Arka Kinari, Kapal Seni yang Berlayar Membawa Pesan untuk Bumi
09 October 2025 |
20:00 WIB
Puluhan penonton berteriak di depan panggung Yes No Club, Pestapora pada Minggu, 7 September 2025 malam. Dalam cahaya temaram, mereka berajojing mengikuti dentuman musik, suara bonang, dan petikan ukulele saat tembang Perahu Layar dibawakan.
Setelah intro, musik berubah lebih eksperimental. Suara Nova Ruth yang menyerupai sinden terdengar mistis, menghipnotis pengunjung. Ketukan alat musik asal Bali: ceng-ceng dari Grey Filastine, memberi nuansa tradisi sekaligus modern di tengah kepulan fog machine.
Baca juga: 4 Bulan Terjebak di Laut, Perjalanan Tak Terduga Koki Italia di Kapal Kayu Avontuur
Malam itu, Nova Ruth dan Grey Filastine tampil bukan dari atas kapal seperti biasa. Mereka harus bergabung di panggung Pestapora karena Arka Kinari, kapal mereka, sedang terkendala teknis. Agenda Voyage Tour 2025 di Pulau Pramuka terpaksa ditunda.
Arka Kinari sejatinya dirancang untuk menjadi panggung terapung. Dari dek kayu kapal, musik, narasi, dan visual biasanya berpadu dengan laut sebagai latar. Namun, sejak lambung kapal bocor di perairan Cilacap, kapal harus menjalani perbaikan dan bersandar.
Kapal layar bermesin itu memiliki sejarah panjang. Dibuat di Rostok pada 1947, kapal seberat 70 ton dengan panjang 18 meter ini semula digunakan sebagai kapal ikan, di Jerman Timur. Pada 2019, Nova dan Grey mengubahnya menjadi sarana pertunjukan dan ruang edukasi lingkungan.
Mereka memulai pelayaran dari Rotterdam pada Agustus 2019. Kapal mengarungi Terusan Suez, melintasi tepian Amerika, hingga menyeberangi Samudera Pasifik. Setelah setahun berlayar, pada 2020 Arka Kinari akhirnya masuk perairan Indonesia, negeri asal Nova.
Sejak itu, kapal ini menelusuri jalur rempah di Nusantara. Dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain, pertunjukan musik digelar sembari menyuarakan isu iklim, budaya maritim, dan kearifan leluhur. Semua dijalani dengan energi terbarukan yang mereka usung sebagai simbol perlawanan pada krisis.
Namun, laut bukanlah ruang yang jinak. Bahaya selalu mengintai, mulai dari badai hingga kerusakan teknis terus menguntit mereka. Meski begitu, pasangan seniman ini tetap bertahan karena mereka melihat perjalanan ini sebagai misi spiritual sekaligus ekologis.
Bagi Nova, proyek ini adalah panggilan leluhur. Dia percaya masyarakat maritim Indonesia pernah hidup dengan harmoni bersama alam. Tradisi berlayar, mengelola laut, dan saling berbagi pengetahuan adalah modal yang kini perlu dipulihkan terutama bagi generasi muda.
“Kalau nanti diesel habis, manusia harus tahu caranya berlayar. Kalau tidak, kita kehilangan koneksi dengan dunia,” katanya. Baginya, Arka Kinari adalah cara belajar sebelum bencana iklim benar-benar terjadi.
Kritik Sosial
Dalam bermusik, Nova dan Grey meramu bunyi tradisi dan elektronik. Dari ukulele hingga perkusi Bali, dari synthesizer hingga suara lingkungan, semua berpadu dalam kolase. Hasilnya adalah komposisi yang menggugah sekaligus penuh kritik sosial.
Album mereka, Drapetomania (2017), misalnya, berbicara tentang dunia tanpa sekat dan batas teritorial. Saat lagu Colony Collapse dibawakan di Pestapora, layar panggung menampilkan kilang minyak, laut yang terbakar, dan dunia yang kian panas. Visual itu menegaskan pesan yang mereka bawa.
