Apa Itu Cesium-137? Zat Radioaktif yang Ditemukan di Udang Beku Kawasan Cikande
30 September 2025 |
20:57 WIB
Temuan unsur radioaktif Cesium-137 (Cs-137) di kawasan industri Cikande, Kabupaten Serang, Banten, menarik perhatian publik. Unsur ini diketahui pertama kali setelah otoritas Amerika Serikat mendeteksi jejak Cs-137 pada sampel udang beku asal Indonesia.
Produk udang beku yang diproses oleh PT Bahari Makmur Sejati (BMS) ditolak di sejumlah pelabuhan besar, termasuk Los Angeles, Houston, Savannah, dan Miami. Berdasarkan pemeriksaan Food and Drug Administration (FDA) serta Bea Cukai AS mendeteksi kandungan radiasi pada kontainer udang pada Agustus 2025.
Kandungan Cs-137 pada udang beku itu tercatat berada di kisaran 60–114 becquerel per kilogram (Bq/kg). Angka tersebut sebetulnya masih jauh di bawah ambang batas yang ditetapkan, yakni 1.200 Bq/kg sesuai standar FDA dan 500 Bq/kg sesuai regulasi Indonesia.
Baca juga: FDA Beri Peringatan Udang Beku Asal Indonesia Terkontaminasi Zat Radioaktif
Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) kemudian melakukan penelusuran di lapangan. Hasil investigasi membawa mereka ke Kawasan Industri Modern Cikande. Di tempat pengumpulan logam bekas, ditemukan material logam bekas (scrap metal) yang mengandung Cs-137 di beberapa titik sekitar kawasan industri.
Setidaknya teridentifikasi delapan lokasi dengan paparan radioaktif di luar area PT BMS. Dugaan sementara mengarah pada aktivitas pengolahan logam oleh PT Peter Metal Technology (PMT), yang kini telah disegel untuk mencegah potensi risiko lebih lanjut.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama Bapeten mengamankan material terkontaminasi untuk dipindahkan ke fasilitas penyimpanan yang lebih aman. Pemerintah juga menyiapkan proses dekontaminasi di titik-titik yang terpapar.
Cs-137 punya sifat khusus, yaitu waktu paruhnya cukup panjang, sekitar 30 tahun. Artinya, butuh waktu selama itu untuk separuh jumlah zat ini bisa hilang secara alami. Selama masa itu, unsur ini tetap memancarkan radiasi dalam bentuk sinar beta dan gamma, yang keduanya bisa berbahaya bagi kesehatan manusia jika terpapar terlalu banyak.
Secara kimia, Cs-137 pada dasarnya berbentuk cair dalam suhu ruangan, tetapi jarang ditemukan dalam kondisi itu. Zat ini sangat mudah bercampur dengan klorida, sehingga lebih sering berubah menjadi serbuk kristal berwarna putih.
Dalam jumlah kecil, unsur ini biasanya digunakan untuk tujuan yang aman, misalnya membantu mengkalibrasi alat pendeteksi radiasi seperti penghitung Geiger, agar alat tersebut bisa bekerja dengan akurat. Akan tetapi, bila jumlahnya besar bisa digunakan dalam peralatan medis, misalnya untuk terapi radiasi dalam pengobatan kanker.
Selain itu, bisa juga dipakai dalam industri, seperti untuk mensterilkan peralatan medis, mengukur aliran cairan dalam pipa, atau menentukan ketebalan kertas, film, dan logam.
Meskipun memiliki banyak manfaat, Cs-137 juga menyimpan risiko besar. Bila wadah penyimpannya rusak atau terbuka, zat ini bisa tersebar ke lingkungan dalam bentuk debu atau serbuk halus. Dari luar tubuh, paparan dalam jumlah besar dapat menimbulkan luka bakar radiasi, penyakit radiasi akut, bahkan bisa menyebabkan kematian.
Sementara, dari dalam tubuh, jika masuk lewat makanan, minuman, atau udara, Cs-137 akan menempel pada jaringan lunak seperti otot, lalu menyebarkan radiasi beta dan gamma yang dapat merusak sel-sel tubuh. Kondisi ini meningkatkan risiko kanker, terutama bila paparan terjadi terus-menerus dalam jangka panjang.
Menariknya, sebenarnya manusia sudah terbiasa terpapar Cs-137 dalam jumlah kecil setiap hari. Hal ini karena sisa-sisa Cs-137 masih ada di lingkungan akibat uji coba nuklir yang dilakukan pada tahun 1950 sampai 1960-an.
Namun, jumlahnya sangat sedikit sehingga tidak berbahaya. Hal yang menjadi ancaman justru adalah Cs-137 dalam jumlah besar dan terkonsentrasi, misalnya dari kecelakaan reaktor nuklir seperti di Chernobyl pada 1986 atau dari perangkat medis dan industri yang wadahnya bocor.
Itulah sebabnya setiap penggunaan Cs-137 harus diawasi ketat, dan sumbernya disimpan dalam wadah khusus yang tertutup rapat agar masyarakat tetap aman dari dampaknya.
