Karya Kemalezedine yang berjudul Tree #2 - #4 dari Mizuma Gallery ditampilkan saat Art Jakarta 2024 di Jakarta, Jumat (4/10/2024). (Sumber gambar: JIBI/Bisnis/Abdurachman)

Mengenal Berbagai Aliran Lukisan Biar Paham Karya-karya di Art Jakarta 2025

03 October 2025   |   14:37 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Like
Mengunjungi sebuah pameran seni, seperti Art Jakarta 2025, bukan hanya sekadar melihat deretan lukisan yang dipajang. Setiap karya seni hadir dengan bahasa visualnya sendiri, yang merefleksikan gagasan, emosi, dan konteks budaya sang seniman. 

Untuk benar-benar dapat menikmati pengalaman tersebut, Genhype sebaiknya membekali diri dengan pengetahuan mengenai aliran atau gaya seni lukis menjadi modal penting sebelum berkunjung ke sebuah pameran.

Gaya lukisan bukan sekadar soal bentuk atau warna, melainkan juga cara seorang seniman menyampaikan pandangan hidup dan interpretasinya terhadap realitas. 

Baca juga: Dari Korea Focus hingga Arus Baru, Ini Agenda Spesial di Art Jakarta 2025 

Perbedaan antara karya realis, surealis, abstrak, kubis, hingga naturalis, misalnya, menunjukkan ragam pendekatan yang masing-masing memiliki nilai dan daya tarik tersendiri. Dengan memahami hal itu, pengunjung dapat menangkap lebih banyak lapisan makna daripada hanya menilai keindahan visual semata. 

Art Jakarta 2025, sebagai salah satu ajang seni rupa terbesar di Indonesia, akan menghadirkan berbagai karya lintas gaya dari seniman dalam dan luar negeri. Dengan bekal pemahaman gaya lukisan, pengunjung tidak hanya menjadi penonton pasif, melainkan juga penikmat karya yang aktif membangun percakapan lewat karya seni.

Berikut adalah lima aliran lukisan populer yang sebagiannya dapat ditemui di Art Jakarta 2025. 


1. Realisme

Pada mulanya, seni lukis hadir sebagai upaya manusia untuk merekam apa yang terlihat di sekelilingnya ke dalam medium visual, ini jauh sebelum fotografi berkembang. Aliran realisme menekankan pada penggambaran objek sesuai kenyataan, tanpa tambahan unsur imajinatif atau manipulasi artistik.

Ciri khas aliran ini terletak pada ketepatan bentuk yang dibuat sedekat mungkin dengan wujud aslinya, sehingga lukisan realis sering kali berfokus pada pemandangan, potret manusia, atau detail-detail nyata dari kehidupan sehari-hari.

Tokoh-tokoh penting realisme di Indonesia antara lain Sudjojono, Dullah, Henk Ngantung, Kusnadi, dan Tatang Ganar. Sementara itu, di Barat terdapat Jean Francois Millet, Gustav C. Courbet, Honore Daumier, hingga Rembrandt yang juga dikenal sebagai pelopornya.

Melalui ketelitian dan kejujuran visual, mereka menghasilkan karya yang menampilkan kehidupan sehari-hari dan alam secara autentik, sehingga mampu memberi daya tarik tersendiri bagi para penikmat seni.


2. Surealisme

Istilah “surreal” sering diasosiasikan dengan hal-hal yang janggal, tak lazim, bahkan menyerupai mimpi. Hal tersebut juga tercermin dalam seni lukis surealisme yang muncul pada awal 1920-an sebagai bagian dari gerakan budaya. Ciri khasnya adalah visual yang mengejutkan, aneh, dan menantang batas realitas, sering kali dipadukan dengan elemen fantasi yang imajinatif.

Para pelukis surealis berusaha mengungkap isi jiwa manusia yang terbebas dari aturan logika, etika, maupun estetika. Lukisan-lukisan mereka kerap menimbulkan rasa misteri bahkan keganjilan, tetapi tetap berfungsi sebagai refleksi pengalaman batin terdalam.

