Kisah Produsen Pupuk Organik Asal Sragen yang Mendunia hingga Afrika
29 September 2025 |
22:00 WIB
Industri pupuk kerap dipandang sebelah mata, namun PT Turrima Agro Biotech berhasil membuktikan sebaliknya. Perusahaan agrobioteknologi asal Sragen, Jawa Tengah ini menjelma menjadi pemain global berkat riset pupuk organik yang mampu mengembalikan kesuburan tanah sekaligus meningkatkan produktivitas pertanian.
Turrima dilahirkan oleh Mulyono di Sragen, Jawa Tengah pada tahun 1998, dengan satu keyakinan bahwa solusi pertanian yang sehat adalah kunci peradaban masa depan. “Dengan riset bioteknologi, kami mengembangkan pupuk organik yang tidak hanya mengembalikan kesuburan tanah, tetapi juga terbukti meningkatkan hasil panen,” tuturnya.
Inovasi Turrima kini telah menyeberang hingga Afrika. Di Kamerun, pupuk organik racikan Turrima terbukti meningkatkan produktivitas padi hingga 40 persen.
Baca Juga: Startup Mahasiswa RI Manfaatkan AI Buka Akses Informasi Ekonomi ke Investor Global
Keberhasilan ini bahkan mendapat pengakuan dari Menteri Pertanian dan Pengembangan Pedesaan Afrika Tengah, Gabriel Mbairobe, yang pada 2023 memberikan penghargaan resmi atas kontribusi Turrima dalam mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus meningkatkan kualitas tanah.
“Sekarang mereka sudah berhasil meningkatkan levelling off pada angka 2 serta meningkatkan capaian produksi padi sampai 40 persen. Dan karena kondisi ini, mereka sempat mengajak tamu dari World Bank untuk berkunjung ke pabrik kami di Sragen,” ungkap Mulyono.
Selain Afrika, produk Turrima juga sudah hadir di Kuwait dan Malaysia, serta sedang dalam proses ekspansi ke Singapura dan Thailand.
Meski banyak mengekspor produk ke berbagai negara, arah utama Turrima tetap berpijak pada ketahanan pangan nasional. “Global penting, tapi yang paling utama adalah memastikan rakyat Indonesia punya pangan sehat dan terjangkau,” katanya.
Tongkat estafet kini dipegang generasi kedua yakni Naufal Pahlevi yang memimpin riset dan pengembangan, serta Dzia Al Haq yang bertanggung jawab pada pemasaran internasional.
Dengan pendekatan edukasi, kedua anak Mulyono tersebut terus berupaya mendekatkan Turrima pada petani. “Kami ingin teknologi ini bisa dipahami dengan sederhana, dipakai dengan mudah, dan dirasakan manfaatnya langsung oleh petani. Organik itu bukan gaya hidup mahal, tetapi jalan keluar bagi masa depan pertanian,” jelas Naufal.
Sementara itu, Dzia menekankan visi jangka panjang perusahaan yang berfokus pada upaya menghidupkan kembali tanah tandus agar dunia lebih seimbang. Menurutnya, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pionir dalam diplomasi pangan global, dan Turrima berkomitmen mengambil bagian dalam misi tersebut.
Visi itu diwujudkan melalui kampanye “Greening the Desert”, yang menargetkan penghijauan lahan gersang, terutama di Afrika, dengan pendekatan bioteknologi ramah lingkungan.
“Kalau tanah tandus bisa kembali hidup, dunia akan lebih seimbang. Indonesia bisa menjadi pionir dalam diplomasi pangan global, dan kami ingin Turrima ikut terlibat dalam misi itu,” ujar Dzia.
Melalui inisiatif ini, Turrima ingin menunjukkan bahwa tanah kering dapat kembali subur, sehingga pangan tidak lagi menjadi isu geopolitik, melainkan hak universal umat manusia.
Turrima tidak hanya fokus mengekspor produk, tetapi juga menawarkan model kemandirian pangan berkelanjutan yang bisa diterapkan di mana saja, mulai dari desa di Jawa hingga padang pasir Afrika.
Meski fokus bisnisnya kuat, Turrima tetap menyisipkan nilai kebangsaan dalam gerakannya . Melalui peluncuran kampanye “Feeding the World, Saving the Earth” akhir pekan lalu, perusahaan menegaskan bahwa bela negara hari ini tidak hanya di medan perang, tetapi juga dari sawah melalui katahanan pangan.
“Patriotisme sejati hari ini ada di ladang dan sawah. Dengan pupuk organik, kita bukan hanya membantu petani, tetapi juga menjaga negeri ini dari ketergantungan,” tegas Mulyono.
Dalam kegiatan tersebut, Turrima menggandeng komunitas MMC (Masyarakat Tanpa Riba Miliarder Club) serta mendapat dukungan simbolis dari jajaran TNI dan Polri. Kehadiran Staf Khusus KSAD Brigjen Khairul Anwar Mandiling dan Brigjen Iwan Bambang Setiawan, bersama sejumlah perwira lainnya, menandai sinergi sipil–militer dalam menjaga bangsa.
“Ekonomi kuat, negara kuat. Bela negara hari ini adalah menjaga tanah, pangan, dan masa depan,” ujar Brigjen Khaerul di hadapan ratusan peserta.
Baca Juga: Perjalanan Startup Ringkas Sampai Masuk Daftar Forbes Asia 100 to Watch 2025
Turrima dilahirkan oleh Mulyono di Sragen, Jawa Tengah pada tahun 1998, dengan satu keyakinan bahwa solusi pertanian yang sehat adalah kunci peradaban masa depan. “Dengan riset bioteknologi, kami mengembangkan pupuk organik yang tidak hanya mengembalikan kesuburan tanah, tetapi juga terbukti meningkatkan hasil panen,” tuturnya.
Inovasi Turrima kini telah menyeberang hingga Afrika. Di Kamerun, pupuk organik racikan Turrima terbukti meningkatkan produktivitas padi hingga 40 persen.
Baca Juga: Startup Mahasiswa RI Manfaatkan AI Buka Akses Informasi Ekonomi ke Investor Global
Keberhasilan ini bahkan mendapat pengakuan dari Menteri Pertanian dan Pengembangan Pedesaan Afrika Tengah, Gabriel Mbairobe, yang pada 2023 memberikan penghargaan resmi atas kontribusi Turrima dalam mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus meningkatkan kualitas tanah.
“Sekarang mereka sudah berhasil meningkatkan levelling off pada angka 2 serta meningkatkan capaian produksi padi sampai 40 persen. Dan karena kondisi ini, mereka sempat mengajak tamu dari World Bank untuk berkunjung ke pabrik kami di Sragen,” ungkap Mulyono.
Selain Afrika, produk Turrima juga sudah hadir di Kuwait dan Malaysia, serta sedang dalam proses ekspansi ke Singapura dan Thailand.
Meski banyak mengekspor produk ke berbagai negara, arah utama Turrima tetap berpijak pada ketahanan pangan nasional. “Global penting, tapi yang paling utama adalah memastikan rakyat Indonesia punya pangan sehat dan terjangkau,” katanya.
Tongkat estafet kini dipegang generasi kedua yakni Naufal Pahlevi yang memimpin riset dan pengembangan, serta Dzia Al Haq yang bertanggung jawab pada pemasaran internasional.
Dengan pendekatan edukasi, kedua anak Mulyono tersebut terus berupaya mendekatkan Turrima pada petani. “Kami ingin teknologi ini bisa dipahami dengan sederhana, dipakai dengan mudah, dan dirasakan manfaatnya langsung oleh petani. Organik itu bukan gaya hidup mahal, tetapi jalan keluar bagi masa depan pertanian,” jelas Naufal.
Sementara itu, Dzia menekankan visi jangka panjang perusahaan yang berfokus pada upaya menghidupkan kembali tanah tandus agar dunia lebih seimbang. Menurutnya, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pionir dalam diplomasi pangan global, dan Turrima berkomitmen mengambil bagian dalam misi tersebut.
Visi itu diwujudkan melalui kampanye “Greening the Desert”, yang menargetkan penghijauan lahan gersang, terutama di Afrika, dengan pendekatan bioteknologi ramah lingkungan.
“Kalau tanah tandus bisa kembali hidup, dunia akan lebih seimbang. Indonesia bisa menjadi pionir dalam diplomasi pangan global, dan kami ingin Turrima ikut terlibat dalam misi itu,” ujar Dzia.
Melalui inisiatif ini, Turrima ingin menunjukkan bahwa tanah kering dapat kembali subur, sehingga pangan tidak lagi menjadi isu geopolitik, melainkan hak universal umat manusia.
Turrima tidak hanya fokus mengekspor produk, tetapi juga menawarkan model kemandirian pangan berkelanjutan yang bisa diterapkan di mana saja, mulai dari desa di Jawa hingga padang pasir Afrika.
Meski fokus bisnisnya kuat, Turrima tetap menyisipkan nilai kebangsaan dalam gerakannya . Melalui peluncuran kampanye “Feeding the World, Saving the Earth” akhir pekan lalu, perusahaan menegaskan bahwa bela negara hari ini tidak hanya di medan perang, tetapi juga dari sawah melalui katahanan pangan.

Sumber Gambar: Turrima
“Patriotisme sejati hari ini ada di ladang dan sawah. Dengan pupuk organik, kita bukan hanya membantu petani, tetapi juga menjaga negeri ini dari ketergantungan,” tegas Mulyono.
Dalam kegiatan tersebut, Turrima menggandeng komunitas MMC (Masyarakat Tanpa Riba Miliarder Club) serta mendapat dukungan simbolis dari jajaran TNI dan Polri. Kehadiran Staf Khusus KSAD Brigjen Khairul Anwar Mandiling dan Brigjen Iwan Bambang Setiawan, bersama sejumlah perwira lainnya, menandai sinergi sipil–militer dalam menjaga bangsa.
“Ekonomi kuat, negara kuat. Bela negara hari ini adalah menjaga tanah, pangan, dan masa depan,” ujar Brigjen Khaerul di hadapan ratusan peserta.
Baca Juga: Perjalanan Startup Ringkas Sampai Masuk Daftar Forbes Asia 100 to Watch 2025
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.