Psikolog Jelaskan Proses dan Waktu Ideal Anak Mulai Belajar Membaca
14 October 2025 |
19:19 WIB
Keinginan orang tua agar anak cepat bisa membaca sering kali berlawanan dengan kesiapan anak itu sendiri. Proses belajar membaca sebaiknya menyesuaikan perkembangan kognitif, emosional, dan rasa ingin tahu tiap anak yang umumnya akan dilalui dengan tahapan-tahapan yang berbeda.
Psikolog Anak dan Keluarga dari Universitas Indonesia Rose Mini menjelaskan bahwa tidak ada usia pasti kapan anak harus mulai belajar membaca, karena setiap anak memiliki perkembangan yang berbeda. Selain itu, Rose menyebut proses belajar membaca biasanya memang berlangsung secara bertahap dan alami. Dengan demikian, ini sangat bergantung pada kesiapan anak serta stimulasi yang diberikan sejak dini.
Tahapan pertama biasanya mulai terjadi pada usia 0–5 tahun. Pada tahap ini, anak berada dalam masa pengenalan huruf dan simbol bahasa. Pada fase ini, orang tua sebaiknya mengenalkan huruf melalui kegiatan yang menyenangkan, seperti bermain tebak huruf, membaca buku bersama, atau menunjukkan bentuk-bentuk huruf dalam aktivitas sehari-hari.
"Kegiatan ini penting karena disadari atau tidak, fungsinya tidak hanya untuk membantu mengenalkan huruf, tetapi juga menumbuhkan motivasi anak untuk ingin bisa membaca sendiri," ungkap Rose.
Baca juga: Saat BookTok Bangkitkan Tren Membaca, Jangan Sampai Salah Pilih Buku
Tahapan kedua biasanya akan dimulai saat usia 5–7 tahun. Di usia ini, anak biasanya mulai masuk ke tahap membaca awal, karena kemampuan decoding dan phonics mulai terbentuk. Anak belajar menggabungkan huruf menjadi suku kata dan kata, serta mulai memahami hubungan antara bunyi dan bentuk huruf.
Proses ini dapat dilakukan di sekolah maupun di rumah. Akan tetapi, yang pasti, prosesnya akan berjalan lebih efektif bila dikemas dalam bentuk permainan yang menarik, bukan dalam tekanan.
Kemudian, pada usia 7–9 tahun, anak umumnya telah memasuki tahap ketiga, yaitu beralih dari belajar membaca menjadi membaca untuk belajar. Artinya, anak sudah cukup lancar membaca sehingga bisa memperoleh pengetahuan baru melalui teks. Pada tahap ini, kemampuan membaca bukan lagi tujuan akhir, melainkan sarana untuk memperluas wawasan dan menumbuhkan minat belajar yang lebih tinggi.
Rose Mini mengingatkan bahwa gaya belajar anak dalam membaca bisa berbeda-beda. Ada anak yang lebih mudah memahami kata secara utuh karena sudah sering melihat atau mendengar kata tersebut dalam konteks keseharian.
Namun, ada pula anak yang perlu melalui tahapan lebih sistematis, dimulai dari pengenalan huruf hidup dan mati, membentuk suku kata, lalu menyusunnya menjadi kata. "Keduanya sah dan bisa dikombinasikan, tergantung pada kenyamanan dan kecenderungan anak," imbuhnya.
Alih-alih mempeributkan cara, Rose meminta orang tua untuk lebih berfokus pada cara membangun motivasi membaca anak. Menurutnya, kebiasaan sederhana seperti rutin membacakan buku cerita dapat menumbuhkan minat dan rasa ingin tahu.
Anak yang sering dibacakan cerita akan lebih cepat mengenal huruf, memahami alur cerita, dan mengaitkan antara kata dengan benda atau peristiwa di sekitarnya. Selain itu, hal yang penting lainnya ialah menciptakan proses belajar membaca tidak dengan paksaan. Sebaliknya, kegiatan ini harus dibuat menyenangkan agar anak menikmati prosesnya.