Sejauh ini, Arka Kinari sudah menjelajah lebih dari 25 negara. Di tiap tempat singgah, mereka tak hanya tampil, tetapi juga berinteraksi dengan komunitas lokal. Diskusi, lokakarya, dan berbagi pengalaman menjadi bagian penting dari perjalanan yang mereka lalukan.
Kru Arka Kinari yang berjumlah enam orang juga merangkap peran lain. Selain urusan teknis, mereka menjadi pelaut, fasilitator, sekaligus mentor. Di desa-desa pesisir, mereka sering berdialog dengan warga soal air bersih, energi terbarukan, dan cara menghadapi perubahan iklim.
Kendati begitu, tak semua misi berjalan mulus. Saat manggung dari atas kapal, publik lebih sering terpesona melihat kapal menjadi panggung daripada menangkap pesan lingkungan. Dari sinilah mereka mengembangkan konsep storytelling performance untuk mendekatkan isu pada masyarakat.
“Kami cerita soal susahnya hidup di laut, lalu mereka akhirnya berbagi juga tentang kesulitan lingkungan di tempat mereka,” kata Nova. Pertukaran pengalaman itulah yang membuat proyek ini lebih membumi dan tidak sekadar kampanye.
Selain tampil di atas kapal, karya Nova juga hadir di berbagai album. Dia merilis Mother of Nature (2003), Musique Provocateur 12 (2009), dan Napak Tilas (2019). Bersama Grey, mereka menghasilkan L00T (2012), Aphasia (2014), dan Drapetomania (2017).
Atas kiprahnya, Nova menerima Kindle Project Award for the Makers Muse Artist Award 2012. Pada 2023, dia juga menerima penghargaan CAREC (Cultural & Artistic Responses to the Environmental Crisis) dari Prince Claus Fund, bersama 11 seniman lain yang fokus pada isu iklim.
Arka Kinari dengan segala keterbatasannya tetap berlayar membawa pesan. Dari panggung terapung hingga festival musik, dari kampung pesisir hingga kota besar, mereka terus mengingatkan bahwa laut, bumi, dan manusia harus saling terhubung untuk bertahan di tengah bumi yang terbakar.
Baca juga: Spesifikasi & Harga Kapal Yacht yang Dibeli Prilly Latuconsina
Setelah intro, musik berubah lebih eksperimental. Suara Nova Ruth yang menyerupai sinden terdengar mistis, menghipnotis pengunjung. Ketukan alat musik asal Bali: ceng-ceng dari Grey Filastine, memberi nuansa tradisi sekaligus modern di tengah kepulan fog machine.
Baca juga: 4 Bulan Terjebak di Laut, Perjalanan Tak Terduga Koki Italia di Kapal Kayu Avontuur
Malam itu, Nova Ruth dan Grey Filastine tampil bukan dari atas kapal seperti biasa. Mereka harus bergabung di panggung Pestapora karena Arka Kinari, kapal mereka, sedang terkendala teknis. Agenda Voyage Tour 2025 di Pulau Pramuka terpaksa ditunda.
Arka Kinari sejatinya dirancang untuk menjadi panggung terapung. Dari dek kayu kapal, musik, narasi, dan visual biasanya berpadu dengan laut sebagai latar. Namun, sejak lambung kapal bocor di perairan Cilacap, kapal harus menjalani perbaikan dan bersandar.
Kapal layar bermesin itu memiliki sejarah panjang. Dibuat di Rostok pada 1947, kapal seberat 70 ton dengan panjang 18 meter ini semula digunakan sebagai kapal ikan, di Jerman Timur. Pada 2019, Nova dan Grey mengubahnya menjadi sarana pertunjukan dan ruang edukasi lingkungan.
Mereka memulai pelayaran dari Rotterdam pada Agustus 2019. Kapal mengarungi Terusan Suez, melintasi tepian Amerika, hingga menyeberangi Samudera Pasifik. Setelah setahun berlayar, pada 2020 Arka Kinari akhirnya masuk perairan Indonesia, negeri asal Nova.