Salah satu karya yang ikonik adalah The Persistence of Memory oleh Salvador Dali. Selain itu, tokoh lain seperti Paul Klee, Yves Tanguy, dan Joan Miro juga menghasilkan karya dengan perpaduan elemen tak masuk akal yang dieksekusi secara teknis dengan ketelitian tinggi.


3. Abstraksionisme 

Abstraksionisme sering dianggap sebagai aliran seni lukis yang paling mudah dikenali, tetapi juga paling sulit dipahami. Menurut definisi KBBI, abstrak berarti sesuatu yang tidak berwujud, sehingga dalam seni rupa ia menjadi bahasa visual melalui bentuk, warna, serta garis tanpa keterikatan pada representasi nyata.

Lukisan abstrak biasanya menonjolkan ekspresi emosional, permainan warna, dan dinamika bentuk, memberi ruang kebebasan penuh bagi seniman maupun penikmatnya. Kekuatan utama aliran ini terletak pada spontanitas, improvisasi, dan metode yang non-konvensional.

Hal tersebut memungkinkan karya abstrak terbuka untuk berbagai interpretasi, tergantung siapa yang melihatnya. Di antara seniman terkemuka yang mengusung abstraksionisme adalah Mark Rothko, Jackson Pollock, dan Willem de Kooning, yang masing-masing menghadirkan gaya khas dalam membangun ekspresi visual murni.


4. Kubisme

Kubisme merupakan aliran seni rupa yang mudah dikenali karena menggunakan bentuk-bentuk geometris seperti kubus, segitiga, maupun lingkaran, sering dipadukan dengan permainan perspektif warna. Aliran ini muncul pada 1908 di Spanyol dengan semangat melepaskan diri dari aturan akademis seni rupa, baik dalam aspek warna, garis, maupun komposisi. Kubisme menekankan kebebasan dalam mengekspresikan realitas melalui fragmentasi bentuk. 

Keindahan kubisme dapat ditemukan dalam kedalaman makna yang tersirat, karakteristik garis-garis, dan suasana ritmis yang ditimbulkan. Pelopornya adalah Pablo Picasso dan Georges Braque yang kemudian berpengaruh besar pada perkembangan seni modern.

Di Indonesia, gaya ini diadopsi oleh sejumlah pelukis seperti Ahmad Sadali, Popo Iskandar, But Mohtar, Mohtar Apin, Kaboel Suadi, dan Ries Mulder, yang menghasilkan karya dengan ciri khas kubisme namun tetap berakar pada konteks budaya lokal. 


5. Naturalisme

Naturalisme merupakan aliran seni lukis yang berangkat dari kekaguman terhadap alam sebagai sumber utama inspirasi. Para seniman dalam aliran ini menempatkan keindahan alam sebagai idealisme. Aliran ini cukup berbeda dengan realisme yang menampilkan objek apa adanya.

Dalam naturalisme, terdapat kebebasan untuk memilih bagian tertentu dari alam atau hanya menonjolkan aspek yang dianggap paling indah.

Tokoh-tokoh penting aliran ini di Indonesia meliputi Raden Saleh, Abdullah Suriosubroto, dan Basuki Abdullah, sementara dari kancah internasional terdapat nama John Constable dan Thomas Cole.

Mereka dikenal karena kemampuannya menangkap detail keindahan alam dengan teknik yang membuat objek tampak menyerupai aslinya, sekaligus menonjolkan harmoni yang memikat mata. 

Baca juga: Cek Daftar dan Jadwal Programme Art Jakarta 2025, Digelar 3-5 Oktober 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor:

SEBELUMNYA

BGN Perketat Standar, Setiap Dapur MBG Kini Harus Dipimpin Dua Chef Bersertifikat

BERIKUTNYA

Bali Jadi Pusat Wisata Gastronomi, Kemenpar Kenalkan Wonderful Indonesia Gourmet

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga