World Iron Awareness Week 2025: Pentingnya Asupan Zat Besi Lewat Daging Merah
14 October 2025 |
07:42 WIB
Asupan zat besi sangat penting dalam meningkatkan kesehatan tubuh. Dalam rangka World Iron Awareness Week (WIAW) yang diperingati pada 13-19 Oktober 2025, masyarakat Indonesia diajak untuk lebih peduli terhadap pentingnya mengonsumsi makanan tinggi zat besi, terutama daging merah.
Menurut data World Health Organization (WHO) pada 2023, lebih dari sepertiga perempuan dan anak-anak di dunia masih mengalami anemia. Di Indonesia, kondisi ini juga cukup umum, terutama pada perempuan dan anak-anak di bawah usia 15 tahun. Sebagian besar kasus disebabkan oleh rendahnya asupan zat besi dalam pola makan harian.
Baca juga: Kekurangan Zat Besi Bisa Ganggu Pertumbuhan Anak Loh Moms
Kekurangan zat besi tidak hanya menimbulkan kelelahan, kulit pucat, dan gangguan konsentrasi (brain fog), tetapi juga berpotensi menimbulkan komplikasi kehamilan serta menurunkan produktivitas. Anemia akibat kekurangan zat besi bukan sekadar masalah kesehatan, melainkan juga menjadi tantangan besar bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Sport Nutritionist Emilia Achmadi memaparkan bahwa banyak orang keliru mengira tubuh mereka kekurangan vitamin saat sering merasa lelah atau tidak fokus. Padahal penyebab utamanya bisa jadi kadar zat besi yang rendah.
“Kalau sering merasa cepat capek, susah fokus, kepala terasa berat, napas pendek, hingga kulit kusam dan bibir pecah-pecah, itu tanda-tanda kurang zat besi,” tutur Emilia dalam acara kick-off World Iron Awareness Week, di Silk Thai Restaurant, Jakarta, Senin (13/10/2025).
Zat besi berperan penting dalam dalam membantu darah membawa oksigen ke seluruh tubuh lewat hemoglobin dan mioglobin. Mineral ini juga berfungsi mendukung sistem imun dan pertumbuhan tubuh.
Kebutuhan zat besi akan meningkat pada masa remaja, kehamilan, dan menyusui karena fase tersebut memerlukan lebih banyak energi dan perkembangan sel yang optimal.
Menariknya, zat besi dari sumber hewani (heme iron) seperti daging merah dapat diserap tubuh dua hingga tiga kali lebih baik dibandingkan zat besi dari tumbuhan (non-heme iron), sehingga daging merah menjadi sumber nutrisi penting untuk menjaga kadar zat besi tetap seimbang.
Meski begitu, ada kekhawatiran saat kita mengonsumsi daging merah karena kerap dikaitkan dengan penyakit jantung. Banyak orang juga beranggapan zat besi dari tumbuhan saja sudah cukup. Padahal faktanya, mengonsumsi daging merah dalam jumlah yang tepat justru merupakan bagian dari pola makan sehat dan seimbang.
Ada banyak nutrisi yang terkandung dalam daging merah. Mulai dari protein berkualitas tinggi, zat besi, zinc, dan vitamin B kompleks yang berperan penting dalam mendukung energi dan kesehatan secara menyeluruh.
"Mitos yang menyebut daging merah berbahaya bagi jantung kini sudah tak lagi relevan. Penyakit jantung lebih banyak disebabkan oleh pola makan tinggi gula dan minuman manis," kata Emilia.
Menurutnya, kita tidak perlu takut untuk makan daging merah selama porsinya sesuai dan kualitas dagingnya baik. Porsi yang disarankan sekitar 130-gram daging merah matang bisa dikonsumsi setiap dua hari sekali, dengan variasi menu seperti steak, tumis, olahan lambat (slow-cooked), atau cincang.
“Kita [manusia] ini omnivora, pemakan segala. Jadi jangan ekstrem, tidak perlu jadi 100 persen vegan, tapi juga tidak perlu makan daging setiap hari. Kuncinya ada pada keseimbangan,” ujarnya.
Pola makan ini dapat membantu memenuhi kebutuhan zat besi tanpa berlebihan, sekaligus menyesuaikan dengan gaya hidup masyarakat modern yang aktif dan dinamis.
Di sisi lain, Meat & Livestock Australia (MLA) menekankan bahwa daging merah Australia merupakan pilihan nutrisi yang aman, bersih, dan berkualitas tinggi. Daging ini dihasilkan dari peternakan dengan sistem grass-fed, bebas hormon tambahan, memperhatikan kesejahteraan hewan, serta menerapkan praktik pertanian berkelanjutan.
Proses produksi dan distribusinya juga mengikuti standar ketertelusuran yang ketat, memastikan keamanan dan kualitas hingga sampai ke tangan konsumen. Karena itu, bila memilih daging merah, pastikan untuk memilih yang terjamin mutu dan asal-usulnya.
