Reality Club Rilis Single Bertema Krisis Iklim Lewat Album Sonic/Panic Vol. 3,
06 October 2025 |
17:16 WIB
1
Like
Like
Like
Grup musik indie rock Reality Club tengah menyiapkan sesuatu yang berbeda dari kebiasaan mereka. Jika biasanya band ini dikenal lewat lagu-lagu bertema cinta dan romansa, kali ini mereka akan menghadirkan karya dengan isu lingkungan dengan tajuk "I Don’t Wanna Hate The World".
Karya ini menjadi bagian dari album kompilasi Sonic/Panic Vol. 3, sebuah proyek kolaborasi yang mempertemukan 15 musisi lintas genre. Album tersebut digagas oleh forum IKLIM (Indonesian Climate Communications Arts & Music Lab) dengan tujuan mengangkat isu krisis iklim melalui musik.
Baca juga: Curahan Reality Club yang Lebih Personal & Percaya Diri di Album Keempat
Fathia Izzati, vokalis Reality Club, menjelaskan bahwa proses kreatif lagu ini cukup berbeda dari biasanya. Dengan balutan temanya yang penting, dia bersama personel lain mesti mengikuti workshop khusus di Ubud, Bali, terlebih dahulu sebelum menulis lagu. Di sana, mereka mendalami materi terkait lingkungan sebelum masuk ke proses kreatifnya.
Meski begitu, Fathia menegaskan lagu ini tidak akan disajikan dengan nuansa yang terlalu berat. Menurutnya, karya tersebut tetap lahir dan berangkat dari keresahan pribadi seluruh anggota band terhadap kondisi bumi dan masa depan lingkungan.
"Awalnya kami pikir lokakarya di Ubud ini bakal santai, ternyata materinya berat banget sampai bikin kami merasa dunia sebentar lagi hancur," ungkapnya.
Namun, menurutnya, pengalaman di lokakarya tersebut justru memperkaya pemahaman mereka. Fathia menyebut dari sana, Reality Club mendapatkan banyak insight, arahan, dan guidebook yang membantunya menemukan pijakan dalam berkarya. Lagu I Don’t Wanna Hate The World pun lahir dari keinginan untuk tetap mencintai bumi di tengah kerusakan lingkungan yang semakin nyata.
Dalam lagu ini, dirinya ingin menyoroti bahaya informasi yang terlalu berlebihan mengenai kerusakan iklim. Menurutnya, hal itu bisa membuat orang bersikap apatis. Dengan lagu ini, dia berharap publik lebih sadar bahwa krisis iklim bukanlah sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari.
"Saat menulis lagu tentang iklim, energinya juga berbeda, lebih emosional dan penuh amarah dibanding lagu cinta biasanya. Semoga kalian juga dapat merasakannya," tambah Fathia.
Album kompilasi Sonic/Panic Vol. 3 dijadwalkan rilis penuh pada 1 November 2025 oleh Alarm Recors yang berlangsung di festival musik Rock in Celebes di Makassar. Selain Reality Club, sejumlah musisi lain juga ikut berkontribusi, mulai dari Kunto Aji, Teddy Adhitya, The Brandals, Chicco Jerikho, hingga Scaller dan The Melting Minds.
Sebelum peluncuran penuh, album ini sudah melepas beberapa single secara berkala. Dua lagu pertama dirilis pada 3 Oktober 2025, yaitu Manusia Terakhir di Bumi dari Kunto Aji serta Kebangkitan dari duo punk Sukatani. Perilisan single lain akan menyusul setiap pekan hingga album lengkap siap diperdengarkan.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Karya ini menjadi bagian dari album kompilasi Sonic/Panic Vol. 3, sebuah proyek kolaborasi yang mempertemukan 15 musisi lintas genre. Album tersebut digagas oleh forum IKLIM (Indonesian Climate Communications Arts & Music Lab) dengan tujuan mengangkat isu krisis iklim melalui musik.
Baca juga: Curahan Reality Club yang Lebih Personal & Percaya Diri di Album Keempat
Fathia Izzati, vokalis Reality Club, menjelaskan bahwa proses kreatif lagu ini cukup berbeda dari biasanya. Dengan balutan temanya yang penting, dia bersama personel lain mesti mengikuti workshop khusus di Ubud, Bali, terlebih dahulu sebelum menulis lagu. Di sana, mereka mendalami materi terkait lingkungan sebelum masuk ke proses kreatifnya.
Meski begitu, Fathia menegaskan lagu ini tidak akan disajikan dengan nuansa yang terlalu berat. Menurutnya, karya tersebut tetap lahir dan berangkat dari keresahan pribadi seluruh anggota band terhadap kondisi bumi dan masa depan lingkungan.
"Awalnya kami pikir lokakarya di Ubud ini bakal santai, ternyata materinya berat banget sampai bikin kami merasa dunia sebentar lagi hancur," ungkapnya.

Reality Club (Sumber gambar: dok IKLIM, The Indonesian Climate Communications, Arts & Music Lab)
Namun, menurutnya, pengalaman di lokakarya tersebut justru memperkaya pemahaman mereka. Fathia menyebut dari sana, Reality Club mendapatkan banyak insight, arahan, dan guidebook yang membantunya menemukan pijakan dalam berkarya. Lagu I Don’t Wanna Hate The World pun lahir dari keinginan untuk tetap mencintai bumi di tengah kerusakan lingkungan yang semakin nyata.
Dalam lagu ini, dirinya ingin menyoroti bahaya informasi yang terlalu berlebihan mengenai kerusakan iklim. Menurutnya, hal itu bisa membuat orang bersikap apatis. Dengan lagu ini, dia berharap publik lebih sadar bahwa krisis iklim bukanlah sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari.
"Saat menulis lagu tentang iklim, energinya juga berbeda, lebih emosional dan penuh amarah dibanding lagu cinta biasanya. Semoga kalian juga dapat merasakannya," tambah Fathia.
Album kompilasi Sonic/Panic Vol. 3 dijadwalkan rilis penuh pada 1 November 2025 oleh Alarm Recors yang berlangsung di festival musik Rock in Celebes di Makassar. Selain Reality Club, sejumlah musisi lain juga ikut berkontribusi, mulai dari Kunto Aji, Teddy Adhitya, The Brandals, Chicco Jerikho, hingga Scaller dan The Melting Minds.
Sebelum peluncuran penuh, album ini sudah melepas beberapa single secara berkala. Dua lagu pertama dirilis pada 3 Oktober 2025, yaitu Manusia Terakhir di Bumi dari Kunto Aji serta Kebangkitan dari duo punk Sukatani. Perilisan single lain akan menyusul setiap pekan hingga album lengkap siap diperdengarkan.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.