Ternyata 99% Penyakit Jantung Sudah Punya Tanda Sejak Dini
08 October 2025 |
07:57 WIB
Selama ini banyak orang mengira serangan jantung datang secara tiba-tiba, tanpa tanda atau gejala apa pun. Padahal, riset terbaru justru menunjukkan sebaliknya: hampir semua kasus penyakit kardiovaskular, termasuk serangan jantung, stroke, dan gagal jantung, telah diawali oleh satu atau lebih faktor risiko yang bisa dikendalikan.
Dilansir dari Healthline, studi besar yang dilakukan oleh peneliti dari Korea dan Amerika Serikat menemukan bahwa lebih dari 99% orang yang mengalami penyakit jantung memiliki setidaknya satu faktor risiko sebelum sakit, meski kadarnya belum tergolong “berbahaya”. Artinya, penyakit jantung jarang benar-benar datang tanpa peringatan.
Penelitian ini menganalisis data jutaan peserta dari dua studi besar: Korean National Health Insurance Service (KNHIS) dan Multi-Ethnic Study of Atherosclerosis (MESA) di Amerika Serikat. Keduanya memantau tekanan darah, kadar kolesterol, gula darah, dan kebiasaan merokok selama lebih dari satu dekade. Hasilnya konsisten di kedua negara: hampir semua orang yang terkena penyakit jantung punya satu atau lebih nilai kesehatan yang “tidak ideal”.
Baca Juga: Jangan Anggap Sepele, Penyakit Jantung Kini Banyak Menyerang Anak Muda
Para peneliti menyoroti bahwa banyak orang berada dalam kondisi yang disebut “suboptimal”, misalnya tekanan darah sedikit di atas normal, kolesterol agak tinggi, atau kadar gula yang nyaris mencapai batas diabetes. Secara klinis belum disebut sakit, tapi tubuh sudah menandai ada sesuatu yang tidak seimbang. Kondisi inilah yang kerap diabaikan karena tidak terasa gejalanya.
Yang menarik, tekanan darah menjadi faktor paling dominan. Dalam studi tersebut, lebih dari 95% peserta yang terkena penyakit jantung memiliki tekanan darah di atas batas ideal, disusul oleh kolesterol tinggi dan kadar gula yang meningkat. Bahkan, sekitar separuh peserta juga memiliki riwayat merokok, baik aktif maupun mantan perokok. Kombinasi faktor-faktor kecil ini membentuk “bom waktu” yang suatu hari bisa meledak menjadi penyakit serius.
Menurut Healthline, hasil penelitian ini menegaskan pentingnya menjaga nilai-nilai kesehatan jauh di bawah batas risiko, bukan sekadar “tidak sakit”. Dengan kata lain, normal bukan berarti aman. Dokter Yanting Wang dari Robert Wood Johnson University Hospital menjelaskan bahwa perubahan kecil dalam gaya hidup bisa memberi dampak besar bagi jantung, mulai dari olahraga 30 menit sehari, tidur cukup, hingga mengelola stres dengan mindfulness atau napas dalam.
Wang menekankan bahwa banyak orang baru bereaksi setelah melihat angka tekanan darah tinggi di hasil medical check-up, padahal pencegahan terbaik justru dimulai sebelum itu terjadi. “Langkah kecil seperti berjalan kaki rutin, makan seimbang, dan tidur berkualitas bisa melindungi jantung lebih baik daripada menunggu sakit baru berubah,” ujarnya.
Sementara itu, Dr. Bradley Serwer, ahli jantung dari VitalSolution, menambahkan bahwa mengontrol tekanan darah, kolesterol, dan gula darah secara rutin bukan hanya tentang angka, tapi juga tentang komitmen jangka panjang terhadap kesehatan. Dia menegaskan, jika perubahan gaya hidup tidak cukup, kombinasi dengan pengobatan medis bisa membantu menjaga tubuh tetap stabil.
Lebih dari sekadar data medis, penelitian ini membawa pesan penting bahwa penyakit jantung sebenarnya punya “early warning system” yang bisa kita baca sejak dini. Masalahnya, banyak orang menganggap sehat selama belum merasa sakit. Padahal, tanda-tanda kecil seperti mudah lelah, detak jantung tidak stabil, atau berat badan naik tanpa sebab sering kali menjadi sinyal awal yang seharusnya tidak diabaikan.
