Ilustrasi zat radioaktif (Sumber gambar: Pexels)

Dampak Zat Radioaktif Bagi Kesehatan Manusia, Bisa Merusak dan Memodifikasi Sel

30 September 2025   |   16:00 WIB
Image
Indah Permata Hati Jurnalis Hypeabis.id

Polusi radioaktif menjadi isu lingkungan yang makin mendapat perhatian dunia. Di Indonesia, perhatian ini makin mencuat setelah adanya temuan pencemaran zat radioaktif di kawasan industri Cikande, Serang, Banten. Cemaran radioaktif dapat memengaruhi lingkungan dan makhluk hidup secara langsung. 

Melansir Study IQ, polusi radioaktif mengacu pada tingkat radiasi berbahaya yang dipancarkan oleh unsur radioaktif. Sekitar 98% dosis radiasi dan 20% total paparan radiasi penduduk berasal dari sumber yang diciptakan oleh manusia. Setiap tahunnya, terdapat lebih dari 3,6 miliar prosedur radiologi diagnostik, 37 juta prosedur kedokteran nuklir, dan 7,5 juta perawatan radiasi dilakukan secara global. 

Polusi radioaktif terjadi ketika bahan radioaktif hadir atau ditambahkan ke lingkungan, terutama bila dilakukan secara tidak sengaja, sehingga kejadian itu dapat menimbulkan peluruhan radioaktif. Bahan radioaktif melepaskan radiasi pengion berbahaya ke lingkungan seperti partikel alfa atau beta, sinar gamma, atau neutron.

Aktivitas manusia yang dapat melepaskan radiasi termasuk penambangan, penanganan, dan pemrosesan bahan radioaktif, penyimpanan limbah radioaktif, produksi energi nuklir, serta penggunaan radiasi dalam penelitian dan pengobatan. 

Baca juga: FDA Beri Peringatan Udang Beku Asal Indonesia Terkontaminasi Zat Radioaktif 

Menurut studi yang dipublikasikan di Journal of Pollution Effects and Control (2022), radiasi dari bahan radioaktif dapat merusak dan memodifikasi sel tanaman, hewan, dan manusia, bahkan menyebabkan kematian.

Tingkat bahaya tergantung pada konsentrasi bahan radioaktif, energi radiasi, jarak dengan manusia, serta jenis radiasi yang dilepaskan. Salah satu masalah baru yang muncul adalah kontaminasi air tanah oleh bahan radioaktif.

Melihat jenisnya, radiasi terbagi menjadi dua jenis utama. Pertama, radiasi non-pengion yaitu energi rendah yang tidak mampu melepaskan elektron dari atom atau molekul, contohnya cahaya tampak, sinar infra merah, ultraviolet, gelombang mikro, dan gelombang radio.

Kedua, radiasi pengion, terjadi saat radiasi memiliki energi cukup untuk melepaskan elektron dari atom atau molekul, contohnya sinar X, sinar kosmik, dan radiasi dari unsur radioaktif. Radiasi pengion inilah yang paling berpotensi merusak jaringan biologis manusia dan makhluk hidup lainnya. 

Berapa penyebab polusi radioaktif antara lain aktivitas antropogenik yang terjadi karena penelitian senjata nuklir, bencana nuklir, pembangkit listrik tenaga nuklir, dan pembuangan limbah radioaktif. Kemudian penyebab lainnya adalah radioisotop dalam industri dan laboratorium.

Biasanya radioisotop ini digunakan dalam detektor, penelitian, dan proses industri, meski kontribusinya relatif kecil. Pertambangan mineral radioaktif juga menjadi penyebab lainnya.

Radium dan uranium dapat masuk ke tanah dan air dan kemudian menimbulkan kontaminasi. Terakhir, radiasi kosmik dan terestrial, dimana sinar kosmik dari luar angkasa serta elemen radioaktif alami di kerak bumi seperti uranium, thorium, radon dapat menambah paparan radiasi pada manusia.

Penyebab ini terjadi bukan hanya pada skala kecil. Lebih jauh, polusi radioaktif memengaruhi ekosistem akuatik. Limbah dari pembangkit listrik tenaga nuklir dan proses kimia nuklida sering melepaskan radioisotop seperti cesium, kradon, kripton, rutenium, seng, dan tembaga ke perairan.

Radioisotop ini dapat menumpuk di jaringan dan tulang ikan, serta pada rumput laut yang digunakan sebagai bahan pangan. Inilah yang menyebabkan rantai makanan di ekosistem air terkontaminasi dan membahayakan manusia. 


Dampak Buruk Paparan Radiasi Berlebih 

Paparan radiasi berlebih memiliki berbagai efek negatif juga pada kesehatan. Salah satu dampak yang paling serius adalah mutasi genetik. Sebab, radiasi merusak untai DNA secara bertahap.

Akumulasi mutasi ini meningkatkan risiko kanker dan kelainan genetik pada manusia maupun hewan. Selain itu, paparan dosis tinggi dapat menyebabkan penyakit radiasi akut yang memunculkan dengan gejala muntah, mual, hingga kematian dalam beberapa hari atau minggu.

Paparan radioaktif juga dapat menyebabkan berbagai gangguan fisiologis termasuk leukemia, osteonekrosis, katarak, dan kerusakan kromosom.

Anak-anak yang terpapar radiasi tinggi seperti yang terjadi pada Hiroshima dan Nagasaki memiliki kemungkinan mengalami keterbelakangan mental, autisme, dan kelainan bawaan lainnya. Polusi radioaktif juga berdampak pada fertilitas dan kesehatan reproduksi.

Dengan segala dampak tersebut, beberapa langkah pengendalian polusi radioaktif dapat dilakukan dengan cara melakukan pembuangan limbah yang aman. Adapun limbah radioaktif harus disimpan dalam wadah beton besar dan kokoh untuk mencegah rembesan. Limbah ini tidak boleh dibakar atau dikubur sembarangan.

Dari sisi industri, diperlukan juga langkah pelabelan produk radioaktif, larangan uji coba nuklir, serta pengembangan energi alternatif dengan menggantikan tenaga nuklir dengan energi terbarukan seperti tenaga surya, air, dan angin. 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 
Editor:

SEBELUMNYA

Steam Autumn Sale 2025 Dimulai, Banyak Game Baru Dapat Diskon 

BERIKUTNYA

Karya Pop Culture hingga Art Toys, JICAF 2025 Buktikan Seni Makin Cair

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga