Gaya Hidup Sedentari Kian Meluas, Aktivitas Fisik Masyarakat Turun Jadi 62%
11 October 2025 |
14:00 WIB
Gaya hidup sedentari atau minim gerak kini menjadi masalah kesehatan yang kian mengkhawatirkan di Indonesia. Di tengah kemajuan teknologi dan meningkatnya aktivitas digital, makin banyak orang dewasa yang menghabiskan waktu dengan duduk di depan layar, bekerja, atau bersantai tanpa aktivitas fisik yang cukup. Padahal, kurang aktivitas fisik merupakan salah satu faktor risiko utama berbagai penyakit tidak menular seperti obesitas, diabetes, hipertensi, hingga penyakit jantung.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan mencatat, lebih dari 23% orang dewasa di dunia masih belum memenuhi rekomendasi aktivitas fisik yang ideal. Gaya hidup tidak aktif ini berkontribusi besar terhadap peningkatan angka kematian global setiap tahun. Data nasional pun menunjukkan penurunan signifikan dalam satu dekade terakhir. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) dan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, proporsi penduduk dengan aktivitas fisik memadai turun dari 73,9% pada 2012 menjadi hanya 62,6% pada 2023. Sebaliknya, jumlah masyarakat yang tergolong kurang bergerak justru meningkat dari 26,1% menjadi 37,4% pada periode yang sama. Artinya, satu dari tiga orang Indonesia kini hidup dengan aktivitas fisik yang sangat minim.
Baca Juga: Obesitas Itu Penyakit Kronis, Bukan Cuma Soal Badan Gemuk
Direktur Promosi Kesehatan dan Kesehatan Komunitas Kementerian Kesehatan RI Elvieda Sariwati, menilai tren ini sebagai masalah serius yang harus segera diatasi. “Hasil Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan adanya peningkatan kelompok masyarakat yang kurang melakukan aktivitas fisik,” katanya.
Menurutnya, kemajuan teknologi dan digitalisasi membuat masyarakat makin banyak duduk dan jarang bergerak. “Harapan hidup masyarakat Indonesia memang meningkat hingga rata-rata 73 tahun, tetapi kasus penyakit tidak menular juga ikut naik, menciptakan beban ganda penyakit,” tambahnya.
Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga dari Indonesia Sports Medicine Centre (ISMC) Rika Haryono, menyebut perilaku sedentari sebagai ancaman yang tidak bisa dianggap remeh. “Kurang aktivitas fisik merupakan salah satu faktor risiko utama kematian secara global,” ujarnya.
Rika menjelaskan, duduk terlalu lama dan tingginya waktu screen time dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, seperti penyakit jantung iskemik, stroke, gangguan muskuloskeletal, hingga diabetes melitus. Tak hanya itu, perilaku sedentari juga berdampak pada kesehatan mental, meningkatkan risiko kecemasan dan depresi.
Data menunjukkan, prevalensi obesitas di Indonesia meningkat dari 15,4% pada 2013 menjadi 23,4% pada 2023, seiring dengan meningkatnya perilaku kurang gerak. “Perilaku sedenter akan meningkatkan derajat berat untuk kecemasan dan gejala depresi,” tegas Rika.
Sebagai solusi, Rika mendorong masyarakat untuk memulai aktivitas fisik ringan secara rutin. WHO merekomendasikan aktivitas dengan intensitas sedang seperti berjalan cepat minimal 150 menit per minggu, atau latihan berat 75 menit per minggu.
Selain itu, latihan kekuatan otot minimal 3 kali seminggu juga penting untuk menjaga keseimbangan dan daya tahan tubuh. “Aktivitas fisik tidak harus selalu dilakukan di pusat kebugaran. Kegiatan sehari-hari seperti menyapu, berkebun, berjalan kaki, bersepeda, atau naik turun tangga juga sudah termasuk aktivitas fisik,” katanya.
Rika mengingatkan agar peningkatan intensitas dilakukan secara bertahap dengan pemanasan dan pendinginan yang cukup. Prinsip baik, benar, teratur, dan terukur tetap menjadi panduan penting agar olahraga aman dan efektif. Sebab, kebiasaan bergerak secara konsisten terbukti meningkatkan kualitas hidup, menjaga fungsi tubuh, serta memperpanjang harapan hidup. Di tengah dunia yang makin digital dan serba duduk, Rika menyebut bergerak setiap hari adalah langkah kecil yang bisa menyelamatkan masa depan kesehatan masyarakat Indonesia.
Baca Juga: 5 Temuan Program PKG: Obesitas Sentral hingga Penyakit Gula Membayangi Masyarakat
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan mencatat, lebih dari 23% orang dewasa di dunia masih belum memenuhi rekomendasi aktivitas fisik yang ideal. Gaya hidup tidak aktif ini berkontribusi besar terhadap peningkatan angka kematian global setiap tahun. Data nasional pun menunjukkan penurunan signifikan dalam satu dekade terakhir. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) dan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, proporsi penduduk dengan aktivitas fisik memadai turun dari 73,9% pada 2012 menjadi hanya 62,6% pada 2023. Sebaliknya, jumlah masyarakat yang tergolong kurang bergerak justru meningkat dari 26,1% menjadi 37,4% pada periode yang sama. Artinya, satu dari tiga orang Indonesia kini hidup dengan aktivitas fisik yang sangat minim.
Baca Juga: Obesitas Itu Penyakit Kronis, Bukan Cuma Soal Badan Gemuk
Direktur Promosi Kesehatan dan Kesehatan Komunitas Kementerian Kesehatan RI Elvieda Sariwati, menilai tren ini sebagai masalah serius yang harus segera diatasi. “Hasil Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan adanya peningkatan kelompok masyarakat yang kurang melakukan aktivitas fisik,” katanya.
Menurutnya, kemajuan teknologi dan digitalisasi membuat masyarakat makin banyak duduk dan jarang bergerak. “Harapan hidup masyarakat Indonesia memang meningkat hingga rata-rata 73 tahun, tetapi kasus penyakit tidak menular juga ikut naik, menciptakan beban ganda penyakit,” tambahnya.
Risiko Serius dari Gaya Hidup Minim Gerak

Ilustrasi gaya hidup sedentari (Sumber gambar: Pexels)
Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga dari Indonesia Sports Medicine Centre (ISMC) Rika Haryono, menyebut perilaku sedentari sebagai ancaman yang tidak bisa dianggap remeh. “Kurang aktivitas fisik merupakan salah satu faktor risiko utama kematian secara global,” ujarnya.
Rika menjelaskan, duduk terlalu lama dan tingginya waktu screen time dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, seperti penyakit jantung iskemik, stroke, gangguan muskuloskeletal, hingga diabetes melitus. Tak hanya itu, perilaku sedentari juga berdampak pada kesehatan mental, meningkatkan risiko kecemasan dan depresi.
Data menunjukkan, prevalensi obesitas di Indonesia meningkat dari 15,4% pada 2013 menjadi 23,4% pada 2023, seiring dengan meningkatnya perilaku kurang gerak. “Perilaku sedenter akan meningkatkan derajat berat untuk kecemasan dan gejala depresi,” tegas Rika.
Sebagai solusi, Rika mendorong masyarakat untuk memulai aktivitas fisik ringan secara rutin. WHO merekomendasikan aktivitas dengan intensitas sedang seperti berjalan cepat minimal 150 menit per minggu, atau latihan berat 75 menit per minggu.
Selain itu, latihan kekuatan otot minimal 3 kali seminggu juga penting untuk menjaga keseimbangan dan daya tahan tubuh. “Aktivitas fisik tidak harus selalu dilakukan di pusat kebugaran. Kegiatan sehari-hari seperti menyapu, berkebun, berjalan kaki, bersepeda, atau naik turun tangga juga sudah termasuk aktivitas fisik,” katanya.
Rika mengingatkan agar peningkatan intensitas dilakukan secara bertahap dengan pemanasan dan pendinginan yang cukup. Prinsip baik, benar, teratur, dan terukur tetap menjadi panduan penting agar olahraga aman dan efektif. Sebab, kebiasaan bergerak secara konsisten terbukti meningkatkan kualitas hidup, menjaga fungsi tubuh, serta memperpanjang harapan hidup. Di tengah dunia yang makin digital dan serba duduk, Rika menyebut bergerak setiap hari adalah langkah kecil yang bisa menyelamatkan masa depan kesehatan masyarakat Indonesia.
Baca Juga: 5 Temuan Program PKG: Obesitas Sentral hingga Penyakit Gula Membayangi Masyarakat
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.