Paparan Cesium-137 Bertahan di Tubuh 70-110 Hari, Pakar Bagikan Cara Cepat Dekontaminasi
13 October 2025 |
15:06 WIB
Paparan radioaktif Cesium-137 (Cs-137) bisa berdampak buruk bagi kesehatan manusia. Produk sampingan dari reaksi nuklir ini dapat menyebabkan gangguan organ, kerusakan sel, hingga meningkatkan risiko kanker bila terus dibiarkan.
Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir BRIN Syaiful Bakhri menerangkan, risiko kesehatan dari paparan Cs-137 terbagi menjadi efek stokastik dan efek deterministik. Efek stokastik disebabkan oleh paparan yang berlangsung lam. “Akan menyebabkan gejala di masa mendatang, seperti kanker,” ujarnya kepada Hypeabis.id, Senin (13/10/2025).
Sedangkan untuk deterministik, disebabkan paparan Cs-137 berlangsung singkat dengan dosis tinggi, biasanya lebih 1 Gray (Gy). Pada kondisi ini, mengakibatkan gejala langsung seperti dermatitis dan mual.
Syaiful menyebut, secara umum, Cs-137 memiliki cencern pada paparan external dibandingkan internal. Sifat zatradioaktif ini sangat mudah larut dalam air, sama seperti Kalium yang dapat mudah ditemukan pada rantai makanan. Adapun bila sudah berbetuk partikulat, Cs-137 bisa terbawa angin.
Menurutnya, setiap mineral mempunyai pontensi berbahaya pada manusia jika melebihi kadar tertentu. Cs-137 akan terakumulasi ke seluruh tubuh terutama pada otot manusia. Nah, batas aman Cs-137 pada produk makanan pada umumnya sebesar 1200 becquerel per kilogram (Bq/kg).
Berkaca pada kasus paparan radioaktif Cs-137 di Kawasan Industri Modern Cikande, Kabupaten Serang, Jawa Barat, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan masyarakat. Syaiful menyebut, bagi yang berada di wilayah yang terpapar radiasi, hal paling dasar adalah segera menjauh dari paparan.
Segera dekontaminasi tubuh dengan mandi dan mengganti pakaian untuk menghindari terpapar kembali. “Waktu paruh biologis Cs-137 pada manusia adalah sekitar 70 hingga 110 hari, yang berarti separuh Cs-137 dalam tubuh dieliminasi selama periode ini,” terang Syaiful.
Proses ini relatif cepat karena kelarutan cesium yang tinggi dalam cairan tubuh dan eliminasinya terutama melalui urin. Dia juga menyarankan perbanyak minum air putih dan susu yang sudah dipastikan bebas kontaminasi dan segera konsultasikan kepada dokter dan petugas lainnya.
Temuan kontaminasi zat radioaktif Cesium-137 (Cs-137) bermula pada ditolaknya produk udang beku asal Indonesia di sejumlah pelabuhan besar, termasuk Los Angeles, Houston, Savannah, dan Miami. Berdasarkan pemeriksaan Food and Drug Administration (FDA) serta Bea Cukai AS mendeteksi adanya kandungan radiasi pada kontainer udang pada Agustus 2025.
Kandungan Cs-137 pada udang beku itu tercatat berada di kisaran 60–114 becquerel per kilogram (Bq/kg). Angka tersebut sebetulnya masih jauh di bawah ambang batas yang ditetapkan, yakni 1.200 Bq/kg sesuai standar FDA dan 500 Bq/kg sesuai regulasi Indonesia.
Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) kemudian melakukan penelusuran di lapangan. Hasil investigasi membawa mereka ke Kawasan Industri Modern Cikande. Di tempat pengumpulan logam bekas, ditemukan material logam bekas (scrap metal) yang mengandung Cs-137 di beberapa titik sekitar kawasan industri.
Kementerian Lingkungan Hidup menyebut setidaknya ada 10 titik lokasi di Cikande yang tercemar Cs-137. Kontaminasi radiasi radioaktif ini belakangan diduga bersumber dari aktivitas pengolahan besi bekas (scrap metal) di PT Peter Metal Technology.
Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir BRIN Syaiful Bakhri menerangkan, risiko kesehatan dari paparan Cs-137 terbagi menjadi efek stokastik dan efek deterministik. Efek stokastik disebabkan oleh paparan yang berlangsung lam. “Akan menyebabkan gejala di masa mendatang, seperti kanker,” ujarnya kepada Hypeabis.id, Senin (13/10/2025).
Sedangkan untuk deterministik, disebabkan paparan Cs-137 berlangsung singkat dengan dosis tinggi, biasanya lebih 1 Gray (Gy). Pada kondisi ini, mengakibatkan gejala langsung seperti dermatitis dan mual.
Syaiful menyebut, secara umum, Cs-137 memiliki cencern pada paparan external dibandingkan internal. Sifat zatradioaktif ini sangat mudah larut dalam air, sama seperti Kalium yang dapat mudah ditemukan pada rantai makanan. Adapun bila sudah berbetuk partikulat, Cs-137 bisa terbawa angin.
Menurutnya, setiap mineral mempunyai pontensi berbahaya pada manusia jika melebihi kadar tertentu. Cs-137 akan terakumulasi ke seluruh tubuh terutama pada otot manusia. Nah, batas aman Cs-137 pada produk makanan pada umumnya sebesar 1200 becquerel per kilogram (Bq/kg).
Berkaca pada kasus paparan radioaktif Cs-137 di Kawasan Industri Modern Cikande, Kabupaten Serang, Jawa Barat, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan masyarakat. Syaiful menyebut, bagi yang berada di wilayah yang terpapar radiasi, hal paling dasar adalah segera menjauh dari paparan.
Segera dekontaminasi tubuh dengan mandi dan mengganti pakaian untuk menghindari terpapar kembali. “Waktu paruh biologis Cs-137 pada manusia adalah sekitar 70 hingga 110 hari, yang berarti separuh Cs-137 dalam tubuh dieliminasi selama periode ini,” terang Syaiful.
Proses ini relatif cepat karena kelarutan cesium yang tinggi dalam cairan tubuh dan eliminasinya terutama melalui urin. Dia juga menyarankan perbanyak minum air putih dan susu yang sudah dipastikan bebas kontaminasi dan segera konsultasikan kepada dokter dan petugas lainnya.
Temuan kontaminasi zat radioaktif Cesium-137 (Cs-137) bermula pada ditolaknya produk udang beku asal Indonesia di sejumlah pelabuhan besar, termasuk Los Angeles, Houston, Savannah, dan Miami. Berdasarkan pemeriksaan Food and Drug Administration (FDA) serta Bea Cukai AS mendeteksi adanya kandungan radiasi pada kontainer udang pada Agustus 2025.
Kandungan Cs-137 pada udang beku itu tercatat berada di kisaran 60–114 becquerel per kilogram (Bq/kg). Angka tersebut sebetulnya masih jauh di bawah ambang batas yang ditetapkan, yakni 1.200 Bq/kg sesuai standar FDA dan 500 Bq/kg sesuai regulasi Indonesia.
Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) kemudian melakukan penelusuran di lapangan. Hasil investigasi membawa mereka ke Kawasan Industri Modern Cikande. Di tempat pengumpulan logam bekas, ditemukan material logam bekas (scrap metal) yang mengandung Cs-137 di beberapa titik sekitar kawasan industri.
Kementerian Lingkungan Hidup menyebut setidaknya ada 10 titik lokasi di Cikande yang tercemar Cs-137. Kontaminasi radiasi radioaktif ini belakangan diduga bersumber dari aktivitas pengolahan besi bekas (scrap metal) di PT Peter Metal Technology.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.