"Daging merah Australia hadir sebagai solusi nutrisi yang tidak hanya bergizi tinggi, tetapi juga mendukung kesehatan dan ketahanan energi keluarga Indonesia," ujar Christian Haryanto, Chief Representative MLA Indonesia.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Menurut data World Health Organization (WHO) pada 2023, lebih dari sepertiga perempuan dan anak-anak di dunia masih mengalami anemia. Di Indonesia, kondisi ini juga cukup umum, terutama pada perempuan dan anak-anak di bawah usia 15 tahun. Sebagian besar kasus disebabkan oleh rendahnya asupan zat besi dalam pola makan harian.
Baca juga: Kekurangan Zat Besi Bisa Ganggu Pertumbuhan Anak Loh Moms
Kekurangan zat besi tidak hanya menimbulkan kelelahan, kulit pucat, dan gangguan konsentrasi (brain fog), tetapi juga berpotensi menimbulkan komplikasi kehamilan serta menurunkan produktivitas. Anemia akibat kekurangan zat besi bukan sekadar masalah kesehatan, melainkan juga menjadi tantangan besar bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Sport Nutritionist Emilia Achmadi memaparkan bahwa banyak orang keliru mengira tubuh mereka kekurangan vitamin saat sering merasa lelah atau tidak fokus. Padahal penyebab utamanya bisa jadi kadar zat besi yang rendah.
“Kalau sering merasa cepat capek, susah fokus, kepala terasa berat, napas pendek, hingga kulit kusam dan bibir pecah-pecah, itu tanda-tanda kurang zat besi,” tutur Emilia dalam acara kick-off World Iron Awareness Week, di Silk Thai Restaurant, Jakarta, Senin (13/10/2025).
Zat besi berperan penting dalam dalam membantu darah membawa oksigen ke seluruh tubuh lewat hemoglobin dan mioglobin. Mineral ini juga berfungsi mendukung sistem imun dan pertumbuhan tubuh.
Kebutuhan zat besi akan meningkat pada masa remaja, kehamilan, dan menyusui karena fase tersebut memerlukan lebih banyak energi dan perkembangan sel yang optimal.
Menariknya, zat besi dari sumber hewani (heme iron) seperti daging merah dapat diserap tubuh dua hingga tiga kali lebih baik dibandingkan zat besi dari tumbuhan (non-heme iron), sehingga daging merah menjadi sumber nutrisi penting untuk menjaga kadar zat besi tetap seimbang.
Meski begitu, ada kekhawatiran saat kita mengonsumsi daging merah karena kerap dikaitkan dengan penyakit jantung. Banyak orang juga beranggapan zat besi dari tumbuhan saja sudah cukup. Padahal faktanya, mengonsumsi daging merah dalam jumlah yang tepat justru merupakan bagian dari pola makan sehat dan seimbang.
Ada banyak nutrisi yang terkandung dalam daging merah. Mulai dari protein berkualitas tinggi, zat besi, zinc, dan vitamin B kompleks yang berperan penting dalam mendukung energi dan kesehatan secara menyeluruh.
"Mitos yang menyebut daging merah berbahaya bagi jantung kini sudah tak lagi relevan. Penyakit jantung lebih banyak disebabkan oleh pola makan tinggi gula dan minuman manis," kata Emilia.
Menurutnya, kita tidak perlu takut untuk makan daging merah selama porsinya sesuai dan kualitas dagingnya baik. Porsi yang disarankan sekitar 130-gram daging merah matang bisa dikonsumsi setiap dua hari sekali, dengan variasi menu seperti steak, tumis, olahan lambat (slow-cooked), atau cincang.
“Kita [manusia] ini omnivora, pemakan segala. Jadi jangan ekstrem, tidak perlu jadi 100 persen vegan, tapi juga tidak perlu makan daging setiap hari. Kuncinya ada pada keseimbangan,” ujarnya.
Pola makan ini dapat membantu memenuhi kebutuhan zat besi tanpa berlebihan, sekaligus menyesuaikan dengan gaya hidup masyarakat modern yang aktif dan dinamis.
Di sisi lain, Meat & Livestock Australia (MLA) menekankan bahwa daging merah Australia merupakan pilihan nutrisi yang aman, bersih, dan berkualitas tinggi. Daging ini dihasilkan dari peternakan dengan sistem grass-fed, bebas hormon tambahan, memperhatikan kesejahteraan hewan, serta menerapkan praktik pertanian berkelanjutan.
Proses produksi dan distribusinya juga mengikuti standar ketertelusuran yang ketat, memastikan keamanan dan kualitas hingga sampai ke tangan konsumen. Karena itu, bila memilih daging merah, pastikan untuk memilih yang terjamin mutu dan asal-usulnya.
"Daging merah Australia hadir sebagai solusi nutrisi yang tidak hanya bergizi tinggi, tetapi juga mendukung kesehatan dan ketahanan energi keluarga Indonesia," ujar Christian Haryanto, Chief Representative MLA Indonesia.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.