Sejak itu, kapal ini menelusuri jalur rempah di Nusantara. Dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain, pertunjukan musik digelar sembari menyuarakan isu iklim, budaya maritim, dan kearifan leluhur. Semua dijalani dengan energi terbarukan yang mereka usung sebagai simbol perlawanan pada krisis.
Namun, laut bukanlah ruang yang jinak. Bahaya selalu mengintai, mulai dari badai hingga kerusakan teknis terus menguntit mereka. Meski begitu, pasangan seniman ini tetap bertahan karena mereka melihat perjalanan ini sebagai misi spiritual sekaligus ekologis.
Bagi Nova, proyek ini adalah panggilan leluhur. Dia percaya masyarakat maritim Indonesia pernah hidup dengan harmoni bersama alam. Tradisi berlayar, mengelola laut, dan saling berbagi pengetahuan adalah modal yang kini perlu dipulihkan terutama bagi generasi muda.
“Kalau nanti diesel habis, manusia harus tahu caranya berlayar. Kalau tidak, kita kehilangan koneksi dengan dunia,” katanya. Baginya, Arka Kinari adalah cara belajar sebelum bencana iklim benar-benar terjadi.
Kritik Sosial
Dalam bermusik, Nova dan Grey meramu bunyi tradisi dan elektronik. Dari ukulele hingga perkusi Bali, dari synthesizer hingga suara lingkungan, semua berpadu dalam kolase. Hasilnya adalah komposisi yang menggugah sekaligus penuh kritik sosial.
Album mereka, Drapetomania (2017), misalnya, berbicara tentang dunia tanpa sekat dan batas teritorial. Saat lagu Colony Collapse dibawakan di Pestapora, layar panggung menampilkan kilang minyak, laut yang terbakar, dan dunia yang kian panas. Visual itu menegaskan pesan yang mereka bawa.
Sejauh ini, Arka Kinari sudah menjelajah lebih dari 25 negara. Di tiap tempat singgah, mereka tak hanya tampil, tetapi juga berinteraksi dengan komunitas lokal. Diskusi, lokakarya, dan berbagi pengalaman menjadi bagian penting dari perjalanan yang mereka lalukan.
Kru Arka Kinari yang berjumlah enam orang juga merangkap peran lain. Selain urusan teknis, mereka menjadi pelaut, fasilitator, sekaligus mentor. Di desa-desa pesisir, mereka sering berdialog dengan warga soal air bersih, energi terbarukan, dan cara menghadapi perubahan iklim.
Kendati begitu, tak semua misi berjalan mulus. Saat manggung dari atas kapal, publik lebih sering terpesona melihat kapal menjadi panggung daripada menangkap pesan lingkungan. Dari sinilah mereka mengembangkan konsep storytelling performance untuk mendekatkan isu pada masyarakat.
“Kami cerita soal susahnya hidup di laut, lalu mereka akhirnya berbagi juga tentang kesulitan lingkungan di tempat mereka,” kata Nova. Pertukaran pengalaman itulah yang membuat proyek ini lebih membumi dan tidak sekadar kampanye.
Selain tampil di atas kapal, karya Nova juga hadir di berbagai album. Dia merilis Mother of Nature (2003), Musique Provocateur 12 (2009), dan Napak Tilas (2019). Bersama Grey, mereka menghasilkan L00T (2012), Aphasia (2014), dan Drapetomania (2017).
Atas kiprahnya, Nova menerima Kindle Project Award for the Makers Muse Artist Award 2012. Pada 2023, dia juga menerima penghargaan CAREC (Cultural & Artistic Responses to the Environmental Crisis) dari Prince Claus Fund, bersama 11 seniman lain yang fokus pada isu iklim.
Arka Kinari dengan segala keterbatasannya tetap berlayar membawa pesan. Dari panggung terapung hingga festival musik, dari kampung pesisir hingga kota besar, mereka terus mengingatkan bahwa laut, bumi, dan manusia harus saling terhubung untuk bertahan di tengah bumi yang terbakar.
Baca juga: Spesifikasi & Harga Kapal Yacht yang Dibeli Prilly Latuconsina
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.