Baca Juga: Minum Matcha Seminggu Sekali, Wanita di AS Alami Anemia dan Palpitasi Jantung
Dilansir dari Healthline, studi besar yang dilakukan oleh peneliti dari Korea dan Amerika Serikat menemukan bahwa lebih dari 99% orang yang mengalami penyakit jantung memiliki setidaknya satu faktor risiko sebelum sakit, meski kadarnya belum tergolong “berbahaya”. Artinya, penyakit jantung jarang benar-benar datang tanpa peringatan.
Penelitian ini menganalisis data jutaan peserta dari dua studi besar: Korean National Health Insurance Service (KNHIS) dan Multi-Ethnic Study of Atherosclerosis (MESA) di Amerika Serikat. Keduanya memantau tekanan darah, kadar kolesterol, gula darah, dan kebiasaan merokok selama lebih dari satu dekade. Hasilnya konsisten di kedua negara: hampir semua orang yang terkena penyakit jantung punya satu atau lebih nilai kesehatan yang “tidak ideal”.
Baca Juga: Jangan Anggap Sepele, Penyakit Jantung Kini Banyak Menyerang Anak Muda
Para peneliti menyoroti bahwa banyak orang berada dalam kondisi yang disebut “suboptimal”, misalnya tekanan darah sedikit di atas normal, kolesterol agak tinggi, atau kadar gula yang nyaris mencapai batas diabetes. Secara klinis belum disebut sakit, tapi tubuh sudah menandai ada sesuatu yang tidak seimbang. Kondisi inilah yang kerap diabaikan karena tidak terasa gejalanya.
Yang menarik, tekanan darah menjadi faktor paling dominan. Dalam studi tersebut, lebih dari 95% peserta yang terkena penyakit jantung memiliki tekanan darah di atas batas ideal, disusul oleh kolesterol tinggi dan kadar gula yang meningkat. Bahkan, sekitar separuh peserta juga memiliki riwayat merokok, baik aktif maupun mantan perokok. Kombinasi faktor-faktor kecil ini membentuk “bom waktu” yang suatu hari bisa meledak menjadi penyakit serius.
Menurut Healthline, hasil penelitian ini menegaskan pentingnya menjaga nilai-nilai kesehatan jauh di bawah batas risiko, bukan sekadar “tidak sakit”. Dengan kata lain, normal bukan berarti aman. Dokter Yanting Wang dari Robert Wood Johnson University Hospital menjelaskan bahwa perubahan kecil dalam gaya hidup bisa memberi dampak besar bagi jantung, mulai dari olahraga 30 menit sehari, tidur cukup, hingga mengelola stres dengan mindfulness atau napas dalam.
Wang menekankan bahwa banyak orang baru bereaksi setelah melihat angka tekanan darah tinggi di hasil medical check-up, padahal pencegahan terbaik justru dimulai sebelum itu terjadi. “Langkah kecil seperti berjalan kaki rutin, makan seimbang, dan tidur berkualitas bisa melindungi jantung lebih baik daripada menunggu sakit baru berubah,” ujarnya.
Sementara itu, Dr. Bradley Serwer, ahli jantung dari VitalSolution, menambahkan bahwa mengontrol tekanan darah, kolesterol, dan gula darah secara rutin bukan hanya tentang angka, tapi juga tentang komitmen jangka panjang terhadap kesehatan. Dia menegaskan, jika perubahan gaya hidup tidak cukup, kombinasi dengan pengobatan medis bisa membantu menjaga tubuh tetap stabil.
Lebih dari sekadar data medis, penelitian ini membawa pesan penting bahwa penyakit jantung sebenarnya punya “early warning system” yang bisa kita baca sejak dini. Masalahnya, banyak orang menganggap sehat selama belum merasa sakit. Padahal, tanda-tanda kecil seperti mudah lelah, detak jantung tidak stabil, atau berat badan naik tanpa sebab sering kali menjadi sinyal awal yang seharusnya tidak diabaikan.
Baca Juga: Minum Matcha Seminggu Sekali, Wanita di AS Alami Anemia dan Palpitasi Jantung
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.