Gejala Keracunan Makanan pada Anak yang Perlu Diwaspadai Orang Tua
29 September 2025 |
15:47 WIB
Kasus keracunan makanan belakangan kembali mencuri perhatian masyarakat. Meski kerap dipandang sepele, masalah ini sesungguhnya dapat berujung serius, terutama jika menimpa kelompok rentan seperti anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan.
Dokter Spesialis Gizi Klinik RS Premier Bintaro Yohan Samudra mengatakan kasus keracunan makanan tidak selalu bisa dianggap ringan. Dalam sejumlah kasus, gejalanya bisa berkembang hingga memerlukan perawatan intensif di rumah sakit.
Anak-anak menjadi kelompok paling rentan karena daya tahan tubuh mereka belum sekuat orang dewasa. Sistem imun masih dalam tahap perkembangan sehingga tubuh lebih mudah bereaksi terhadap makanan yang tidak higienis.
“Imun baru terbentuk sempurna di usia di atas 5 tahun dan tentunya untuk mengoptimalkan imun tersebut butuh kecukupan zat gizi. Jadi, jika terpapar pangan yang terkontaminasi, anak memang lebih mudah sakit. Gejala juga bisa lebih berat dan dapat mengganggu pertumbuhan,” katanya.
Baca juga: Ribuan Siswa Keracunan, CISDI Ungkap Masalah Kualitas Makanan MBG
Yohan pun mengingatkan bahwa keracunan makanan pada anak memiliki kemungkinan keluhan yang tidak sebentar. Dalam sejumlah kasus, gangguan ini bisa memberi dampak jangka panjang terhadap tumbuh kembang anak, baik secara fisik maupun kognitif, apalagi di negara dengan tingkat malnutrisi yang masih tinggi.
Kondisi tersebut dapat membuka jalan bagi berbagai penyakit yang lebih serius. Beberapa contoh yang kerap muncul akibat keracunan makanan antara lain hepatitis A dan demam tifoid.
Yohan menyebut sumber keracunan akibat makanan sendiri bisa beragam, mulai dari bakteri seperti E. coli dan Salmonella, virus seperti norovirus, hingga parasit berupa cacing maupun protozoa. Jamur yang menghasilkan racun pun dapat menjadi penyebab.
Selain faktor biologis, zat kimia juga berpotensi menimbulkan keracunan. Pestisida, logam berat, dan bahan berbahaya lainnya bisa masuk ke tubuh lewat makanan yang terkontaminasi sejak proses panen, penyimpanan, hingga penyajian.
Namun, Yohan menekankan bahwa penyebab yang paling sering justru ialah praktik higienitas yang buruk. Tangan kotor saat mengolah makanan, peralatan dapur yang tidak bersih, penyimpanan terlalu lama di suhu ruang, serta penggunaan air atau bahan baku yang tercemar juga dapat menjadi pemicu utama keracunan makanan.
Dokter Yohan menyebut gejala keracunan makanan bisa berbeda-beda tergantung jenis kuman penyebabnya. Rasa sakit akibat keracunan dapat muncul dalam satu hingga dua jam setelah seseorang mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi.
Dia menjelaskan pada sebagian kasus gejala baru terlihat setelah beberapa minggu. Meski begitu, umumnya keluhan keracunan makanan akan hilang dalam kurun satu hingga sepuluh hari.
Beberapa tanda yang patut diperhatikan pada anak antara lain mual, sakit perut disertai kram, muntah, diare, demam, sakit kepala, hingga gangguan keseimbangan elektrolit.
Dalam kondisi yang lebih jarang, keracunan dapat menimbulkan gejala seperti pusing, pandangan kabur, atau sensasi kesemutan di lengan. Pada kasus yang sangat jarang, kelemahan akibat keracunan bisa berkembang hingga menimbulkan kesulitan bernapas.
Yohan menambahkan, sebagian besar kasus biasanya tidak memerlukan penanganan medis khusus. Akan tetapi, dehidrasi menjadi komplikasi serius yang sering terjadi, sehingga anak dengan gejala parah sebaiknya segera mendapat pemeriksaan dokter.
Baca juga: Pemerintah Evaluasi Program Makan Bergizi Gratis, Sejumlah Dapur MBG Bakal Ditutup Sementara
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Dokter Spesialis Gizi Klinik RS Premier Bintaro Yohan Samudra mengatakan kasus keracunan makanan tidak selalu bisa dianggap ringan. Dalam sejumlah kasus, gejalanya bisa berkembang hingga memerlukan perawatan intensif di rumah sakit.
Anak-anak menjadi kelompok paling rentan karena daya tahan tubuh mereka belum sekuat orang dewasa. Sistem imun masih dalam tahap perkembangan sehingga tubuh lebih mudah bereaksi terhadap makanan yang tidak higienis.
“Imun baru terbentuk sempurna di usia di atas 5 tahun dan tentunya untuk mengoptimalkan imun tersebut butuh kecukupan zat gizi. Jadi, jika terpapar pangan yang terkontaminasi, anak memang lebih mudah sakit. Gejala juga bisa lebih berat dan dapat mengganggu pertumbuhan,” katanya.
Baca juga: Ribuan Siswa Keracunan, CISDI Ungkap Masalah Kualitas Makanan MBG
Yohan pun mengingatkan bahwa keracunan makanan pada anak memiliki kemungkinan keluhan yang tidak sebentar. Dalam sejumlah kasus, gangguan ini bisa memberi dampak jangka panjang terhadap tumbuh kembang anak, baik secara fisik maupun kognitif, apalagi di negara dengan tingkat malnutrisi yang masih tinggi.
Kondisi tersebut dapat membuka jalan bagi berbagai penyakit yang lebih serius. Beberapa contoh yang kerap muncul akibat keracunan makanan antara lain hepatitis A dan demam tifoid.
Yohan menyebut sumber keracunan akibat makanan sendiri bisa beragam, mulai dari bakteri seperti E. coli dan Salmonella, virus seperti norovirus, hingga parasit berupa cacing maupun protozoa. Jamur yang menghasilkan racun pun dapat menjadi penyebab.
Selain faktor biologis, zat kimia juga berpotensi menimbulkan keracunan. Pestisida, logam berat, dan bahan berbahaya lainnya bisa masuk ke tubuh lewat makanan yang terkontaminasi sejak proses panen, penyimpanan, hingga penyajian.
Namun, Yohan menekankan bahwa penyebab yang paling sering justru ialah praktik higienitas yang buruk. Tangan kotor saat mengolah makanan, peralatan dapur yang tidak bersih, penyimpanan terlalu lama di suhu ruang, serta penggunaan air atau bahan baku yang tercemar juga dapat menjadi pemicu utama keracunan makanan.
Perhatikan Tanda-tanda Keracunan
Dokter Yohan menyebut gejala keracunan makanan bisa berbeda-beda tergantung jenis kuman penyebabnya. Rasa sakit akibat keracunan dapat muncul dalam satu hingga dua jam setelah seseorang mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi.Dia menjelaskan pada sebagian kasus gejala baru terlihat setelah beberapa minggu. Meski begitu, umumnya keluhan keracunan makanan akan hilang dalam kurun satu hingga sepuluh hari.
Beberapa tanda yang patut diperhatikan pada anak antara lain mual, sakit perut disertai kram, muntah, diare, demam, sakit kepala, hingga gangguan keseimbangan elektrolit.
Dalam kondisi yang lebih jarang, keracunan dapat menimbulkan gejala seperti pusing, pandangan kabur, atau sensasi kesemutan di lengan. Pada kasus yang sangat jarang, kelemahan akibat keracunan bisa berkembang hingga menimbulkan kesulitan bernapas.
Yohan menambahkan, sebagian besar kasus biasanya tidak memerlukan penanganan medis khusus. Akan tetapi, dehidrasi menjadi komplikasi serius yang sering terjadi, sehingga anak dengan gejala parah sebaiknya segera mendapat pemeriksaan dokter.
Baca juga: Pemerintah Evaluasi Program Makan Bergizi Gratis, Sejumlah Dapur MBG Bakal Ditutup Sementara
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.