Orang tua dapat menggunakan benda-benda di sekitar sebagai media belajar, misalnya dengan menempelkan huruf di dinding atau mengajak anak menebak kata dari huruf-huruf yang ditemuinya. Dengan cara itu, anak belajar mengenal kata sekaligus memahami maknanya dalam konteks nyata.
"Kegembiraan adalah kunci keberhasilan dalam belajar membaca. Anak yang merasa senang dan didukung akan lebih cepat berkembang, sementara tekanan hanya akan menimbulkan rasa enggan dan cemas," jelasnya.
Sementara itu, Psikolog dari Kasandra & Associates, A. Kasandra Putranto mengatakan hal senada. Dia menyebut usia kesiapan anak dalam belajar membaca bisa sangat bervariasi. Ada yang sudah menunjukkan kesiapan di usia 3–4 tahun, tetapi ada pula yang baru siap ketika menginjak usia 6 tahun atau 7 tahun.
Oleh karena itu, penting memahami tahapan belajar membaca anak. Sebab, jika memaksakan anak untuk membaca sebelum waktunya, ini akan berisiko menimbulkan tekanan emosional yang cukup besar.
"Anak bisa merasa cemas, stres, bahkan frustrasi karena tidak mampu mengikuti tuntutan yang belum sesuai dengan tahap perkembangannya. Kondisi ini bukan hanya menurunkan kepercayaan dirinya, tetapi juga bisa membuat anak menghindar dari aktivitas membaca karena dianggap sebagai hal yang menakutkan atau menyulitkan," ungkapnya.
Jika proses membaca yang semestinya menyenangkan berubah menjadi pengalaman yang penuh tekanan, anak bisa kehilangan minat belajar sejak dini. Kasandra menyebut saat mereka mulai mengasosiasikan membaca dengan hal negatif, seperti dimarahi atau dipaksa, maka dorongan alami untuk mengeksplorasi buku dan huruf pun bisa menghilang.
Dalam jangka panjang, ini bisa memengaruhi motivasi mereka dalam belajar dan mengembangkan kemampuan literasi secara keseluruhan. “Penting untuk mengenali bahwa kesiapan membaca bukan perlombaan, tapi proses alami yang harus didukung, bukan dipaksakan,” ujar Kasandra.
Baca juga: 3 Kisah Inspiratif Kreator yang Menyulut Semangat Membaca di Era Digital
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Psikolog Anak dan Keluarga dari Universitas Indonesia Rose Mini menjelaskan bahwa tidak ada usia pasti kapan anak harus mulai belajar membaca, karena setiap anak memiliki perkembangan yang berbeda. Selain itu, Rose menyebut proses belajar membaca biasanya memang berlangsung secara bertahap dan alami. Dengan demikian, ini sangat bergantung pada kesiapan anak serta stimulasi yang diberikan sejak dini.
Tahapan pertama biasanya mulai terjadi pada usia 0–5 tahun. Pada tahap ini, anak berada dalam masa pengenalan huruf dan simbol bahasa. Pada fase ini, orang tua sebaiknya mengenalkan huruf melalui kegiatan yang menyenangkan, seperti bermain tebak huruf, membaca buku bersama, atau menunjukkan bentuk-bentuk huruf dalam aktivitas sehari-hari.
"Kegiatan ini penting karena disadari atau tidak, fungsinya tidak hanya untuk membantu mengenalkan huruf, tetapi juga menumbuhkan motivasi anak untuk ingin bisa membaca sendiri," ungkap Rose.
Baca juga: Saat BookTok Bangkitkan Tren Membaca, Jangan Sampai Salah Pilih Buku
Tahapan kedua biasanya akan dimulai saat usia 5–7 tahun. Di usia ini, anak biasanya mulai masuk ke tahap membaca awal, karena kemampuan decoding dan phonics mulai terbentuk. Anak belajar menggabungkan huruf menjadi suku kata dan kata, serta mulai memahami hubungan antara bunyi dan bentuk huruf.