Baca juga: Dampak Zat Radioaktif Bagi Kesehatan Manusia, Bisa Merusak dan Memodifikasi Sel
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Produk udang beku yang diproses oleh PT Bahari Makmur Sejati (BMS) ditolak di sejumlah pelabuhan besar, termasuk Los Angeles, Houston, Savannah, dan Miami. Berdasarkan pemeriksaan Food and Drug Administration (FDA) serta Bea Cukai AS mendeteksi kandungan radiasi pada kontainer udang pada Agustus 2025.
Kandungan Cs-137 pada udang beku itu tercatat berada di kisaran 60–114 becquerel per kilogram (Bq/kg). Angka tersebut sebetulnya masih jauh di bawah ambang batas yang ditetapkan, yakni 1.200 Bq/kg sesuai standar FDA dan 500 Bq/kg sesuai regulasi Indonesia.
Baca juga: FDA Beri Peringatan Udang Beku Asal Indonesia Terkontaminasi Zat Radioaktif
Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) kemudian melakukan penelusuran di lapangan. Hasil investigasi membawa mereka ke Kawasan Industri Modern Cikande. Di tempat pengumpulan logam bekas, ditemukan material logam bekas (scrap metal) yang mengandung Cs-137 di beberapa titik sekitar kawasan industri.
Setidaknya teridentifikasi delapan lokasi dengan paparan radioaktif di luar area PT BMS. Dugaan sementara mengarah pada aktivitas pengolahan logam oleh PT Peter Metal Technology (PMT), yang kini telah disegel untuk mencegah potensi risiko lebih lanjut.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama Bapeten mengamankan material terkontaminasi untuk dipindahkan ke fasilitas penyimpanan yang lebih aman. Pemerintah juga menyiapkan proses dekontaminasi di titik-titik yang terpapar.
Mengenal Apa Itu Cesium-137
Mengutip Centers for Disease Control and Prevention (CDC), Cesium-137 (Cs-137) adalah sebuah zat radioaktif yang muncul dari proses pembelahan inti atom atau fisi nuklir. Proses ini biasanya terjadi di dalam reaktor nuklir atau ketika ada ledakan senjata nuklir.Cs-137 punya sifat khusus, yaitu waktu paruhnya cukup panjang, sekitar 30 tahun. Artinya, butuh waktu selama itu untuk separuh jumlah zat ini bisa hilang secara alami. Selama masa itu, unsur ini tetap memancarkan radiasi dalam bentuk sinar beta dan gamma, yang keduanya bisa berbahaya bagi kesehatan manusia jika terpapar terlalu banyak.
Secara kimia, Cs-137 pada dasarnya berbentuk cair dalam suhu ruangan, tetapi jarang ditemukan dalam kondisi itu. Zat ini sangat mudah bercampur dengan klorida, sehingga lebih sering berubah menjadi serbuk kristal berwarna putih.
Dalam jumlah kecil, unsur ini biasanya digunakan untuk tujuan yang aman, misalnya membantu mengkalibrasi alat pendeteksi radiasi seperti penghitung Geiger, agar alat tersebut bisa bekerja dengan akurat. Akan tetapi, bila jumlahnya besar bisa digunakan dalam peralatan medis, misalnya untuk terapi radiasi dalam pengobatan kanker.
Selain itu, bisa juga dipakai dalam industri, seperti untuk mensterilkan peralatan medis, mengukur aliran cairan dalam pipa, atau menentukan ketebalan kertas, film, dan logam.
Meskipun memiliki banyak manfaat, Cs-137 juga menyimpan risiko besar. Bila wadah penyimpannya rusak atau terbuka, zat ini bisa tersebar ke lingkungan dalam bentuk debu atau serbuk halus. Dari luar tubuh, paparan dalam jumlah besar dapat menimbulkan luka bakar radiasi, penyakit radiasi akut, bahkan bisa menyebabkan kematian.
Sementara, dari dalam tubuh, jika masuk lewat makanan, minuman, atau udara, Cs-137 akan menempel pada jaringan lunak seperti otot, lalu menyebarkan radiasi beta dan gamma yang dapat merusak sel-sel tubuh. Kondisi ini meningkatkan risiko kanker, terutama bila paparan terjadi terus-menerus dalam jangka panjang.
Menariknya, sebenarnya manusia sudah terbiasa terpapar Cs-137 dalam jumlah kecil setiap hari. Hal ini karena sisa-sisa Cs-137 masih ada di lingkungan akibat uji coba nuklir yang dilakukan pada tahun 1950 sampai 1960-an.
Namun, jumlahnya sangat sedikit sehingga tidak berbahaya. Hal yang menjadi ancaman justru adalah Cs-137 dalam jumlah besar dan terkonsentrasi, misalnya dari kecelakaan reaktor nuklir seperti di Chernobyl pada 1986 atau dari perangkat medis dan industri yang wadahnya bocor.
Itulah sebabnya setiap penggunaan Cs-137 harus diawasi ketat, dan sumbernya disimpan dalam wadah khusus yang tertutup rapat agar masyarakat tetap aman dari dampaknya.
Baca juga: Dampak Zat Radioaktif Bagi Kesehatan Manusia, Bisa Merusak dan Memodifikasi Sel
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.