Katarak Bukan Hanya Penyakit Lansia, Kini Penanganannya Semakin Mudah
06 October 2025 |
19:44 WIB
Katarak masih menjadi salah satu masalah kesehatan mata utama di Indonesia dan termasuk penyebab kebutaan yang paling banyak dialami masyarakat. Kondisi ini ditandai dengan lensa mata yang mengalami kekeruhan, sehingga cahaya tidak dapat masuk dengan sempurna ke retina.
Akibatnya, penglihatan penderita tampak buram, berkabut, dan semakin lama dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, mulai dari membaca, mengemudi, hingga sekadar mengenali wajah orang di sekitarnya.
Baca juga: Cek Fakta, Benarkah Obat Tetes Mata Dapat Mengatasi Katarak?
Adapun, gejala awalnya sering kali ringan, seperti pandangan agak kabur, sensitif terhadap cahaya, atau kesulitan melihat pada malam hari. Namun, tanpa penanganan medis, katarak dapat berkembang secara bertahap hingga menutupi seluruh lensa mata dan pada akhirnya menyebabkan kebutaan.
“Lebih dari 80 persen kasus katarak yang tidak ditangani bisa menyebabkan kebutaan. Karena itu harus segera ditangani, apalagi saat ini penanganannya sudah ditanggung BPJS,” ujar dr. Hendra Tarmizi, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang.
Hendra mengatakan bahwa jumlah penderita katarak saat ini cukup banyak. Di Kabupaten Tangerang saja saat ini ada sekitar 10.000 warga yang menderita katarak.
Meski kerap dikaitakan dengan faktor usia lanjut atau katarak senilis, yang mulai muncul ketika seseorang memasuki usia empat puluhan. Namun, penyakit ini ternyata tidak hanya menyerang lansia.
Sebab, ada juga katarak kongenital atau bawaan lahir, seperti yang dialami salah satu pasien operasi massal yang digelar dalam rangka 50 tahun Summarecon Agung di Rumah Sakit Santo Carolus, Summarecon Gading Serpong.
Selama dua hari, lebih dari 200 pasien dari berbagai daerah ikut serta dalam operasi katarak, salah satunya ada anak berusia 6 tahun. Menurut Hendra, munculnya permasalahan katarak pada anak biasanya disebabkan faktor keturunan.
“Semakin cepat ditangani, semakin besar peluang anak untuk mendapatkan kualitas hidup yang baik sehingga anak juga bisa belajar dan tumbuh dengan penglihatan yang normal,” tutur Hendra.
Adrianto P. Adhi, President Director PT Summarecon Agung Tbk, mengatakan pelaksanaan inisiatif operasi katarak tersebut bertujuan membantu mengembalikan kualitas hidup masyarakat.
“Pasien termuda berusia 6 tahun, sedangkan yang tertua 90 tahun. Kami berharap melalui operasi ini, mereka bisa kembali melihat dunia dengan terang,” ujarnya.
Meski menimbulkan kecemasan, operasi katarak sebenarnya merupakan salah satu tindakan medis dengan tingkat keberhasilan paling tinggi dalam bidang oftalmologi. Dr. Kevin, SpM, menjelaskan bahwa prosedur ini melibatkan pengangkatan lensa mata yang keruh dan menggantinya dengan lensa buatan atau intraocular lens (IOL).
Operasi dilakukan dengan anestesi lokal, tidak memerlukan rawat inap, dan umumnya hanya memakan waktu singkat. “Katarak tidak bisa disembuhkan dengan obat atau kacamata. Operasi adalah satu-satunya cara efektif untuk memperbaiki penglihatan,” kata Dr. Kevin.
Pemulihan pun berlangsung cepat jika pasien mematuhi instruksi medis. Setelah operasi, pasien diminta menjaga kebersihan mata, menggunakan tetes mata sesuai resep, serta menghindari aktivitas berat dan paparan debu atau air. Dalam hitungan minggu, sebagian besar pasien sudah bisa kembali beraktivitas dengan penglihatan yang lebih jelas.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Akibatnya, penglihatan penderita tampak buram, berkabut, dan semakin lama dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, mulai dari membaca, mengemudi, hingga sekadar mengenali wajah orang di sekitarnya.
Baca juga: Cek Fakta, Benarkah Obat Tetes Mata Dapat Mengatasi Katarak?
Adapun, gejala awalnya sering kali ringan, seperti pandangan agak kabur, sensitif terhadap cahaya, atau kesulitan melihat pada malam hari. Namun, tanpa penanganan medis, katarak dapat berkembang secara bertahap hingga menutupi seluruh lensa mata dan pada akhirnya menyebabkan kebutaan.
“Lebih dari 80 persen kasus katarak yang tidak ditangani bisa menyebabkan kebutaan. Karena itu harus segera ditangani, apalagi saat ini penanganannya sudah ditanggung BPJS,” ujar dr. Hendra Tarmizi, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang.
Hendra mengatakan bahwa jumlah penderita katarak saat ini cukup banyak. Di Kabupaten Tangerang saja saat ini ada sekitar 10.000 warga yang menderita katarak.
Meski kerap dikaitakan dengan faktor usia lanjut atau katarak senilis, yang mulai muncul ketika seseorang memasuki usia empat puluhan. Namun, penyakit ini ternyata tidak hanya menyerang lansia.
Sebab, ada juga katarak kongenital atau bawaan lahir, seperti yang dialami salah satu pasien operasi massal yang digelar dalam rangka 50 tahun Summarecon Agung di Rumah Sakit Santo Carolus, Summarecon Gading Serpong.
Selama dua hari, lebih dari 200 pasien dari berbagai daerah ikut serta dalam operasi katarak, salah satunya ada anak berusia 6 tahun. Menurut Hendra, munculnya permasalahan katarak pada anak biasanya disebabkan faktor keturunan.
“Semakin cepat ditangani, semakin besar peluang anak untuk mendapatkan kualitas hidup yang baik sehingga anak juga bisa belajar dan tumbuh dengan penglihatan yang normal,” tutur Hendra.
Adrianto P. Adhi, President Director PT Summarecon Agung Tbk, mengatakan pelaksanaan inisiatif operasi katarak tersebut bertujuan membantu mengembalikan kualitas hidup masyarakat.
“Pasien termuda berusia 6 tahun, sedangkan yang tertua 90 tahun. Kami berharap melalui operasi ini, mereka bisa kembali melihat dunia dengan terang,” ujarnya.
Meski menimbulkan kecemasan, operasi katarak sebenarnya merupakan salah satu tindakan medis dengan tingkat keberhasilan paling tinggi dalam bidang oftalmologi. Dr. Kevin, SpM, menjelaskan bahwa prosedur ini melibatkan pengangkatan lensa mata yang keruh dan menggantinya dengan lensa buatan atau intraocular lens (IOL).
Operasi dilakukan dengan anestesi lokal, tidak memerlukan rawat inap, dan umumnya hanya memakan waktu singkat. “Katarak tidak bisa disembuhkan dengan obat atau kacamata. Operasi adalah satu-satunya cara efektif untuk memperbaiki penglihatan,” kata Dr. Kevin.
Pemulihan pun berlangsung cepat jika pasien mematuhi instruksi medis. Setelah operasi, pasien diminta menjaga kebersihan mata, menggunakan tetes mata sesuai resep, serta menghindari aktivitas berat dan paparan debu atau air. Dalam hitungan minggu, sebagian besar pasien sudah bisa kembali beraktivitas dengan penglihatan yang lebih jelas.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.