasa Takut, Begini Cara Mengenali dan Mengelolanya 

Beberapa penderita bahkan merasa seolah-olah akan mengalami kemalangan atau malapetaka, seperti berada dalam kondisi yang berbahaya. Mereka juga kesulitan berkonsentrasi atau merespons situasi pemicu stres secara berlebihan tanpa mampu mengendalikan diri. 

Gangguan tidur seperti insomnia juga kerap muncul dan kecemasan yang dialami dapat menyebabkan penurunan kemampuan untuk beraktivitas atau bersosialisasi. "Jika gejala tersebut berlangsung selama enam bulan atau lebih, kemungkinan besar memenuhi kriteria anxiety disorder," ujar Zulvia. 

Dia menambahkan, penderita gangguan kecemasan cenderung menghindari situasi yang memicu rasa takutnya sebagai bentuk perlindungan diri. Akibatnya, potensi seseorang tidak dapat berkembang secara maksimal, bahkan aktivitas sehari-hari bisa terganggu. 

Gangguan ini dapat berdampak besar pada kualitas hidup. Karena itu, penting untuk segera berkonsultasi dengan dokter spesialis kedokteran jiwa atau psikiater agar diagnosis dan penanganan dapat dilakukan sejak dini.
 

Penyebab dan Faktor Risiko Anxiety Disorder 

Sampai saat ini, penyebab pasti gangguan kecemasan belum sepenuhnya diketahui. Akan tetapi, para ahli meyakini bahwa anxiety disorder muncul akibat kombinasi antara faktor genetik, perubahan senyawa kimia di otak, dan pengaruh lingkungan, terutama pada individu yang memiliki pengalaman traumatik.

Perubahan keseimbangan zat kimia di otak bisa terjadi akibat stres berkepanjangan yang tidak ditangani dengan baik. Ketika pengaturan emosi dan rasa takut terganggu, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi gangguan kecemasan, terutama pada orang yang rentan secara psikologis.

Beberapa hal yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami anxiety disorder, di antaranya:
  • Pengalaman negatif yang menyebabkan stres berat atau trauma psikologis, misalnya menyaksikan peristiwa tragis atau kekerasan.
  • Kepribadian yang cenderung pemalu, sering ditekan, atau dibatasi dalam berekspresi.
  • Adanya gangguan kepribadian tertentu.
  • Efek samping penggunaan obat-obatan, zat stimulan seperti kafein, atau penyalahgunaan narkoba.
  • Penyakit medis tertentu, seperti gangguan irama jantung dan kelainan pada kelenjar tiroid.
Zulvia menambahkan bahwa wanita lebih banyak mengalami gangguan kecemasan dibanding pria. Hormon diyakini menjadi penyebab utama kondisi ini. Selain itu, faktor sosial seperti kesenjangan gender pada beberapa budaya membuat wanita lebih sulit mengakses bantuan medis, sehingga kecemasannya bisa menjadi lebih berat.

Gangguan kecemasan dapat berlangsung dalam jangka waktu yang bervariasi, mulai dari beberapa minggu hingga bertahun-tahun tergantung pada penyebab dan efektivitas penanganannya. Dengan pengobatan yang tepat, baik melalui psikoterapi maupun terapi medis, pasien dapat berangsur pulih. Konsistensi dalam menjalani perawatan merupakan kunci pemulihan jangka panjang.

Hal yang bisa dilakukan, misalnya mendorong orang terdekat yang mengalami gejala anxiety disorder untuk memeriksakan diri ke dokter agar mendapatkan pertolongan dari ahli sedini mungkin. Diharapkan penderita gangguan kecemasan dapat terbebas dari perasaan cemas yang mungkin sudah menghantui, bahkan menyebabkan gangguan, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun pekerjaan.

"Jangan takut untuk berkonsultasi dan dianggap sebagai pribadi yang lemah, karena penanganan yang tepat justru akan membantu Anda maupun orang terdekat dalam mengatasi anxiety disorder," ujar Zulvia. 

Baca juga: Cara Efektif Mengatasi Anxiety Tanpa Obat, Relaksasi sampai Meditasi 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor:

SEBELUMNYA

Ribuan Anak Keracunan Akibat Program Makan Bergizi, Ahli Gizi Minta Evaluasi Total

BERIKUTNYA

Bitsnbobs Kreasikan Budaya Lokal Jadi Suvenir Jenaka dan Bernilai

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga