Hari Sarjana Nasional, Menilik Data & Kondisi Lulusan Perguruan Tinggi di Indonesia
29 September 2025 |
08:01 WIB
Tanggal 29 September diperingati sebagai Hari Sarjana Nasional di Indonesia. Momentum ini dibuat untuk menghargai insan bangsa yang sedang berjuang maupun berhasil meraih gelar sarjana, serta menjadi pengingat pentingnya pendidikan tinggi dalam mencetak generasi yang berdaya saing dan berkontribusi bagi pembangunan bangsa.
Hari Sarjana Nasional diketahui pertama kali digaungkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada 29 September 2014. Sejak saat itu, peringatan ini terus dilakukan setiap tahun pada tanggal yang sama.
Adapun, 29 September dipilih merujuk pada tanggal kelahiran Raden Mas Panji Sosrokartono, orang Indonesia pertama yang berhasil meraih gelar sarjana. Sosrokartono merupakan kakak kandung Pahlawan Nasional Raden Ajeng Kartini.
Dia berhasil menyelesaikan studinya di Polytechnische School di Belanda dengan Jurusan Teknik Sipil pada 1899, serta berhasil menguasai 17 Bahasa Asing. Prestasi ini pun dianggap menjadi tonggak awal lahirnya kaum intelektual modern Indonesia. Kepribadiannya yang selalu bekerja keras dan haus pengetahuan diharapkan dapat menginspirasi para calon sarjana di Indonesia.
Baca juga: Cek 10 Pekerjaan dengan Pertumbuhan Tercepat untuk Lulusan Sarjana Menurut LinkedIn
Hari Sarjana Nasional bukan sekadar simbol pencapaian akademik, melainkan juga menjadi pengingat akan pentingnya pendidikan sekaligus mendorong semangat belajar sepanjang hayat. Peringatan ini mengingatkan masyarakat tentang peran strategis pendidikan tinggi dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Namun, capaian pendidikan tinggi masyarakat Indonesia belum mencapai angka yang menggembirakan. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, mayoritas penduduk Indonesia yang berusia di atas 15 tahun memiliki ijazah SMA atau sederajat, tepatnya sekitar 30,85 persen.
Hanya 10,2 persen dari penduduk Indonesia yang menyelesaikan pendidikan di tahap perguruan tinggi. Kebanyakan penduduk Indonesia berusia di atas usia 15 tahun hanya mengantongi ijazah SD dan SMP, yang mana persentase masing-masing 24,72 persen untuk tingkat SD dan 22,79 persen untuk tingkat SMP.
Sementara itu, menurut Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), jumlah lulusan perguruan tinggi di Indonesia terendah kedua di dunia dari 48 negara yang menjadi mitra OECD.
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan pada 2022, Indonesia berada di posisi terendah kedua untuk jumlah lulusan perguruan tinggi yakni hanya 17,93 persen dari populasi berusia 25-34 tahun. Adapun, negara dengan lulusan perguruan tinggi terendah yakni Afrika Selatan dengan persentase 13,11 persen.
Masih dalam data yang sama, negara dengan jumlah lulusan perguruan tinggi terbanyak adalah Korea Selatan. Sebanyak 69 persen penduduk dengan kelompok usia 25-35 tahun di Korea Selatan memiliki gelar perguruan tinggi. Posisinya diikuti Kanada dengan 66,97 persen dan Jepang 65,68 persen.
Menurut OECD, pencapaian pendidikan tidak hanya mempengaruhi prospek pekerjaan, tetapi juga tingkat upah. Dilaporkan rata-rata di seluruh negara-mitra OECD, pekerja berusia 25-64 tahun dengan pendidikan tinggi memperoleh penghasilan sekitar dua kali lipat dibandingkan dengan dengan orang dengan pendidikan menengah.
Meski demikian, kenyataannya masih banyak lulusan sarjana yang menjadi pengangguran di Indonesia. Kementerian Ketenagakerjaan RI mencatat jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 7,28 juta orang per Februari 2025. Dari jumlah tersebut, ada 1,01 juta lulusan universitas.
Data dari BPS itu menunjukkan tingkat pengangguran di Indonesia per Februari tahun ini mencapai 4,76 persen dari angkatan kerja Indonesia. Berdasarkan status pendidikannya, jumlah pengangguran paling banyak berasal dari masyarakat lulusan pendidikan SD dan SMP yakni 2,42 juta orang.
Di posisi kedua, ada lulusan SMA pengangguran sebanyak 2,04 juta orang, diikuti lulusan SMK sebanyak 1,63 juta orang, 1,01 juta orang merupakan lulusan universitas, dan 177.390 orang yang menganggur adalah lulusan diploma.
Kondisi ini mencerminkan bahwa peluang kerja bagi lulusan perguruan tinggi belum sebanding dengan jumlah lulusan yang dihasilkan tiap tahunnya. Fenomena ini menjadi pengingat bahwa tantangan dunia kerja saat ini semakin kompleks. Tidak hanya soal ijazah, tetapi juga tentang keterampilan, relevansi kompetensi, dan kesiapan menghadapi kebutuhan industri yang terus berubah.
Baca juga: Menengok Arah Perkembangan Pendidikan Pascasarjana di Indonesia
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Hari Sarjana Nasional diketahui pertama kali digaungkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada 29 September 2014. Sejak saat itu, peringatan ini terus dilakukan setiap tahun pada tanggal yang sama.
Adapun, 29 September dipilih merujuk pada tanggal kelahiran Raden Mas Panji Sosrokartono, orang Indonesia pertama yang berhasil meraih gelar sarjana. Sosrokartono merupakan kakak kandung Pahlawan Nasional Raden Ajeng Kartini.
Dia berhasil menyelesaikan studinya di Polytechnische School di Belanda dengan Jurusan Teknik Sipil pada 1899, serta berhasil menguasai 17 Bahasa Asing. Prestasi ini pun dianggap menjadi tonggak awal lahirnya kaum intelektual modern Indonesia. Kepribadiannya yang selalu bekerja keras dan haus pengetahuan diharapkan dapat menginspirasi para calon sarjana di Indonesia.
Baca juga: Cek 10 Pekerjaan dengan Pertumbuhan Tercepat untuk Lulusan Sarjana Menurut LinkedIn
Hari Sarjana Nasional bukan sekadar simbol pencapaian akademik, melainkan juga menjadi pengingat akan pentingnya pendidikan sekaligus mendorong semangat belajar sepanjang hayat. Peringatan ini mengingatkan masyarakat tentang peran strategis pendidikan tinggi dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Namun, capaian pendidikan tinggi masyarakat Indonesia belum mencapai angka yang menggembirakan. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, mayoritas penduduk Indonesia yang berusia di atas 15 tahun memiliki ijazah SMA atau sederajat, tepatnya sekitar 30,85 persen.
Hanya 10,2 persen dari penduduk Indonesia yang menyelesaikan pendidikan di tahap perguruan tinggi. Kebanyakan penduduk Indonesia berusia di atas usia 15 tahun hanya mengantongi ijazah SD dan SMP, yang mana persentase masing-masing 24,72 persen untuk tingkat SD dan 22,79 persen untuk tingkat SMP.
Sementara itu, menurut Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), jumlah lulusan perguruan tinggi di Indonesia terendah kedua di dunia dari 48 negara yang menjadi mitra OECD.
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan pada 2022, Indonesia berada di posisi terendah kedua untuk jumlah lulusan perguruan tinggi yakni hanya 17,93 persen dari populasi berusia 25-34 tahun. Adapun, negara dengan lulusan perguruan tinggi terendah yakni Afrika Selatan dengan persentase 13,11 persen.
Masih dalam data yang sama, negara dengan jumlah lulusan perguruan tinggi terbanyak adalah Korea Selatan. Sebanyak 69 persen penduduk dengan kelompok usia 25-35 tahun di Korea Selatan memiliki gelar perguruan tinggi. Posisinya diikuti Kanada dengan 66,97 persen dan Jepang 65,68 persen.
Menurut OECD, pencapaian pendidikan tidak hanya mempengaruhi prospek pekerjaan, tetapi juga tingkat upah. Dilaporkan rata-rata di seluruh negara-mitra OECD, pekerja berusia 25-64 tahun dengan pendidikan tinggi memperoleh penghasilan sekitar dua kali lipat dibandingkan dengan dengan orang dengan pendidikan menengah.
Masih Banyak Sarjana Pengangguran
Meski demikian, kenyataannya masih banyak lulusan sarjana yang menjadi pengangguran di Indonesia. Kementerian Ketenagakerjaan RI mencatat jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 7,28 juta orang per Februari 2025. Dari jumlah tersebut, ada 1,01 juta lulusan universitas.Data dari BPS itu menunjukkan tingkat pengangguran di Indonesia per Februari tahun ini mencapai 4,76 persen dari angkatan kerja Indonesia. Berdasarkan status pendidikannya, jumlah pengangguran paling banyak berasal dari masyarakat lulusan pendidikan SD dan SMP yakni 2,42 juta orang.
Di posisi kedua, ada lulusan SMA pengangguran sebanyak 2,04 juta orang, diikuti lulusan SMK sebanyak 1,63 juta orang, 1,01 juta orang merupakan lulusan universitas, dan 177.390 orang yang menganggur adalah lulusan diploma.
Kondisi ini mencerminkan bahwa peluang kerja bagi lulusan perguruan tinggi belum sebanding dengan jumlah lulusan yang dihasilkan tiap tahunnya. Fenomena ini menjadi pengingat bahwa tantangan dunia kerja saat ini semakin kompleks. Tidak hanya soal ijazah, tetapi juga tentang keterampilan, relevansi kompetensi, dan kesiapan menghadapi kebutuhan industri yang terus berubah.
Baca juga: Menengok Arah Perkembangan Pendidikan Pascasarjana di Indonesia
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.