Ilustrasi perempuan yang menderita anemia. (Sumber gambar: Freepik)

Anemia Masih Jadi Masalah Kesehatan Perempuan Indonesia, Begini Cara Mengatasinya

13 October 2025   |   17:11 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Anemia masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang sering dialami perempuan Indonesia. Jika tidak dicegah dan ditangani sejak dini, kondisi ini dapat menimbulkan komplikasi serius seperti gangguan jantung, keterlambatan tumbuh kembang, hingga risiko kelahiran prematur.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan angka yang cukup mengkhawatirkan, sekitar 32 persen perempuan usia 15—24 tahun, atau setara dengan 3 hingga 4 dari 10 remaja, mengalami anemia. Bahkan, 1 dari 2 ibu hamil di Indonesia, yakni sekitar 48,9 persen, juga mengalami kelainan hematologi ini.

Baca juga: Kenali Faktor Penyebab Anemia yang Berdampak pada Tumbuh Kembang Anak

Praktisi kesehatan dr. Rovy Pratama, menjelaskan anemia adalah kondisi tubuh yang ditandai dengan hasil pemeriksaan kadar hemoglobin (Hb) dalam darah lebih rendah dibandingkan kadar normal. Gejala anemia di antaranya yaitu lelah, letih, dan lesu setelah beraktivitas atau berolahraga.

Pada ibu hamil, anemia dapat menimbulkan risiko komplikasi pendarahan dan menghambat pertumbuhan janin. "Pada remaja putri, serta perempuan usia produktif, [anemia] bisa mengakibatkan penurunan daya tahan tubuh, mudah lelah, dan menurunkan konsentrasi karena kurangnya asupan oksigen ke otak,” tuturnya, dikutip Hypeabis.id, Senin (13/10/2025).

Pada jangka panjang, anemia katanya bisa memengaruhi kualitas sumber daya manusia untuk generasi masa depan Indonesia. Misal, turunnya produktivitas dan prestasi belajar sampai risiko bayi lahir prematur, stunting, dan mengalami gangguan neurokognitif karena ibu hamil mengalami anemia.

Oleh karena itu, pencegahan anemia penting dilakukan sejak dini. Rovy menyarankan agar perempuan Indonesia yang masih dalam usia produktif agar mengonsumsi makanan dengan kandungan zat besi tinggi, hidup bersih, beraktivitas fisik dan olahraga, memantau berat badan secara teratur untuk mempertahankan berat badan normal, serta mengonsumsi suplemen zat besi untuk mendukung pemenuhan kecukupan gizi.

“Perempuan adalah kelompok yang berisiko mengalami anemia, karena mengalami menstruasi tiap bulan dan ibu hamil yang menopang pertumbuhan janin serta risiko pendarahan saat persalinan, sehingga disarankan untuk mengonsumsi suplemen zat besi teratur," ujar Rovy.

Tingginya kasus anemia, juga tidak lepas dari rendahnya konsumsi tablet tambah darah sejak usia remaja. Kementerian Kesehatan mencatat, dari 12,1 juta remaja, terdapat lebih dari 8,3 juta remaja tidak rutin mengonsumsi tablet tambah darah. Padahal, usia remaja merupakan masa krusial untuk pencegahan anemia kronis ketika dewasa dan kehamilan. 


Peluncuran Sakatonik Activ Gummy di bilangan Jakarta. (Sumber gambar: Kalbe)

Peluncuran Sakatonik Activ Gummy di Jakarta. (Sumber gambar: Kalbe)

Salah satu faktor rendahnya kepatuhan konsumsi rutin suplemen zat besi adalah rasa besi yang tidak enak dan “tertinggal” di mulut (aftertaste) setelah mengonsumsi sebagian besar suplemen zat besi konvensional.

Berdasarkan data tersebut, PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) melalui anak usahanya, PT Saka Farma Laboratories (Kalbe Consumer Health) dengan brand Sakatonik Activ, meluncurkan inovasi suplemen zat besi pertama di Indonesia dalam bentuk gummy yaitu Sakatonik Activ Gummy.

"Sakatonik Activ Gummy tinggi zat besi, asam folat, serta vitamin B12 dengan mixed berry juice yang enak,” jelas Head of Vitamin Category Kalbe Consumer Health, Adelia Theresia.

Kalbe melalui Home Tester Club juga telah mengadakan survei kepada 4.364 perempuan usia produktif di Jabodetabek dan kota besar lainnya pada September 2025. Berdasarkan hasil survei tersebut, sebanyak 243 perempuan merasa tubuh mereka lebih bertenaga, tidak mudah lelah setelah mengonsumsi Sakatonik Activ Gummy. 

Sebanyak 224 perempuan mengatakan tidak ada rasa atau bau besi seperti suplemen konvensional. Kemudian, 189 perempuan mengatakan Sakatonik Activ Gummy tidak menimbulkan mual atau enek. “Inovasi ini kami hadirkan sebagai solusi mengatasi anemia dengan cara yang enak tanpa bau besi," tambah Adelia.

Agar mudah dikonsumsi, Sakatonik Activ Gummy tersedia dalam kemasan yang praktis dengan rekomendasi satu hari mengonsumsi dua gummy. Demi memastikan perempuan Indonesia bisa mendapatkan suplemen ini dengan mudah, brand Sakatonik Activ berkolaborasi dengan Watsons.

Brand Ambassador Sakatonik Activ Gummy, Davina Karamoy mengaku senang hadirnya inovasi tablet tambah darah berbentuk gummy. Sebagai penderita anemia, dia menjadi mudah lelah dan lesu, terutama jika sedang menstruasi.

Oleh karenanya, Davina rutin mengonsumsi tablet tambah darah. Akan tetapi, selama ini, dia merasa tidak nyaman karena ada aroma tidak sedap seperti bau besi. "Sekarang, saya sudah menemukan produk yang tepat yaitu Sakatonik Activ Gummy yang enak, praktis, tidak ada aroma atau rasa besinya, serta bentuknya juga lucu,” tutur Davina.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

SEBELUMNYA

Tribute to Junk Food, Ironi di Balik Makanan Cepat Saji

BERIKUTNYA

Konser Alur Bunyi Hadirkan Ether Recurrence, Eksperimen Suara tentang Siklus & Kemanusiaan

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga