Obesitas Itu Penyakit Kronis, Bukan Cuma Soal Badan Gemuk
24 September 2025 |
18:01 WIB
Selama ini obesitas mungkin dianggap sebatas berubahnya bentuk tubuh yang menggemuk. Padahal, obesitas dapat menjadi pemicu terjadinya penyakit-penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, jantung koroner, hingga kanker. Hal ini membuat obesitas dijuluki sebagai "mother of disease" alias induk dari segala penyakit.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Endokrin Metabolik Diabetes, Wismandari Wisnu, menegaskan obesitas bukan penyakit yang hanya berkaitan dengan estetika yang ditandai perubahan bentuk badan seseorang, melainkan penyakit kronik alias berlangsung dalam kurun waktu yang lama atau terjadi secara perlahan-lahan.
Baca juga: 5 Temuan Program PKG: Obesitas Sentral hingga Penyakit Gula Membayangi Masyarakat
Baca juga: 5 Temuan Program PKG: Obesitas Sentral hingga Penyakit Gula Membayangi Masyarakat
Menurutnya, penderita obesitas selama ini acapkali hanya dipandang memiliki masalah dari sisi berat badannya saja, sehingga pengobatannya pun sebatas difokuskan untuk menurunkan berat badan. Padahal, seharusnya dilakukan pengecekan dan evaluasi secara menyeluruh terhadap penderita obesitas untuk mencegah potensi penyakit penyerta yang ditimbulkan dari kelebihan berat badan.
"Jadi kalau ini [obesitas] suatu penyakit, ya tata laksana pengobatannya harus sesuai. Jadikan orang yang menderita obesitas sebagai orang yang punya penyakit, walaupun saat itu dia belum ada penyakit penyertanya," terangnya dalam acara forum Bahas Tuntas Obesitas di Jakarta, Rabu (24/9/2025).
Mengutip dari laman Kementerian Kesehatan (Kemkes) RI, obesitas adalah kondisi tidak seimbangnya asupan energi (energy intake) dengan energi yang digunakan (energy expenditure), ditandai dengan adanya penumpukkan lemak yang tidak normal pada tubuh.
Mengutip dari laman Kementerian Kesehatan (Kemkes) RI, obesitas adalah kondisi tidak seimbangnya asupan energi (energy intake) dengan energi yang digunakan (energy expenditure), ditandai dengan adanya penumpukkan lemak yang tidak normal pada tubuh.
Menurut laporan terbaru World Obesity Atlas 2025, sekitar 13 persen orang dewasa di Indonesia mengalami obesitas. Sementara itu, Survei Kesehatan Indonesia 2023 dari Kemkes mencatat peningkatan prevalensi obesitas di Indonesia, yakni dari 10,5 persen pada 2007 menjadi 21,8 persen pada 2018, dan melonjak lagi menjadi 23,4 persen pada 2023.
Sementara itu, secara global, lebih dari 880 juta orang dewasa hidup dengan obesitas dan 2,5 miliar orang mengalami kelebihan berat badan, menurut laporan GDB 2022 Obesity Collaborators. Adapun, penyakit tidak menular termasuk diabetes, jantung, kanker dan gangguan pernapasan, menyebabkan 75 persen dari seluruh kematian di dunia dengan obesitas sebagai salah satu faktor risiko utamanya.
Alasan Obesitas disebut sebagai "Mother of Disease"
Banyak yang masih beranggapan obesitas terjadi semata akibat kurangnya kemauan dan disiplin yang lemah dalam mengatur pola makan yang baik, atau suatu kondisi yang bisa diatasi hanya dengan diet dan olahraga. Padahal, obesitas adalah penyakit kronis yang dibentuk oleh jalur hormonal, metabolik dan neurologis yang kompleks.
Faktor gaya hidup seperti pola makan dan aktivitas fisik memang berperan, tetapi sains menunjukkan kondisinya jauh melampaui pilihan individu. Mekanisme biologis yang mengatur nafsu makan, keseimbangan energi dan cara tubuh menyimpan lemak membuat obesitas sulit dikendalikan hanya dengan "niat kuat".
Hal ini lah yang menjadi latar belakang mengapa obesitas sangat meningkatkan risiko penyakit-penyakit kronis seperti hipertensi, sleep apnea, kanker, dan gangguan muskuloskeletal. Oleh karena itu, mengakui obesitas sebagai penyakit menjadi kunci untuk mendorong pencegahan berbasis bukti, intervensi dini, dan perawatan jangka panjang yang efektif.
Hal ini lah yang menjadi latar belakang mengapa obesitas sangat meningkatkan risiko penyakit-penyakit kronis seperti hipertensi, sleep apnea, kanker, dan gangguan muskuloskeletal. Oleh karena itu, mengakui obesitas sebagai penyakit menjadi kunci untuk mendorong pencegahan berbasis bukti, intervensi dini, dan perawatan jangka panjang yang efektif.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Farid Kurniawan menjelaskan penumpukan jaringan lemak berlebih yang dialami penderita obesitas dapat menghasilkan zat-zat dalam jumlah yang banyak dalam tubuh, sehingga berisiko menyebabkan peningkatan inflamasi atau peradangan dalam tubuh.
Dalam jangka panjang, peradangan tersebut akan menyebabkan kondisi resistensi insulin, kondisi ketika sel-sel tubuh tidak dapat menggunakan gula darah dengan baik akibat adanya gangguan dalam merespons insulin. Kondisi ini lah yang menjadi pemicu terjadinya sejumlah penyakit kronis.
"Resistensi insulin ini nantinya menjadi pangkal untuk menyebabkan terjadinya diabetes, kemudian penyakit jantung dan pembuluh darah, dislipidemia atau gangguan lipid [lemak] dalam tubuh, bahkan juga terkait dengan peningkatan produksi hormon yang IGF-1 yang kalau terlalu tinggi itu nanti terkait kejadian kanker yang meningkat," paparnya.
Wismandari menambahkan lantaran besarnya risiko penyakit obesitas, penting bagi masyarakat untuk bisa lebih sadar terhadap kondisi tubuhnya. Sebab, menurutnya, banyak masyarakat yang masih belum sadar bahwa mereka menderita obesitas. Kebanyakan orang biasanya akan memeriksakan diri ke dokter ketika sudah menderita penyakit penyertanya seperti diabetes, kolesterol tinggi, hipertensi, atau pengapuran tulang.
Wismandari menambahkan lantaran besarnya risiko penyakit obesitas, penting bagi masyarakat untuk bisa lebih sadar terhadap kondisi tubuhnya. Sebab, menurutnya, banyak masyarakat yang masih belum sadar bahwa mereka menderita obesitas. Kebanyakan orang biasanya akan memeriksakan diri ke dokter ketika sudah menderita penyakit penyertanya seperti diabetes, kolesterol tinggi, hipertensi, atau pengapuran tulang.
Berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT), seseorang akan dikatakan terlalu gemuk atau obesitas apabila skala IMT-nya lebih dari 27. Di sisi lain, indikatornya juga bisa dilihat dari ukuran lingkar perut. Bagi perempuan, tergolong obesitas jika berlingkar perut sama dengan atau lebih dari 80 cm, sedangkan untuk pria sama dengan atau lebih dari 90 cm.
"Yuk datang ke dokter. Jangan sampai periksanya sudah dengan diabetes. Jadi kewaspadaan itu harus ditekankan dari kita semua bahwa obesitas itu tidak hanya masalah estetika atau kecantikan saja, tapi juga masalah kesehatan yang jauh lebih serius bahkan bisa mengancam nyawa orang," tegasnya.
Baca juga: Bisa Jadi Bom Waktu, Begini 5 Cara Mudah Mencegah Obesitas Pada Anak
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Baca juga: Bisa Jadi Bom Waktu, Begini 5 Cara Mudah Mencegah Obesitas Pada Anak
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.