Proses ini dapat dilakukan di sekolah maupun di rumah. Akan tetapi, yang pasti, prosesnya akan berjalan lebih efektif bila dikemas dalam bentuk permainan yang menarik, bukan dalam tekanan.
Kemudian, pada usia 7–9 tahun, anak umumnya telah memasuki tahap ketiga, yaitu beralih dari belajar membaca menjadi membaca untuk belajar. Artinya, anak sudah cukup lancar membaca sehingga bisa memperoleh pengetahuan baru melalui teks. Pada tahap ini, kemampuan membaca bukan lagi tujuan akhir, melainkan sarana untuk memperluas wawasan dan menumbuhkan minat belajar yang lebih tinggi.
Rose Mini mengingatkan bahwa gaya belajar anak dalam membaca bisa berbeda-beda. Ada anak yang lebih mudah memahami kata secara utuh karena sudah sering melihat atau mendengar kata tersebut dalam konteks keseharian.
Namun, ada pula anak yang perlu melalui tahapan lebih sistematis, dimulai dari pengenalan huruf hidup dan mati, membentuk suku kata, lalu menyusunnya menjadi kata. "Keduanya sah dan bisa dikombinasikan, tergantung pada kenyamanan dan kecenderungan anak," imbuhnya.
Alih-alih mempeributkan cara, Rose meminta orang tua untuk lebih berfokus pada cara membangun motivasi membaca anak. Menurutnya, kebiasaan sederhana seperti rutin membacakan buku cerita dapat menumbuhkan minat dan rasa ingin tahu.
Anak yang sering dibacakan cerita akan lebih cepat mengenal huruf, memahami alur cerita, dan mengaitkan antara kata dengan benda atau peristiwa di sekitarnya. Selain itu, hal yang penting lainnya ialah menciptakan proses belajar membaca tidak dengan paksaan. Sebaliknya, kegiatan ini harus dibuat menyenangkan agar anak menikmati prosesnya.

Ilustrasi membaca anak (Sumber gambar: Unsplash/Picsea)
"Kegembiraan adalah kunci keberhasilan dalam belajar membaca. Anak yang merasa senang dan didukung akan lebih cepat berkembang, sementara tekanan hanya akan menimbulkan rasa enggan dan cemas," jelasnya.
Sementara itu, Psikolog dari Kasandra & Associates, A. Kasandra Putranto mengatakan hal senada. Dia menyebut usia kesiapan anak dalam belajar membaca bisa sangat bervariasi. Ada yang sudah menunjukkan kesiapan di usia 3–4 tahun, tetapi ada pula yang baru siap ketika menginjak usia 6 tahun atau 7 tahun.
Oleh karena itu, penting memahami tahapan belajar membaca anak. Sebab, jika memaksakan anak untuk membaca sebelum waktunya, ini akan berisiko menimbulkan tekanan emosional yang cukup besar.
"Anak bisa merasa cemas, stres, bahkan frustrasi karena tidak mampu mengikuti tuntutan yang belum sesuai dengan tahap perkembangannya. Kondisi ini bukan hanya menurunkan kepercayaan dirinya, tetapi juga bisa membuat anak menghindar dari aktivitas membaca karena dianggap sebagai hal yang menakutkan atau menyulitkan," ungkapnya.
Jika proses membaca yang semestinya menyenangkan berubah menjadi pengalaman yang penuh tekanan, anak bisa kehilangan minat belajar sejak dini. Kasandra menyebut saat mereka mulai mengasosiasikan membaca dengan hal negatif, seperti dimarahi atau dipaksa, maka dorongan alami untuk mengeksplorasi buku dan huruf pun bisa menghilang.
Dalam jangka panjang, ini bisa memengaruhi motivasi mereka dalam belajar dan mengembangkan kemampuan literasi secara keseluruhan. “Penting untuk mengenali bahwa kesiapan membaca bukan perlombaan, tapi proses alami yang harus didukung, bukan dipaksakan,” ujar Kasandra.
Baca juga: 3 Kisah Inspiratif Kreator yang Menyulut Semangat Membaca di Era Digital
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.