Lika Liku Joyland, Begini Cerita di Balik Munculnya Joyland Sessions 2025
21 September 2025 |
14:50 WIB
1
Like
Like
Like
Promotor Plainsong Live sejatinya telah mengumumkan bahwa festival musik tahunannya, Joyland Festival, batal digelar tahun ini. Namun, belakangan mereka berubah pikiran. Salah satu festival musik besar di Indonesia ini akhirnya akan tetap digelar, tetapi dengan format baru dengan nama Joyland Sessions 2025.
Co-Founder Plain Song Live Ferry Dermawan mengatakan penyelenggaraan konser musik pada 2025 dihadapkan pada banyak dinamika. Joyland Festival 2025 yang sudah mulai menjual tiket sejak Maret, akhirnya harus diumumkan batal digelar pada Agustus lalu karena kondisi yang tidak lagi memungkinkan.
Baca juga: Joyland Festival 2025 Batal Digelar, Begini Cara Refund Tiketnya
Setelah pengumuman pembatalan, Ferry segera membuka opsi refund dan secara bertahap mengembalikan tiket kepada para penonton. Namun, diakuinya, keputusan tersebut juga membuatnya banyak merenung dan mempertimbangkan arah langkah ke depan.
Terlebih, di satu sisi, festival memang perlu jeda dan beristirahat tahun ini demi tetap menjaga kualitas. Akan tetapi, di sisi lain, banyak penggemar yang menyayangkan pembatalan tersebut karena mereka telah menantikan festival dengan penuh antusias.
"Setelah announce itu, jujur saya juga jadi mikir ulang. Apa ya yang bisa tetap kita lakuin. Artis-artis internasional itu juga sudah kadung kontrak. Saya pikir akan sangat rumit kalau untuk reschedule dan belum tentu juga bisa kejadian lagi tahun depan. Kan mereka harus memutuskan tour dulu ke Asia untuk bisa mampir ke Indonesia," ungkap Ferry kepada Hypeabis.id.
Setelah melalui berbagai pertimbangan, pihaknya akhirnya memutuskan untuk tetap menggelar Joyland, tetapi kini dengan format yang berbeda. Perubahan format ini dinilainya menjadi pilihan yang realistis, baik dari sisi biaya maupun ketersediaan waktu untuk persiapan penyelenggaraan.
Dari keputusan tersebut, lahir Joyland Sessions. Ferry menjelaskan bahwa konsepnya masih sejalan dengan Joyland Festival, hanya ini dikemas dalam bentuk yang lebih ringkas atau bisa dibilang versi compact-nya.
"Sebenarnya, market-nya kan tetap orang-orang Joyland. Cuman ekspektasi terhadap skala aja yang harus disesuaikan. Ini bukan seperti Joyland yang biasa kayak edisi sebelum-sebelumnya. Dari hari saja, kalau yang biasa 3 hari, dalam format yang baru ini kita hanya 2 hari," imbuhnya.
Ferry menjelaskan bahwa dari sisi program, Joyland Sessions hadir dalam skala lebih ramping. Segmen komedi dan film yang biasanya berjalan beriringan kini ditiadakan, sementara jumlah panggung musik yang semula tiga, sekarang hanya menjadi satu panggung saja.
Dirinya tak menampik, penggunaan nama Joyland mungkin membuat sebagian penonton berekspektasi sama seperti edisi-edisi sebelumnya. Dia menegaskan bahwa secara kurasi dan kualitas musik tentu akan tetap dijaga. Namun, memang beberapa program non musik ditiadakan dalam format ini.
"Secara kurasi musisi juga enggak ada yang beda sih. Cuma karena slotnya terbatas dengan hanya satu panggung, jadi secara penampilan pun menyesuaikan. Kayaknya, sehari 7 slot deh," jelasnya.
Ketika ditanya apakah Joyland Sessions akan menjadi side event tetap atau hanya digelar secara situasional, Ferry mengaku belum bisa memberikan jawaban pasti. Menurutnya, konsep ini masih sebatas eksplorasi dari kondisi yang ada, termasuk keterbatasan yang dihadapi dalam penyelenggaraan festival tahun ini.
Menurutnya, jika format Joyland Sessions terbukti berhasil, keputusan ke depan akan lebih mudah diambil. Bisa saja konsep ini digelar di kota lain, atau bahkan diadakan dua kali setahun sebagai rangkaian pra-acara sebelum menuju pesta utamanya, Joyland Festival. Semua kemungkinan tersebut, kata Ferry, masih sangat terbuka dan bergantung pada hasil penyelenggaraan pertama ini.
Ferry juga menekankan bahwa meski persiapan festival dilakukan dalam waktu yang singkat, sejauh ini semuanya berjalan cukup lancar. Dengan pengumuman acara pada September dan pelaksanaan pada November, sejak awal dia sudah merancang konsep yang fleksibel sehingga seluruh proses persiapan dapat dikelola dengan baik.
"Approach-nya buat kami itu kayak bikin konser tunggal aja. Jadi, lebih simple gitu. Sejauh ini, persiapan venue sudah. Urusan produksi juga sudah terukur dan tinggal eksekusi. Lineup juga kan sudah bungkus. Apa yang tayang di poster hanya ada mereka. Sama paling ya tinggal sembari berhubungan dengan potensial sponsor," tuturnya.
Joyland Sessions dijadwalkan berlangsung di Senayan, Jakarta Pusat, pada 29–30 November 2025. Deretan musisi internasional yang akan tampil antara lain TV Girl, L’Impératrice, The Pains of Being Pure at Heart, Soccer Mommy, Luna Li, serta Oddisee & Good Compny.
Sementara dari Indonesia, jajaran penampil mencakup Ali, Bernadya, Galdive, Jirapah, Reality Club, The Cottons, dan Thee Marloes. Tiket untuk dua hari acara dipatok seharga Rp1.088.000, belum termasuk pajak dan biaya administrasi.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Co-Founder Plain Song Live Ferry Dermawan mengatakan penyelenggaraan konser musik pada 2025 dihadapkan pada banyak dinamika. Joyland Festival 2025 yang sudah mulai menjual tiket sejak Maret, akhirnya harus diumumkan batal digelar pada Agustus lalu karena kondisi yang tidak lagi memungkinkan.
Baca juga: Joyland Festival 2025 Batal Digelar, Begini Cara Refund Tiketnya
Setelah pengumuman pembatalan, Ferry segera membuka opsi refund dan secara bertahap mengembalikan tiket kepada para penonton. Namun, diakuinya, keputusan tersebut juga membuatnya banyak merenung dan mempertimbangkan arah langkah ke depan.
Terlebih, di satu sisi, festival memang perlu jeda dan beristirahat tahun ini demi tetap menjaga kualitas. Akan tetapi, di sisi lain, banyak penggemar yang menyayangkan pembatalan tersebut karena mereka telah menantikan festival dengan penuh antusias.
"Setelah announce itu, jujur saya juga jadi mikir ulang. Apa ya yang bisa tetap kita lakuin. Artis-artis internasional itu juga sudah kadung kontrak. Saya pikir akan sangat rumit kalau untuk reschedule dan belum tentu juga bisa kejadian lagi tahun depan. Kan mereka harus memutuskan tour dulu ke Asia untuk bisa mampir ke Indonesia," ungkap Ferry kepada Hypeabis.id.
Setelah melalui berbagai pertimbangan, pihaknya akhirnya memutuskan untuk tetap menggelar Joyland, tetapi kini dengan format yang berbeda. Perubahan format ini dinilainya menjadi pilihan yang realistis, baik dari sisi biaya maupun ketersediaan waktu untuk persiapan penyelenggaraan.
Dari keputusan tersebut, lahir Joyland Sessions. Ferry menjelaskan bahwa konsepnya masih sejalan dengan Joyland Festival, hanya ini dikemas dalam bentuk yang lebih ringkas atau bisa dibilang versi compact-nya.
"Sebenarnya, market-nya kan tetap orang-orang Joyland. Cuman ekspektasi terhadap skala aja yang harus disesuaikan. Ini bukan seperti Joyland yang biasa kayak edisi sebelum-sebelumnya. Dari hari saja, kalau yang biasa 3 hari, dalam format yang baru ini kita hanya 2 hari," imbuhnya.
Ferry menjelaskan bahwa dari sisi program, Joyland Sessions hadir dalam skala lebih ramping. Segmen komedi dan film yang biasanya berjalan beriringan kini ditiadakan, sementara jumlah panggung musik yang semula tiga, sekarang hanya menjadi satu panggung saja.
Dirinya tak menampik, penggunaan nama Joyland mungkin membuat sebagian penonton berekspektasi sama seperti edisi-edisi sebelumnya. Dia menegaskan bahwa secara kurasi dan kualitas musik tentu akan tetap dijaga. Namun, memang beberapa program non musik ditiadakan dalam format ini.
"Secara kurasi musisi juga enggak ada yang beda sih. Cuma karena slotnya terbatas dengan hanya satu panggung, jadi secara penampilan pun menyesuaikan. Kayaknya, sehari 7 slot deh," jelasnya.
Ketika ditanya apakah Joyland Sessions akan menjadi side event tetap atau hanya digelar secara situasional, Ferry mengaku belum bisa memberikan jawaban pasti. Menurutnya, konsep ini masih sebatas eksplorasi dari kondisi yang ada, termasuk keterbatasan yang dihadapi dalam penyelenggaraan festival tahun ini.
Menurutnya, jika format Joyland Sessions terbukti berhasil, keputusan ke depan akan lebih mudah diambil. Bisa saja konsep ini digelar di kota lain, atau bahkan diadakan dua kali setahun sebagai rangkaian pra-acara sebelum menuju pesta utamanya, Joyland Festival. Semua kemungkinan tersebut, kata Ferry, masih sangat terbuka dan bergantung pada hasil penyelenggaraan pertama ini.
Ferry juga menekankan bahwa meski persiapan festival dilakukan dalam waktu yang singkat, sejauh ini semuanya berjalan cukup lancar. Dengan pengumuman acara pada September dan pelaksanaan pada November, sejak awal dia sudah merancang konsep yang fleksibel sehingga seluruh proses persiapan dapat dikelola dengan baik.
"Approach-nya buat kami itu kayak bikin konser tunggal aja. Jadi, lebih simple gitu. Sejauh ini, persiapan venue sudah. Urusan produksi juga sudah terukur dan tinggal eksekusi. Lineup juga kan sudah bungkus. Apa yang tayang di poster hanya ada mereka. Sama paling ya tinggal sembari berhubungan dengan potensial sponsor," tuturnya.
Joyland Sessions dijadwalkan berlangsung di Senayan, Jakarta Pusat, pada 29–30 November 2025. Deretan musisi internasional yang akan tampil antara lain TV Girl, L’Impératrice, The Pains of Being Pure at Heart, Soccer Mommy, Luna Li, serta Oddisee & Good Compny.
Sementara dari Indonesia, jajaran penampil mencakup Ali, Bernadya, Galdive, Jirapah, Reality Club, The Cottons, dan Thee Marloes. Tiket untuk dua hari acara dipatok seharga Rp1.088.000, belum termasuk pajak dan biaya administrasi.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.